UEFA telah merilis kompetisi baru antar-negara Eropa yang beda dari Piala Eropa. Namanya adalah UEFA Nations League atau Liga Negara UEFA yang diikuti semua anggota UEFA. Kompetisi macam apa lagi ini? ‘Available-available’ saja UEFA zaman ‘now’.

UEFA ternyata menggelar Liga Negara sebagai pengganti uji coba internasional yang kerap dilakukan pada jeda kompetisi masing-masing negara. Daripada cuma uji coba, mending sekalian dibuat resmi saja. Begitu mungkin pikirnya.

Jadi ceritanya, dengan dibentuknya Liga Negara, tiap timnas tetap bisa melakoni laga-laga kompetitif sebagai persiapan ideal jelang Piala Eropa dan Piala Dunia. Jadi kompetisi ini bukan untuk menggantikan Piala Eropa.

Lalu kapan waktu pertandingannya? Inilah pertanyaan yang selalu muncul di benak warganet yang suka pada sok tahu itu.

Liga Negara musim 2018/19 rencananya akan dimulai pada September 2018 sampai Juni 2019. Waktu mainnya pada saat jeda internasional, beririsan dengan kualifikasi Piala Eropa 2020.

Biasanya, ada beberapa tim yang melakoni dua pertandingan pada jeda internasional. Ada yang dua-duanya memainkan babak kualifikasi baik Piala Eropa atau Piala Dunia, ada juga yang sekadar uji coba.

Nah, daripada memainkan laga uji coba, UEFA sekalian membuat Liga Negara ini agar timnas-timnas Eropa tetap memainkan laga kompetitif. Soalnya kalau uji coba, kadang lawannya suka enggak serius.

Lalu bagaimana format kompetisinya? Ini yang unik. Kompetisi dibagi menjadi empat divisi. Yakni Liga A, B, C, dan D. Tim-tim top Eropa macam Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, dsb akan bermain di Liga A. Lalu berlanjut ke kasta B, C, dan D.

Tiap divisi terbagi empat grup yang diisi tiga tim dan memainkan sistem kandang-tandang. Tapi untuk Liga C dan D ada yang sampai diisi empat tim tiap grupnya.

Khusus Liga A, keempat juara grup akan bermain lagi di Final Four dengan sistem semifinal dan final. Artinya, bakal ada partai semifinal, final, dan perebutan tempat ketiga pada Juni 2019 yang dimainkan dalam format satu leg di tempat netral. Dari situ keluarlah siapa juaranya.

Hasil gambar untuk uefa nations league
Inilah pembagian divisi Liga Negara. (Source: Sky Sports)

Liga Negara ini juga memakai sistem promosi dan degradasi. Tim yang paling buncit di grupnya bakal terlempar ke divisi di bawahnya. Begitu juga yang mau promosi, harus jadi juara grup untuk bisa naik kasta.

Tim-tim yang berada di urutan buncit dalam grup di Liga A, B, dan C bakal turun kasta ke liga di bawahnya. Adapun juara grup di Liga B, Liga C, dan Liga D bakal promosi ke liga di atasnya. Begitu terus polanya sampai bego.

Sejatinya Liga Negara ini tidak rumit. Hanya saja, munculnya kompetisi baru ini akan jadi menambah beban bagi pemain dan klub.

Para pemain Eropa sudah mengikuti kompetisi di negaranya yang terdiri dari kompetisi liga dan piala. Belum lagi kalau Inggris dan Prancis ada Piala Liga.

Di samping itu masih ada Liga Champions dan Liga Europa. Plus babak kualifikasi Piala Eropa atau Piala Dunia yang wajib dimainkan untuk level negara.

Tentu saja keputusan ini melahirkan pro dan kontra. Pihak Bayern Muenchen, Karl-Heinz Rummenigge, termasuk orang yang mendukung dengan keputusan ini. Pasalnya, laga uji coba kerap jadi batu sandungan bagi pihak klub dan timnas.

