Oleh: Paundra Jhalugilang

Masih ingat betul ketika SD ada seorang teman memberitahu ada kiper Parma masih muda tapi jago, namanya Buffon. Sepintas saya dengar seperti bukan nama orang Italia pada umumnya yang hampir selalu berakhiran huruf vokal macam Montella, Totti, atau Del Piero.

Namun beberapa tahun berselang, kiper itu dibeli Juventus dengan nilai transfer luar biasa saat usianya masih sekitar 21 tahunan. Saat itu pula dia sudah menjadi kiper utama timnas Italia mengalahkan deretan kiper beken macam Pagliuca, Toldo, dan Peruzzi.

Gianluigi Buffon, telah resmi meninggalkan Juventus hari Minggu lalu. Kontraknya masih sampai Juni tanggal 30. Praktis saat ini pemain berwajah tampan dari sananya itu masih tetap pemain Juve. Siapa tahu saja dia labil, tiba-tiba enggak jadi pindah.

Namun, Buffon sudah menegaskan lawan Verona adalah laga terakhirnya. Laga perpisahan penuh isak tangis haru. Hati Juventini terasa pilu ditinggal kiper yang bukan sekadar kiper.

Ya, kiper yang memiliki skill seperti Buffon itu memang banyak. Jago menepis, jago menendang, refleks hebat, penguasaan gawang, rajin menabung, suka menyiram kembang, sampai yang jago mencetak gol juga ada. Namun sosok yang seperti Buffon itulah yang tidak ada.

Pria yang kalau menangis keluar air mata itu menggambarkan seorang pesepak bola sejati. Jarang sekali dia terlibat ribut-ribut dengan pemain lawan apalagi dengan warga sekitar. Buffon seorang sosok yang penuh kehangatan, semua orang disapa, dipeluk, bahkan diciumnya.

Tak usah bicara soal data dan statistiknya, sudah banyak di Google dan artikel-artikel lain. Bahkan yang bikin infografisnya juga banyak. Tak usah membahas aksi-aksinya di bawah mistar, di Youtube juga banyak. Tinggal ketik saja ‘Buffon’ pasti akan banyak keluar. Tapi jangan sampai Anda ketik ‘Popular Magazine’ karena itu bisa membuat celana Anda menyempit seharian.

Di sini cuma membahas bagaimana sikap mantannya Parma itu di lapangan hijau dalam menyikapi semua masalah. Kepemimpinan, kewibawaan, kesetiaan, keramahan, sportivitas, dan jiwa besarnya yang bikin dia disukai dan dihormati banyak orang.

https://twitter.com/TrollFootball/status/997051120806760448

Satu hal yang disaluti banyak orang adalah ketika dia memutuskan bertahan di Juve saat degradasi tahun 2006 akibat kasus Calciopoli, bahkan kalau tidak salah rela gajinya dipotong. Padahal dia sedang dalam masa keemasan dan statusnya saat itu sebagai Juara Dunia. Ya, hanya beberapa bulan saja setelah Italia mengangkat trofi Piala Dunia dan Buffon adalah salah satu pahlawannya.

Buffon saat itu masih berusia 28 tahun. Masa di mana sedang lucu-lucunya bagi pesepak bola. Usia masih cukup muda, tapi pengalaman sudah di mana-mana. Dengan statusnya sebagai juara dunia serta kiper jago tulen, dengan mudah Buffon bisa pindah ke klub lain yang menjanjikan gaji lebih besar serta kejayaan.

Saat itu, Milan dan Real Madrid sempat tertarik merekrut cowok kece yang kakinya pasti ditekuk saat jongkok itu. Apalagi melihat para bintang Juve saat itu pergi dari Delle Alpi karena ogah amat main di Seri B.

Buffon diketahui sudah tinggal selangkah lagi pindah ke Milan saat musim panas 2006. Manajemen Juve berpikir kalau Buffon bakalan pergi. Di sisi lain lumayan juga buat Juve untuk tambah-tambah uang saku karena mereka kehilangan pemasukan besar dari sponsor.

Untungnya, transaksi itu gagal lantaran Juve tak menemukan kata sepakat dengan Milan. Dan lucunya, usut punya usut Buffon tak pernah meminta dijual. Dia malah merasa oke-oke saja dengan situasi tersebut.

“Bukan saya yang memutuskan untuk tidak pergi ke Milan. Namun ada negosiasi antara kedua klub yang tak berjalan lancar. Saat itu saya berpikir, ‘Saya tak mengerti mengapa saya harus pergi, saya baik-baik saja di sini, bahkan jika kami harus ke Seri B sekalipun.’,” ucap Buffon dikuti Goal dalam artikel yang ditulis Danilo Pochini pada 2008.

