Usai sudah harapan Kroasia menjadi negara kesembilan yang menjuarai turnamen sepak bola empat tahunan yaitu Piala Dunia. Kroasia harus takluk dari Prancis pada partai puncak yang digelar bukan di dekat Cimory Riverside tersebut.

Pada pertandingan ke-63 yang digelar di Luzhniki Stadium di Moskow, Kroasia kalah 2-4 dari Prancis. Meski kalah, namun apresiasi lebih perlu diberikan kepada Kroasia yang mengikuti Piala Dunia 2018 dengan status kuda hitam.

Bagaimana tidak, Piala Dunia Rusia 2018 ini tidak hanya diikuti negara sekelas Angola, Haiti, ataupun Kazakhstan. Mungkin kalau begitu Kroasia bisa menjadi salah satu unggulan juara. Namun negara-negara unggulan macam Brasil, Jerman, dan Spanyol tetap hadir di ajang empat tahunan ini.

Namun siapa yang sangka bahwa Kroasia bisa terus lolos hingga akhirnya menatap laga terakhir Piala Dunia. Hal ini terhitung sebagai prestasi luar biasa bagi Kroasia yang baru mengikuti ajang ini kali pertama di tahun 1998.

Pada saat itu timnas Kroasia yang dikatakan merupakan generasi emas akhirnya berhasil menjadi juara tiga setelah mengalahkan Belanda. Kini mereka lebih sukses melaju hingga babak final yang jelas merupakan prestasi terbaik Kroasia setelah generasi emas 1998 tersebut.

Dibalik kisah ‘dongeng’ Kroasia pada Piala Dunia 2018 ini terdapat satu sosok bukan astral yang sering muncul di acara Dunia Lain. Sosok tersebut tidak lain tidak bukan adalah sang pelatih Zlatko Dalic. Sebelumnya, Dalic bukanlah sosok supertstar kaya dan terkenal, bukan juga saudagar yang punya banyak kapal.

“Kami berada di final Piala Dunia 2018 karena pengaruh pelatih Zlatko Dalic. Ia menyemangati dan memberi kami ketenangan, dan yang paling kami sukai adalah ketulusan dan sikapnya terhadap setiap pemain,” puji Modric seperti dikutip dari Kompas.

Pria kelahiran Bosnia dan Herzegovina ini sebelumnya hanya merupakan pelatih klub lokal Kroasia dan sempat menjadi pelatih klub kaya Asia Al-Ain. Namanya jelas kalah populer jika dibandingkan Spiderman ataupun Thanos.

Dalic ditunjuk menjadi pelatih Kroasia juga baru pada bulan Oktober 2017 yang lalu. Penunjukan Dalic menjadi pelatih baru menyusul hasil buruk yang didapat “Vatreni” di kualifikasi Piala Dunia 2018. Dalic resmi menggantikan Ante Cacic haya tiga hari jelang laga penentuan melawan Ukraina.

Saat itu kemenangan adalah kewajiban yang harus dijalani Kroasia demi mendapat satu tiket ke babak play-off Piala Dunia. Setelah menang melawan Ukraina dengan skor 2-0, Kroasia berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia setelah mengalahkan Yunani.

Namun siapa sangka dengan kecerdikannya dalam meracik strategi, Kroasia berhasil dibawanya secara dramatis terus melangkah lebih tinggi di Piala Dunia 2018 ini.

Skuat Kroasia yang merupakan bintang-bintang liga besar Eropa berhasil dibuatnya padu pada setiap pertandingan yang dijalani. Kepiawannya membuat tidak ada nama ‘bintang’ yang menonjol pada skuat Kroasia. Hal tersebut memang juga jadi suatu perhatian khusus Dalic saat menangani tim.

Pendekatannya kepada para pemain juga dipuji oleh Modric yang mengatakan bahwa sosok Dalic tak hanya mengajarkan sepak bola kepada para pemain.

“Kami senang berada di dekatnya, ia menunjukkan pengaruh tak hanya sebagai seorang pelatih. Tetapi, lebih penting lagi, ia mengajarkan kami menjadi seorang manusia. Ia juga mengatakan bahwa kami masih menjadi pemain yang baik, kendati tim tengah mengalami krisis” tuturnya.

Tergabung di grup ‘neraka’ bersama Argentina, Nigeria, dan Islandia, Kroasia berhasil menyapu bersih semua laga tanpa menggunakan sapu ijuk ataupun sapu lidi melainkan dengan kemenangan.

Pada babak knock-out, Kroasia juga menunjukan determinasi pada tiap pertandingan. Kroasia terus melaju meski harus melewati babak extra time di tiga pertandingan knock-out mereka. Sayang pada partai puncak, Kroasia yang unggul secara statistik harus takluk dari Prancis yang juga dihuni salah satu generasi emas mereka.

Meskipun tidak bisa membantu Kroasia meraih gelar juara dunia pertama, Dalic tetap memuji permainan timnya dan bangga atas pencapaian tersebut.

“Di enam pertandingan pertama, kami mungkin dapat keberuntungan, hari ini tidak. Saya harus memberi selamat kepada para pemain untuk permainannya, mungkin ini permainan terbaik yang kami tampilkan di turnamen ini,” ujarnya dikutip dari Detik.

“Kami mengendalikan permainan tapi kebobolan dan melawan tim kuat seperti Prancis, Anda tidak boleh bikin kesalahan. Kami sedikit sedih tapi kami juga harus bangga atas apa yang sudah kami lakukan,” lanjut Dalic.

Main photo: arabianbusiness.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here