“Kami memahami itu. Khususnya untuk sejumlah negara kecil dan menengah yang kesulitan menjual tiket pertandingan persahabatan. Sisi baiknya adalah tim nasional kami tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh ke seluruh dunia untuk menggelar pertandingan persahabatan,” ucap Rummenigge, beberapa tahun lalu saat muncul ide Liga Negara, dikutip Viva.

Kemudian salah satu yang menolak adalah Juergen Klopp, pelatihnya Liverpool, karena tidak melibatkan pelaku industri. Apalagi, kehidupannya sebagai pelatih atau pemain bakal makin ribet dengan adanya kompetisi baru.

“Saya pikir keputusannya berbeda jika mereka melibatkan pemain dan pelatih yang akan bermain. Kami tidak ditanyakan terlebih dahulu, sudah pasti akan menyenangkan jika UEFA melibatkan para pemain dan pelatih untuk mengambil keputusan ini,” kata Klopp, dalam kesempatan yang sama.

Yang bikin ribet bukan hanya dari pemain dan pelatih. Tapi juga keriwehan informasi yang terjadi nanti. Kebayang misalnya hari Rabu mereka main babak kualifikasi Piala Eropa. Tapi hari Minggunya, mereka main Liga Negara UEFA.

Malah bisa saja, ada satu tim yang akan menghadapi lawan yang sama dalam kurun waktu dekat. Ketemu di babak kualifikasi dan ketemu lagi di Liga Negara.

Kebayang bingungnya warganet serta para hansip di pos ronda. Pasti sudah ribut sambil menyeruput pisang goreng, memakan kopi.

Hari Rabu kemarin main babak kualifikasi Piala Eropa, lalu sekarang main kompetisi yang berbeda. Kompetisi apa lagi ini? Oh ini bukan kualifikasi Piala Eropa? Memangnya beda? Kirain Liga Negara itu gantinya kualifikasi? Kenapa dibikin ada kompetisi lagi ya? Begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan warga sekitar.

Apalagi, yang kocaknya Liga Negara UEFA ini juga bersinggungan dengan Piala Eropa. Jadi nanti sistem play-off empat tim bakal diambil dari Liga Negara.

Jika kualifikasi Piala Eropa akan mengambil 20 tim (dua tim dari 10 grup) dan masih tersisa empat slot yang biasanya ditentukan lewat play-off. Nah, para peserta play-off ini adalah mereka yang lolos lewat jalur Liga Negara.

Kebayang ribetnya, bukan? (Source: Goal)

Jika disalin-tempel dari Goal, pemenang di tiap grup di Liga A, B, C, D bakal saling beradu dengan sistem mirip “Final Four” seperti di Liga A yang telah dijabarkan di awal. Untuk lebih memudahkan, fase ini bisa disebut sebagai Play-off Final Four.

Pemenang Play-off Final Four dari Liga A, B, C, D inilah yang secara otomatis berhak memegang tiket ke Piala Eropa 2020. Yang bikin ribet kayak emak-emak mau pergi tamasya, adalah jika pemenang tiap grup di Liga A, B, C, dan D sudah lolos lewat babak kualifikasi.

Maka tempat mereka akan diganti oleh tim di bawahnya dari keseluruhan Liga Negar yang belum lolos ke Piala Dunia 2020. Jika dalam Play-off Final Four di tiap liga tidak komplet empat tim, maka sisa tim bisa diambil dari liga di bawahnya.

Misalnya, Play-off Final Four di Liga A hanya terdiri dari tiga tim, maka tim keempat diambil dari tim peringkat kelima terbaik yang belum lolos dari Liga B. Begitu seterusnya sampai Play-off Final Four di tiap divisi liga terdiri dari empat tim yang belum lolos ke Euro 2020 dari jalur kualifikasi.

Bagaimana? Kurang ribet apa coba? Tapi ya sebagai penikmat bola mending dinikmati saja suguhannya itu. Toh, yang ribet nantinya adalah para pemain dan timnas masing-masing.

Sebagai penggemar bola dari Indonesia yang tak ada hubungannya, mending sediakan kopi dan pisang goreng untuk menemani pertandingan bola. Kita harusnya bersyukur kalau pertandingan bola nanti bakal lebih banyak lagi. Terutama buat yang masih jomblo.

Main photo: Goal 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here