Napoli harus merelakan babak 16 besar Liga Champions kepada tim lain setelah pada laga terakhirnya menelan kekalahan dramatis di kandang Feyenoord. Tim asuhan Maurizio Sarri itu hanya kalah satu gol saja, 1-2, dari Feyenoord.

Ya biar cuma kalah satu gol atau 10 gol, intinya tetap saja kalah. Kepahitan itu harus dirasakan Napoli pada malam yang gelap itu.

Padahal, “I Partenopei” berhasil unggul duluan saat laga baru berjalan dua menit. Pantat suporter Feyenoord belum juga panas di bangkunya, tapi sudah ada gol saja.

Gol itu terjadi lewat sebuah kemelut di congor gawang Feyenoord yang dikawal kiper Kenneth Vermeer yang namanya kayak orang Belanda. Tendangan bebas Amadou Diawara sukses disundul Raul Albiol yang ditujukan kepada Dries Mertens.

Namun, sebelum bola sampai ke Mertens, Jens Toornstra berhasil memotongnya tanpa memakai pisau. Apes, bola potongan itu malah jatuh di kaki Piotr Zielinski. Tanpa ragu-ragu bak menjawab pertanyaan di acara ILC, Zielnski langsung menyikatnya. Takis!

Feyenoord yang bermain di depan masyarakatnya tak mau menyerah begitu saja. Hasilnya, 30 menit kemudian mereka sukses menyamakan kedudukan lewat sebuah sundulan keren Nicolai Jorgensen yang memanfaatkan umpan silang membelah syahwat dari Steven Berghuis.

Laga tampak berlangsung imbang. Di sisi lain, Shakhtar Donetsk sedang unggul 2-0 atas Manchester City. Kalau Shakhtar menang, Napoli bakal tersingkir apapun hasilnya.

Mungkin itulah yang bikin para pemain Napoli jadi pasrah. Alhasil pada menit ke-90, mereka lengah, kebobolan lewat situasi sepak pojok yang tidak dilakukan di tengah.

Bola hasil tendangan bebas seorang pemain Feyenoord yang malas dicari namanya malah tersundul pasrah oleh Elseid Hysaj. Sundulan Hysaj malah memberikan assist kepada Jerry St. Juste yang kaget ketiban bola. Namun, bola malah masuk ke gawang Pepe Reina kedua kalinya.

Kekalahan ini semakin menutup peluang Napoli melaju ke 16 besar. Pasalnya, pada laga satunya dimenangkan Shakhtar 2-1. “I Partenopei” baru bisa lolos kalau mereka menang dan Shakhtar kalah.

https://twitter.com/NaplesAndNapoli/status/938519267460419584

Kelengahan itu diakui Sarri karena timnya tampak tidak fokus dalam bertanding. Seperti ingin menanti kabar dari Ukraina yang sekian kilometer jauhnya.

“Kami membiarkan diri kami sendiri terpengaruh dengan kabar yang datang dari Ukraina, tapi dalam hal mentalitas, itu adalah sebuah kesalahan besar. Mestinya menjadi sebuah ujian untuk bermain seolah-olah hasil yang kami dapat tidak sia-sia,” ucap Sarri dikutip Detik. 

Tentu saja segenap publik Napoli kecewa. Jatah duit dari Liga Champions berhenti sampai di sini saja. Namun ada untungnya juga, fans Napoli sudah bisa tidur nyenyak karena tak perlu bergadang menonton tim kesayangannya lagi di Liga Champions. Apalagi fans yang ada di Asia, pasti bergadang jika ingin menonton Liga Champions.

Jadwal tidur mereka kini harus diubah, disetel jadi malam Jumat. Para istri di rumah perlu sedikit mengalah. Ya, berhubung mereka berada di posisi ketiga maka tim berkostum biru muda kayak Taksi Bluebird itu bakal berlaga di Liga Europa alias Liga Malam Jumat.

Sarri pun tak masalah kalau Napoli memang levelnya masih di Liga Europa. Jangankan Liga Champions, Liga Europa saja mereka juga tak ada prestasi. Paling-paling saat namanya masih Piala UEFA itu juga 30 tahun lalu saat Google belum ada.

“Kami akan menjalani Liga Europa dengan pendekatan determinasi yang bagus. Kami memang bukan klub yang punya sejarah di level Eropa, makanya kami ingin mencobanya untuk bermain sebaik mungkin di kompetisi itu,” tutur Sarri.

Main photo: @RepSscNapoli 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here