“Saat Juve dan Milan tidak sepakat, saya mengatakan bahwa saya tak ingin pergi dengan segala cara. Jika mereka ingin saya tinggal, saya tetap tinggal. Hal itu melegakan buat Juve karena mereka mengira saya akan pergi. Itulah yang terjadi,” sambungnya lagi.

Pernyataan Buffon itu langsung menutup erat-erat klub lain yang berminat dengannya. Termasuk dari Real Madrid yang diungkapkan oleh Jamie Carragher. Carragher memang bukan pemain Madrid, dan enggak ada hubungannya juga.

Tapi sepertinya legenda Liverpool itu mungkin dapat isu-isu sedap dari tongkrongan. “Real Madrid pernah mencoba untuk mendatangkan Gianluigi Buffon, sama seperti klub lainnya, hal itu terjadi saat Juventus harus terdegradasi ke Seri B,” ucap Carragher dikutip ftb90 yang mengutipnya lagi dari Express. 

Pada akhirnya, Buffon tetap di Juventus sampai artikel ini keluar. Dia rela panas-panasan main di Seri B, main bersama pemain-pemain yang levelnya jauh di bawahnya, di depan bacot-bacot fans bola saat itu yang meledeknya main di Seri B. Untung saja pada waktu itu belum ada Instagram dan Twitter. Kalau ada bisa kacau dunia per-Buffon-an.

Padahal kalau dipikir-pikir, andai Buffon menerima tawaran dari Milan atau Madrid. Buffon mungkin sudah menjuarai Liga Champions, trofi yang belum pernah dia menangkan meski masuk final sampai tiga kali. Nyatanya, Milan memang menjuarai Liga Champions pada 2007.

Atau mungkin menerima tawaran dari klub lain macam Chelsea, Manchester United, Barcelona, hingga Bayern Muenchen. Tinggal cap cip cup saja. Seperti diketahui klub-klub itu menjuarai Liga Champions beberapa tahun kemudian.

Tapi Buffon tak melakukan itu, memilih stay di Juventus sampai ke ujung kariernya. Dia melakukan itu untuk menunjukkan bahwa sepak bola bukan lah sekadar bisnis, tapi juga passion. Sepak bola bukan sekadar prestasi, tapi juga loyalitas. Sedap.

“Saya bisa meninggalkan Juve pada musim panas itu karena saya dihubungi banyak klub besar. Tapi saya memutuskan bertahan di Juventus. Pertama karena saya percaya dengan segala syukur yang telah saya dapatkan, untuk menunjukkannya kepada masyarakat secara konkret, bahwa nilai-nilai sepak bola yang saya yakini bukan cuma teori, tapi juga dipraktikkan. Sepak bola bukan hanya bisnis, tapi juga perasaan,” ucapnya.

Perlu diperhatikan bahwa periode itu adalah masa-masa kelam Juventus sebelum kembali berjaya pada era dua ribu belasan. Ya, pada 2006-2010 bisa dibilang momen-momen sulit bagi Juve.

Uang habis, status tim bintang lima pudar, beli pemain bintang susah, bersaing di Seri A saja susah bukan main. Mereka mesti membangun pondasi tim lagi dari nol macam lagi isi bensin di Pertamina. Ya memang enggak dari nol-nol amat sih, setidaknya satu setengah lah. Sedangkan tim Eropa lainnya semakin kaya semakin kuat.

Sayangnya, saat Juve kembali berbicara ke Eropa dengan masuk final tahun 2015, Buffon sudah berusia 37 tahun. Sebagai seorang kiper, dia tak bisa apa-apa mengalami gempuran hebat dari Barcelona yang sudah terbentuk pondasi timnya sejak sekian lama. Rekan-rekan setimnya masih kalah kelas dan pengalaman dari Lionel Messi dan kawan-kawan.

Lalu pada 2017, Buffon kembali ke final. Lagi-lagi, Madrid layaknya Barcelona yang sudah terbentuk pondasinya sejak beberapa tahun. Meski Juve sudah ada tambahan amunisi para pemain juara, tetap masih kalah kelas dan pengalaman dari Madrid. Bahkan mereka pakai skuat yang sama saat menjuarai Liga Champions tahun sebelumnya. Ditambah lagi soal isu perselisihan di ruang ganti Juventus saat itu santer diberitakan. Alhasil babak kedua mereka keok 1-4.

Pada dua musim itu memang bukan tahun yang menguntungkan bagi Buffon. Dia seharusnya bisa menjuarai trofi Champions pada 2003. Saat itulah Buffon dan Juventus sedang dalam masa keemasan. Sayangnya, mereka kalah dari Milan hanya gara-gara penalti.

