Tuh kan. Untuk kelima kalinya berturut-turut, Italia menang dengan skor 2-0. Kali ini korban skor template CTRL A-CTRL C-CTRL V adalah Lithuania. Entah ini memang ada formatnya apa gimana.

Masak sudah lima pertandingan lima-limanya menang 2-0. Mulai dari lawan Polandia, Bosnia, Irlandia Utara, dan Bulgaria semuanya menang 2-0. Format isiannya sama. Di Microsoft Excel sudah ada tabelnya sebelum laga, skor 2-0, tinggal isi nama pencetak golnya saja.

Kalau sudah gini enak, pakai format itu saja terus sampai ke Piala Dunia. Dijamin juara. Tak usah banyak-banyak gol, 2-0 cukup sampai final dan jadi juara.

Seperti biasa, Italia mengambil inisiatif menyerang demi mendapat gol pertama. Namun di babak pertama mereka belum berhasil bikin gol. Biasanya di babak pertama sudah ada gol. Satu di babak pertama, satu di babak kedua.

Jadi polanya, menyerang untuk dapat satu gol, ketika dapat bisa langsung santai dan bertahan. Lalu bikin gol lagi di babak kedua setelah lawan lengah karena terpaksa buat main menyerang untuk terhindar dari kekalahan.

Di babak kedua, Italia membuka keunggulan lewat tendangan dari luar kotak penalti Stefano Sensi. Kotak penalti lawan tentunya, bukan kotak penalti Italia. Kuat juga itu kaki kalau mencetak gol dengan tendangan keras dari kotak penalti Italia, macam jurus Super Shot Soccer.

Bola sempat ditepis kiper Lithuania yang kurang terkenal, tapi tetap masuk ke gawang. Mungkin karena cukup terarah padahal tidak keras-keras amat.

Berhubung sudah isi format 2-0, Italia pun meraih kemenangan tersebut. Nicolo Barella ditendang pahanya oleh lawan di kotak penalti, untung saja bukan kena bijinya. Bisa mati karier sekaligus mati keturunan.

Demi mendapat kemenangan 2-0, maka voucher digerakkan. Ciro Immobile sukses menggesek voucher gratisan tersebut.

Kemenangan ini juga berarti Mancini telah menyamai rekor 25 pertandingan tak terkalahkan Marcelo Lippi dan hanya lima pertandingan di belakang rekor sepanjang masa milik Vittorio Pozzo yaitu 30 laga tak terkalahkan. Begitulah kata Sindonews.

“Saya senang kami berada di puncak grup, itu menyenangkan, tetapi rekor adalah masalah tersendiri dibandingkan dengan hasil nyata. Saya berharap bisa menyamai Lippi di Piala Dunia,” kata Mancini kepada RAI Sport seperti dilansir Football-Itala, seperti dikutip Sindonews.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here