Juventus sepertinya masih ogah gantian dalam urusan gelar Scudetto. Tim berjuluk “Bianconeri” itu kembali memastikan gelar tersebut untuk ketujuh kalinya, mengalahkan kemenangan Soeharto alias Orde Baru yang memenangkan 6 gelar Pemilu.

Gelar itu dipastikan oleh Juve sendiri saat bertamu ke Roma di Stadion Olimpico. Yang menarik, Juve merayakan dua gelar sekaligus di stadion tersebut hanya dalam empat hari. Empat hari sebelumnya, mereka merayakan gelar Coppa setelah menjadikan Milan bubur ayam.

Warga sekitaran Olimpico pasti bosan melihat banyak warga Juventus pada nyanyi-nyanyi girang tak keruan. Sekaligus iri, kapan giliran para warlok alias warga lokal tersebut bisa merayakan gelar Scudetto.

Pada laga melawan Roma, Juve mainnya tak terlalu ngotot dan pakai urat. Bola kebanyakan mengalir dari kaki ke kaki, kepala ke kepala, kaki ke kepala, kepala ke kaki, kaki ke dada, dada ke kaki, dada ke kepala, kepala ke dada, tapi tak ada yang dari leher ke pantat.

Juve tampak selon macam anak STM mau tawuran dalam pengaruh alkohol. Maklum, hasil seri saja memang sudah cukup buat tim asuhan Massimilliano Allegri yang terlihat ganteng malam itu memakai jas. Memang tak pernah lihat sebelumnya Allegri memakai batik Korpri di pinggir lapangan.

Meski Roma sempat menekan beberapa kali, tapi serangannya tak ada yang berarti. Juve juga begitu, serangannya tak ada yang berarti apalagi sampai menyakiti hati fans Roma.

Bola lebih banyak bergulir di lapangan tengah. Berputar-putar saja macam gasing Beyblade. Tempo permainan sebetulnya tidak lambat-lambat amat, tapi saat serangan memasuki depan kotak penalti masing-masing, mudah dipatahkan begitu saja.

Pertahanan kedua tim benar-benar ganteng maksimal. Juve digalang Andrea Barzagli dan Daniele Rugani begitu pandai membaca serangan Roma sehingga mudah potong-potong bolanya.

Sedangkan Roma yang digalang Juan Jesus dan Federico Fazio, begitu lugas dalam menghalau serangan dari Juve. Andai Rugani, Barzagli, Jesus, dan Fazio berkewarganegaraan Indonesia, pasti timnas Indonesia sudah masuk Piala Asia.

Roma harus kehilangan pemain pada pertengahan babak kedua sehingga membuat Juve punya kesempatan untuk membobol gawang Alisson Becker. Mereka kehilangan pemain yang tak perlu dicari lagi.

Radja Nainggolan dengan jelas melakukan dua pelanggaran hanya dalam waktu berdekatan. Sehingga dua kartu kuning harus dia terima dan tak bisa memilih lagi. Pasalnya wasit tak memiliki Kartu Indonesia Sehat atau Kartu Indonesia Pintar. Jadi pilihan cuma ada warna kuning dan merah, kuning sudah paling bagus buatnya.

https://twitter.com/brfootball/status/995776741149937665

 

Bermain dengan 10 orang membuat Roma jadi bertahan total. Yang penting enggak kalah. Juve sendiri ternyata tidak lantas menekan. Mereka selon saja memainkan penguasaan bola yang di situ-situ saja, tak mengarah ke kotak penalti Roma.

Miralem Pjanic dan kawan-kawan main aman selama 15 menitan, pertandingan berjalan lamban dan membosankan macam lagi dengar pidato kelurahan. Saat wasit meniupkan peluit akhir, ya begitu saja. Tak ada drama yang diharapkan ibu-ibu pembeli sayur. Kurang klimaks.

Meski begitu, Juve tetap juara untuk yang kesekian kalinya. Sampai malas menulisnya saking banyaknya. Yang jelas, mereka memecahkan rekor sebagai tim Italia yang sanggup menjuarai Scudetto tujuh kali berturut-turut.

Namun torehan itu masih kalah dari MTK Budapest yang sanggup 10 kali juara Hungaria beruntun atau CSKA Sofia yang 9 kali juara Bulgaria beruntun. Jadi belum ada apa-apanya itu Juventus.

Mereka tampak kemaruk, rakus, dan egois. Tidak mau bagi-bagi gelar Scudetto kepada yang lebih membutuhkan. Padahal Juve sudah punya 34 gelar Scudetto dan 13 gelar Coppa. Paling banyak sendiri di Italia. Tapi ya begitulah Juventus. Nikmatnya enggak dibagi-bagi, maunya menang sendiri.

https://twitter.com/brfootball/status/995766221227388932

“Saya senang karena anak-anak menutup episode ini dan kami punya pekan lain untuk beristirahat. Ini sudah jadi perjalanan yang sangat berat dan kami harus memuji Napoli, karena mereka terus memberikan tekanan sampai akhir dan menang di Sampdoria malam ini,” ujar Allegri dikutip Bola.net.

Tim asuhan Allegri kini sudah boleh merayakan gelar juara, party-party sambil minum es limun dan es kepal Milo. Namanya juara, mau apa juga enak.

“Kami bekerja keras, tapi ketika waktunya merayakan setelah empat tahun yang luar biasa, maka sah saja kalau semua orang merayakannya. Gelar ini untuk semua orang yang bekerja dengan kami di pusat latihan, para fans juga, tapi para pemain adalah protagonis utamanya,” sambungnya lagi, dikutip dari laman yang sama, bukan dari majalah Trubus. 

https://twitter.com/juvestats1897/status/995764912021389312

Main photo: @Soccer_Laduma

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here