Itu saja, Buffon setidaknya sudah melakukan penyelamatan terbaik dari tandukan Filippo Inzaghi yang menjadi salah satu penyelamatan terbaik Buffon versi Youtube. Serta dua tepisan penalti yang sebenarnya bikin Milan hampir tak sadarkan diri.

Tapi lagi-lagi sayang, selalu ada kata ‘sayang’ yang bermakna negatif. Tiga penendang Juve gagal melaksanakan kewajibannya sebagai algojo penalti. Buffon sudah tak bisa apa-apa lagi, takdir meraih trofi kuping lebar ditentukan oleh orang lain.

Buffon masih berharap tahun 2018 menjadi tahun manis untuk menutup kariernya. Masih berharap bisa mendapat trofi Liga Champions 2018, lalu Piala Dunia Antar-klub, serta mengakhiri kariernya di timnas di pentas Piala Dunia. Ternyata tidak, bukannya manis malah berakhir tragis dan membuat para segelintir haters makin berkata sinis.

Timnas Italia yang sudah pede meluncurkan jersey baru untuk Piala Dunia gagal melaju ke pentas tersebut usai disingkirkan Swedia. Buffon menangis sejadi-jadinya, bikin aktivis bola juga turut bersedih. Semacam tidak tega mau membuatkan meme atau troll-nya meski masih ada saja yang melakukannya.

Padahal, jika Italia lolos dan Buffon tampil di Piala Dunia 2018, Buffon bakal membuat rekor baru dengan menjadi pemain pertama yang berpartisipasi di enam edisi Piala Dunia. Saat ini Buffon masih bersama Lothar Matthaeus (Meksiko) dan Antonio Carbajal (Meksiko) di lima edisi Piala Dunia meski pada 1998 dia tak main sama sekali.

Buffon pun sangat antusias dan berambisi menyamai Dino Zoff yang membela Italia pada usia 40 tahun di Piala Dunia. Sayangnya mimpi itu tak akan pernah terwujud kecuali Swedianya diskors dan digantikan oleh Italia.

Keapesan itu juga belum termasuk kegagalan Buffon meraih trofi Piala Eropa. Italia tersingkir secara tragis lewat adu penalti dari Jerman pada perempat final 2016. Di situ, Buffon terlihat menangis meski sudah beberapa kali melakukan penyelamatan dramatis.

Buffon memang mengawali debutnya bersama “Gli Azzurri” saat masih seumuran Iqbaal CJR, yakni 19 tahun. Dia membuka kariernya di timnas dengan bermain melawan Rusia di Rusia. Buffon juga berkesempatan menutup kariernya bersama “Gli Azzurri” di Rusia apabila Italia lolos ke sana. Maunya buka di Rusia, tutup di Rusia juga. Sayangnya tidak.

Kesialan tak berhenti sampai di situ. Juventus punya kans untuk mencoba masuk final lagi dan menjuarai Liga Champions musim ini. Mereka menyingkirkan Tottenham Hotspur di babak 16 besar dan sialnya harus kembali ketemu Madrid.

Leg pertama Juve jadi bulan-bulanan saat dihajar 0-3. Namun leg kedua, Juve bangkit dan mampu menang 3-0 di Bernabeu. Mata Buffon makin terbuka lebar, harapan trofi Liga Champions tiba-tiba terbuka. Dia pun merayakan gol Blaise Matuidi begitu emosional. Sayang, menang 3-0-nya cuma sampai menit ke-92 saja.

Madrid tahu-tahu dapat penalti, Buffon tak mampu mengontrol diri. Secara refleks menumpahkan kemarahannya kepada wasit Michael Oliver yang di peluitnya pasti menyisakan bau mulutnya. Yang tak diduga, Oliver mengeluarkan kartu merah dan mengusir Buffon dari lapangan.

Alih-alih mengakhiri karier di Liga Champions dengan mengangkat piala, malah mendapat kartu merah dan diusir wasit. Kartu merah pertama yang didapatnya di kompetisi Eropa. Benar-benar tragis. Benar-benar apes.

Untungnya, dua trofi masih bisa dia persembahkan buat Juventus di akhir kariernya bersama “Si Nyonya Tua”. Scudetto dan Coppa Italia yang mungkin sudah rada bosan didapatkan Buffon. “Ini lagi, ini lagi,” mungkin begitu pikirnya.

Buffon memang belum diketahui nasibnya setelah ini bakal bagaimana. Santer diberitakan bakal ke Paris Saint Germain (PSG) yang tentu membuka kembali peluangnya meraih Liga Champions. Serta memastikan diri tak mengakhiri karier di Liga Champions dengan sebuah kartu merah.

