Oleh: Paundra Jhalugilang

UEFA Champions League (UCL) sepertinya resmi berganti nama jadi UEFA Comeback League. Sebuah perhelatan sepak bola bagi tim-tim yang berhasil melakukan epic comeback menyakitkan alias PHP tingkat kronos.

Dua laga semifinal memperlihatkan betapa dahsyatnya magis kombek yang diperlihatkan Liga Champions. Siapa yang menduga, Liverpool bakal memukul balik Barcelona dengan skor 4-0 setelah main buruk di leg pertama dan main biasa-biasa saja di babak pertama leg kedua.

Tadi malam, koleksi tim-tim kombek kembali bertambah. Ajax Amsterdam memang cuma unggul 1-0 di leg pertama, misi buat kombek lebih mudah diusung Spurs di leg kedua.

Tapi yang membuatnya fenomenal, Ajax ini sempat unggul 2-0 duluan di leg kedua, di kandang mereka sendiri. Alhasil, keunggulan agregat 3-0 sempat terjadi di jeda babak pertama leg kedua. Seolah waktu 45 menit kemudian tidak akan terjadi apa-apa.

Sayangnya, Spurs mampu mengubah itu. Mereka seakan dapat kekuatan bantuan dari Odin. Macam Thor yang sudah nyaris kalah oleh Hulk, tapi tiba-tiba muncul Odin dalam pikirannya. Seketika pertarungan berubah drastis.

Lucas Moura menjelma jadi Odin dengan mencetak tiga gol di babak kedua. Satu gol tercipta secara dramatis tanpa ada lanjutan “Season 2, Season 3, Season 8, dst”. “And the comeback is real!” Ajax tamat saat itu juga.

Pesannya adalah, jangan pernah berhenti dan jangan pernah merasa menang, selama peluit akhir leg kedua belum berbunyi. Sama seperti dulu ada kelakar “Selama belum ada janur kuning melengkung, semua bisa terjadi”.

Bahkan, kelakar itu sekarang sudah berubah menjadi “Selama belum ada bendera kuning berkibar, semua bisa terjadi”. Artinya, meski sudah menikah pun tetap bisa ditunggu jandanya, selama si wanita belum meninggal dunia.

Sama kayak di Liga Champions, meski sudah menang gede sekalipun di leg pertama, semua bisa terjadi sebelum peluit akhir leg kedua berbunyi. Selama belum ada bendera kuning berkibar di akhir pertandingan, maka jangan berhenti.

Musim ini saja, tercatat ada enam laga comeback yang makin menahbiskan UCL sebagai “UEFA Comeback League”. Di babak 16 besar ada Roma yang di-kombek Porto, Manchester United yang meng-kombek PSG secara kocak, lalu Juventus yang meng-kombek Atletico Madrid, dan yang paling fenomenal saat Ajax meng-kombek Real Madrid 4-1.

Kemudian berlanjut ke babak semifinal yang mempertemukan Barcelona-Liverpool dan Ajax-Spurs. Comeback terjadi begitu saja bagai jentikan jari Thanos di film Infinity Wars. Lionel Messi dkk langsung berubah jadi debu.

https://twitter.com/Sporf/status/1126072609848856576

Itu baru beberapa laga comeback UCL yang tersaji musim ini. Belum musim-musim sebelumnya.

Sudah banyak kasus terjadi seperti itu. Seperti misalnya saat PSG sudah menang 4-0 atas Barcelona di leg pertama. Siapa yang bakal kepikiran Barca bisa membalikkan kedudukan jadi 5-0 di Camp Nou. Secara matematis rasanya sulit.

Barca memang sempat unggul 3-0 meski akhirnya dibobol lagi oleh Edinson Cavani jadi 3-1. Alhasil Barca butuh menang 6-1 dan mencetak tiga gol lagi. Memasuki menit ke-80-an rasanya sulit membayangkan ada tiga gol tercipta di sana. Nyatanya, semua terjadi begitu saja.

