Oleh: Muhammad Hanif Sudarmadi

Salah satu klub Italia yang memiliki darah Indonesia yaitu Udinese (karena banyak orang
Indonesia bernama Udin) saat ini sudah tak lagi tampil di panggung Liga Champions. Entah karena mager atau bagaimana.

Yang suka nonton bola harusnya ingat klub yang berasal dari kota Udine ini pada
musim 2010/2011 dan 2011/2012 pernah berhasil menembus Liga Champions
walau tidak sampai mengangkat trofinya. Ini tentu menjadi prestasi yang biasa saja bagi tim sekelas Juventus, Barcelona, dan Real Madrid.

Tapi bagi Udinese, masuknya mereka ke Liga Champions sangat berarti karena mengatrol pendapatan klub yang jauh di atas UMR. Hal itu tidak lepas peran pelatih mereka, pelatih dengan marga Guidolin, atau nama lengkapnya Francesco Guidolin.

Filosofi yang dianut Francesco Guidolin tidak hanya sekadar Filosofi Kopi yang
beberapa waktu lalu diangkat ke layar lebar. Tapi lebih dari itu. Balap sepeda gunung adalah filosofi yang dianutnya.

Menurutnya, Udinese dapat konsisten pada saat itu karena patuh padanya sehingga tidak terkena azab Tuhan yang pedih. Dia lalu menuturkan apa yang dimaksud dengan filosofi sepeda gunungnya dengan gaya yang tak mencoba sombong, tapi tetap terlihat sombong.

“Sebagai pelatih, saya biasa saja dan saya tidak mau mengeluh tentangnya. Tapi tak ada seorang pun yang bisa mengalahkan saya di balapan sepeda gunung buat orang-orang berusia 50 tahun. Saya harus bilang saya terbaik di situ,” kata Guidolin mulai tidak nyaman jika tidak sombong.

Dalam filosofi tersebut kesabaran dan ketahanan fisik menjadi kunci, karena kalau marah-marah saja tentu akan menguras tenaga lebih banyak. Pada awal musim kesuksesannya itu, empat pertandingan awal Udinese berakhir dengan hasil tidak seri dan tidak menang.

Tapi pelan-pelan asal selamat, Udinese mulai menunjukkan kemampuannya yang tidak bagus-bagus amat sehingga finis di posisi empat. Padahal kalau penampilannya bagus amat bisa peringkat pertama.

Filosofi pengembangan pemain muda milik Udinese juga patut diacungi jempol karena bakat-bakat muda seperti Alexis Sanchez, Medhi Benatia, Juan Cuadrado, Kwadwo Asamoah, dan Samir Handanovic akhirnya dikenal sebagai pemain top dunia.

Mereka-mereka inilah yang berjasa membuat Udinese kalah di empat pertandingan awal dan akhirnya peringkat empat klasemen akhir. Bahkan peringkat ketiga pada musim berikutnya.

Cerita Udinese ini kemudian dilanjutkan beberapa musim kemudian oleh tim yang
tidak memiliki hubungan darah dengan Indonesia sama sekali, Leicester City.
Namun prestasinya lebih mentereng, JUARA LIGA! Gila bukan?

Biasa saja sebenarnya bagi Manchester United atau Chelsea. Tapi bagi tim seperti Leicester atau Udinese jelas hasil amat sangat membanggakan. Meski “Il Zebrette” belum bisa merasakan apa yang Leicester rasakan.

Sayang, kegarangan Udinese cuma jadi cerita lalu. Sebuah kisah yang patut diceritakan kembali kalau mereka bukan sekadar tim hidup segan mati tak mau.

Dari dulu prestasinya memang gitu-gitu saja, degradasi enggak, empat besar juga enggak. Tapi ternyata sempat mampu lebih dari itu. Dua kali ke Liga Champions adalah prestasi yang membanggakan.

Sayangnya, hingga hari ini pun Udinese belum garang kembali seperti waktu itu. Masih asyik berkubang di papan tengah Seri A. Semoga kalian yang nge-fans dengan Udinese dapat melihat tim kesayangan kalian berlaga kembali di Serie A dan Coppa Italia serta Liga Champions tentunya.


Hanif Muhammad Hanif Sudarmadi

Seorang mahasiswa yang bukan mahasiswi, suka tentang bola (bola sepak khususnya), nulis sedikit-sedikit aja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here