JUARA DUNIA! Itulah Prancis yang bukan merupakan singkatan Prapatan Ciamis. Negara berpenduduk lebih dari 1.000 jiwa itu menobatkan diri sebagai juara dunia setelah menjuarai turnamen Piala Dunia 2018 di Rusia. Mungkin itu menjadi hari paling berbahagia bagi warganya.

Piala Dunia, yang merupakan trofi paling tinggi sejagad bumi berhasil mereka angkat setelah mampu mengalahkan Kroasia lewat sebuah pertandingan seru tercampur epic. Meski Prancis dan Kroasia sama-sama mencetak tiga gol, tapi skor berakhir 4-2 buat “Les Blues“. Kenapa bisa begitu? Timbul pertanyaan.

Usut punya usut, seorang pemain Kroasia mencetak gol ke gawangnya sendiri. Pria itu bernama Mario Mandzukic, pemain yang jadi pahlawan kemenangan Kroasia setelah mencetak gol penentu di semifinal lawan Inggris.

Pertandingan baru berjalan beberapa menit, si Mandzukic yang kalau jadi orang Betawi dipanggil Marzuki, membuat gol bunuh diri sepele. Berawal dari tendangan bebas Antoine Griezmann, bola disundul pakai ubun-ubunnya striker Juventus itu.

Nahas, bola sundulan ubun-ubunnya masuk ke gawang temannya sendiri yang sama-sama bisa berbahasa Kroasia. Danijel Subasic hanya bisa terpana, seolah di kakinya tertancap sebuah paku kuntilanak.

Kroasia yang main tanpa beban sebenarnya lebih bisa menguasai laga. Namun Prancisnya juga tampak begitu matang, punya mental juara. Jadinya mereka santai-santai saja diserang beberapa kali oleh “Vatreni“.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1018517270325325827

Tim berkostum kotak-kotak macam motif lap kompor dapur itu akhirnya bisa menyamai kedudukan di pertengahan babak pertama. Sama seperti Prancis, gol berawal dari tendangan bebas Luka Modric dari samping.

Terciptalah sundul-sundulan antar sesama pemain Kroasia. Dari Sime Vrsaljko, Mandzukic, berakhir di Domagoj Vida. Vida kontrol pakai kakinya lalu dioper ke Perisic. Lewat sebuah tekukan patah pinggang, dia melepaskan tendangan kaki kiri yang tak bisa dicegah Hugo Lloris.

Game on! Pertandingan seru kembali. Jual beli serangan dilakukan tanpa ada tawar-menawar. Sampai akhirnya Prancis unggul lagi lewat sebuah bantuan VAR.

Hasil tendangan sudut mampu diantisipasi oleh Perisic. Sayangnya, bola mengenai tangannya tipis sekali tapi tetap kelihatan. Wasit boleh tertipu, kamera jangan. Setelah melihat kamera VAR, wasit menunjuk titik putih. Apes benar Perisic, habis bikin gol tapi berikutnya menyebabkan penalti.

Antoine Griezmann yang makin hari makin terlihat ganteng kemudian melepaskan tendangan pelan saja ke sisi kiri. Sedangkan Subasic bergerak ke kanan, kena tipu akibat tidak beli di JDID.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1018492075929726981

Di babak kedua, Kroasia menguasai setengah lapangan. Prancis cuma menunggu saja, sambil curi-curi kesempatan kalau ada. Ternyata ada!

Aksi Kylian Mbappe di sisi kanan berujung pada Griezmann yang kemudian dioper lagi kepada Paul Pogba. Pogba melepaskan tendangan tapi bisa diblok Vida. Sayangnya bola balik lagi ke Pogba dan di-jebret untuk kedua kalinya.

Bola pun masuk meluncur ke gawang Subasic tanpa mengucapkan “Assalamualaikkum.” Subasic cuma bergerak sedikit saja, sedikit banget. Mungkin karena terhalang rekan-rekan di depannya.

Berselang empat menit, Kroasia benar-benar hancur lebur dijadikan bubur. Sebuah tendangan Mbappe dari luar kotak penalti menjadikan skor 4-1. Lagi-lagi Subasic cuma menonton saja, bergerak ala kadarnya, pelit banget. Ini Subasic dibayar apa tidak, jadi kiper kok malas-malasan begitu kayak lagi di rumah nenek.

Kroasia sempat punya asa ketika memperkecil ketinggalan jadi 4-2. Sebuah gol kocak yang epic banget mendadak muncul di final Piala Dunia. Lloris yang sok-sokan mau gocek Mandzukic, ternyata ke-gep sama si Mandzukic.

Bola gagal melewati Mandzukic, malah mengenai kakinya hampir sama kayak kejadian Karim Benzema dan Loris Karius. Mungkin karena ada kesamaan nama, sama-sama Loris. Jadinya tertular virus Karius kepada Lloris.

Bagi Mandzukic, dia jadi pemain pertama yang mampu bikin gol ke dua gawang berbeda. Gawang lawan sekaligus gawang sendiri. Lumayan, namanya masuk ke buku sejarah Piala Dunia.

Untung saja itu jadi gol terakhir di final Piala Dunia. Agak gimana gitu, gol terakhir di Piala Dunia 2018 tercipta oleh gol kocak bin lawakan dari Lloris. Mana dia kapten lagi. Untung saja tak ada gol lagi dari Kroasia, kalau ada dan kalah, bisa nangis nanah.

Skor 4-2 sudah cukup buat Prancis untuk menyegel gelar juara dunia. Memang sudah diduga sebelumnya karena timnya Didier Deschamps ini bermateri pemain-pemain kelas dunia. Mereka juga sudah jauh lebih matang ketimbang dua tahun lalu saat kalah di final Piala Eropa 2016.

Deschamps sendiri mengikuti jejak Franz Beckenbauer dan Mario Zagallo yang menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain dan pelatih. Tentunya jadi pemain dulu baru jadi pelatih. Rada aneh kalau juara jadi pelatih dulu, lalu jadi pemain kemudian.

“Betapa luar biasa! Ini sebuah tim muda yang berada di puncak dunia, beberapa di antaranya juara di usia 19 tahun. Tim ini layak buat juara. Selama 55 hari, kami sudah melakukan banyak pekerjaan. Ini penobatan tertinggi. Kami bangga menjadi orang Prancis, menjadi Blues. Kemenangan dalam pertandingan ini milik mereka, Vive le Republic!” kata Deschamps dikutip dari Republika. 

Sedangkan Kroasia, meski tak memenangkan piala tapi mereka sudah memenangkan hati warga sedunia. Bagaimana tidak, perjuangan Modric dan kawan-kawan patut dipuji setinggi langit.

Berstatus sebagai negara muda, permainan mereka tak kenal menyerah. Dari babak 16 besar selalu memainkan babak tambahan bahkan selalu tertinggal lebih dulu.

Di final mereka tak kelihatan lelah. Terus berjuang mati-matian sampai titik nadir. Penguasaan bola mampu mereka kuasai sampai 61%. Sayangnya memang ada yang harus kalah di laga ini.

“Kami bangkit dan mendominasi pertandingan saat 1-1. Tapi kemudian ada penalti yang menghancurkan semuanya. Kami sedikit sediht, tapi kami bangga atas apa yang kami raih,” kata pelatih Zlatko Dalic.

Selamat buat Prancis! Bangga untuk Kroasia!

Main photo: @GameYetu

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here