Barca merasakan comeback tahun berikutnya saat bertemu Roma. Menang 4-1 di kandang, lalu dibantai 0-3 di tandang. Hal yang sama dirasakan lagi musim ini saat bertemu Liverpool.

Itu belum termasuk laga kombek fenomenal lainnya di laga final saat Liverpool mengalahkan Milan di final 2005 serta MU yang meng-kombek Bayern Muenchen dalam waktu dua menit akhir di final 1999.

Tak dapat dipungkiri bahwa Liga Champions ini adalah partai bergengsi yang sarat emosi. Matematika sepak bola yang biasa terjadi seolah menjadi anomali.

“Ah, tidak mungkin bisa membalikkan keadaan”, setidaknya itulah yang ada di benak para penikmat sepak bola. Nyatanya bisa!

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk tidak jemawa terlebih dahulu meski melihat tim kesayangan bisa menang telak di leg pertama. Jangan sombong dan takabur dulu.

Biasanya para fans bola di Indonesia ini sudah ngomong macam-macam di kolom-kolom komentar media sosial. Padahal menang juga belum. Ingat, Liga Champions ini dua leg, dua putaran, tidak satu putaran macam Pemilu 2019 yang makin gila itu.

Bagi pelaku sepak bola, entah itu pemain, pelatih, hingga staf, jangan senang dulu, jangan santai dulu. Selama belum berbunyi peluit akhir leg kedua, maka jangan kasih kendor.

Sebenarnya ini yang terjadi dengan Barcelona. Di babak pertama, Liverpool mainnya biasa saja. Tidak bagus-bagus amat. Malah Barca mampu memperlihatkan ketenangan dan pengalamannya sebagai sebuah tim kelas dunia.

Cuma sayangnya, mereka malah main-main cenderung santai. Peluang di depan mata tak diselesaikan dengan baik. Malah oper-operan.

Begitu juga dengan Ajax. Peluang Hakim Ziyech sampai tiga kali depan gawang gagal dimaksimalkan dengan baik. Kalau sudah seperti ini, tidak ada yang namanya belas kasihan. Hajar terus sampai kiamat.

Kalau peluang-peluang itu tak dimanfaatkan, maka lawan lah yang memanfaatkan peluang mereka. Habis sudah. Tiga gol kemudian terjadi di babak kedua dengan rasa penyesalan, “Kenapa gua gak cetak gol tadi di babak pertama?”

Di babak kedua, Ajax seolah bermain dengan pikiran “Kamu tidak akan bisa mencetak tiga gol, Fergusso”. Bahkan sampai menit akhir saja, suporter Ajax seolah sudah menghitung detik untuk merayakan kelolosan mereka ke final. Tak lama kemudian, terdengar bunyi ‘plung’, sunyi senyap.

Bagi tim lawan yang tertinggal, ini bisa jadi motivasi dan pelajaran penting untuk bisa comeback. Sudah banyak referensinya, tak perlu cari ke perpustakaan buat melihat Daftar Pustaka. Semua pasti ingat bagaimana Barca bisa membalikkan PSG, MU menghajar PSG, Roma menghajar Barca, dan Liverpool membantai Barca, dan lain sebagainya.

Semangat itu pernah ditunjukkan oleh Juventus saat meng-comeback Atletico Madrid. Seluruh media sosial mereka pakai untuk menyebarkan kampanye positif penambah semangat “Get Ready to Comeback“. Bahkan sampai niat bikin video segala. Hasilnya cukup manjur. Meski di perempat final Juve kembali menunjukkan mental khas mereka, lemah di Eropa.

Ini pelajaran buat semua. Jangan pernah merasa menang sebelum peluit akhir leg kedua. Jangan pernah merasa kalah sebelum peluit akhir leg kedua. Itu belum selesai.

Main photo:


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here