Dia memang bukan satu-satunya pemain yang belum mengangkat trofi Liga Champions. Masih banyak pemain kelas dunia yang juga belum merasakan trofi tersebut. Tapi memang sangat disayangkan dan banyak yang menyayangkan, pemain sehebat dan se-legend Buffon layak mendapatkan trofi tersebut. Namun, dia tetap tegar.

Sekali lagi, bukan soal skill-nya, tapi soal sikapnya yang pantas dijadikan anutan. Masih terekam jelas bagaimana sikap sportifnya saat warga Italia menyoraki lagu kebangsaan Swedia dan PrancisBuffon langsung bertepuk tangan, meminta suporter berhenti menyoraki, mengajaknya lebih menghormati bangsa lain.

Saat Juve dikalahkan Napoli lewat sebuah gol akhir yang dramatis, Buffon tak lantas meninggalkan lapangan. Dia masih menyalami semua pemain Napoli satu per satu.

Buffon juga ramah terhadap fans. Dia rela jauh-jauh menghampiri suporter di belakang gawang di saat teman-temannya sudah masuk di ruang ganti. Bahkan tak segan dia menghampiri suporter lawan untuk memberikan apresiasi. Itulah yang bikin dia makin dicintai.

Bapak paruh baya itu pun memiliki sikap pemimpin yang luar biasa. Selalu menyemangati rekan-rekannya saat lagi down, atau membangkitkan semangat mereka dengan ekspresi-ekspresi emosionalnya.

Jika mau dicoba tanyakan ke setiap pemain yang pernah bermain dengannya, hampir tidak ada komentar yang bernada negatif. Semua memujinya, termasuk lawannya, termasuk pemain yang tak pernah setim dengannya, termasuk dari sesama legend.

Banyak kesalahan yang mungkin pernah dilakukan Buffon. Seperti blunder kocak saat menghadapi Atalanta dan Lecce. Atau kontroversi-kontroversi yang lumayan sering menghinggapinya selama 20 tahun lebih bermain bola.

Seperti ketika enggan mengakui gol hantu Sulley Muntari yang selalu diungkit-ungkit Milanisti. Itu pun Buffon tak mengakuinya dalam konteks pertandingan, bahwa saat kejadian dia hanya mencoba menepis bola dan tak melihat garis.

Bukan berarti dia tak mengakui gol Muntari yang telah melewati garis setelah lihat rekaman pertandingan. Mungkin akan lain komentarnya jika dia ditanya soal rekaman golnya. “Jika saya tahu bola melewati garis gawang saat itu, saya tak akan mengatakan apapun. Yang saya pikirkan hanya menangkap bola,” ucap Buffon.

Atau juga soal kabar perselingkuhannya dengan presenter SKY, Ilaria D’Amico, yang menjadi tunangannya saat ini. Padahal, Buffon sudah cukup lama menjalin cinta dengan model Ceko, Alena Seredova, dan menikahinya sampai punya dua orang anak.

Atau juga mengenai kabar keterlibatan Buffon pada judi bola ketika tahun 2004-2005. Pastinya enggak berkah karena judi itu haram. Memang saat itu belum ada aturan ketat pelarangan pemain bola bermain judi pada laga tertentu, selama bukan pertandingan timnya. Tapi tetap sikap perselingkuhan dan perjudiannya di luar lapangan itu tak patut dicontoh.

Buffon juga pernah mendatangi psikolog usai dikalahkan Milan pada final 2003. Dia lumayan depresi dan itulah yang membuatnya jadi main judi. Tapi seburuk-buruknya orang, pasti bakal taubat juga. Preman saja bisa taubat.

Buffon lalu banyak belajar, mencoba mengubah dirinya menjadi lebih baik. Mencoba menjadi suri tauladan masyarakat bola dengan memberi contoh-contoh terbaik di lapangan. Seperti sikap-sikap yang telah disebutkan tadi.

Segudang rekor dan prestasi lokal bersama Juventus sukses dia raih. Tak perlu disebutkan di sini, bisa Anda lihat sendiri di Wikipedianya. Jangan lupakan gelar Piala Dunia yang untungnya masih bisa dia dapatkan. Gelar yang tak dimiliki Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Nicklas Bendtner, sampai Atep sekalipun.

Dia mungkin tidak memenangkan Liga Champions, meski bisa dia dapatkan bersama klub lain jika mau pindah dari Juve pada 2006. Tapi dia memilih untuk setia, dan itulah yang membuatnya memenangkan hati fans. Buffon mungkin tidak memenangkan Liga Champions, tapi sudah memenangkan hati para fans Liga Champions.

Loyalitas dan sportivitas adalah gelar yang jauh lebih hebat dari sekadar trofi. Jangan lupakan apa kata Buffon bahwa, “Sepak bola bukan hanya bisnis, tapi juga perasaan.”

Main photo: @juventusfc 


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here