Oleh: Paundra Jhalugilang

Latar Belakang

Saga transfer threesome Juventus-Milan yang melibatkan tiga pemuda tampan, Leonardo Bonucci, Gonzalo Higuain, dan Mattia Caldara, sebentar lagi bakal kesampaian. Betulkah ini langkah yang tepat bagi Juventus dan Milan? Terutama Juventini yang masih baperan dengan mantan.

Banyak Juventini yang marah dengan skema tersebut yang seolah merugikan Juventus banget. Sepintas, Juve bakal kehilangan striker jaminan puluhan gol dan bek masa depan Italia. Apalagi dibuangnya ke Milan, otomatis bikin tim pesaing jadi lebih kuat. Sedangkan gantinya, Juve dapat Bonucci yang sudah jelas-jelas dilupakan oleh Juventini.

Ya, semua tahu bahwa Bonu dan Juve berpisah tidak baik-baik usai final Champions 2017 lalu. Kabarnya si Bonu ini berulah dan tak menghormati para pemain Juve lainnya. Akhirnya Juve memutuskan untuk membuangnya, dan kebetulan ada Milan yang pungut.

Saat itu, Juventini lagi sayang-sayangnya dengan Bonu. Maklum, Bonu merupakan bek paling tangguh di Italia dan bahkan di dunia. Apalagi dia dikenal punya ciri khas sebagai ball playing defender, alias pintar mengatur serangan dari belakang, meski bukan belakang gawang.

Juventini geram. Semua pada benci si Bonucci, termasuk penulis artikel ini. Apalagi saat duel Juve-Milan di Allianz Stadium beberapa bulan lalu, Bonucci bikin gol dan melakukan selebrasi. Seolah melupakan kisah kasih yang sudah dijalin dengan Juve selama ini.

Mendadak, enggak ada angin apalagi hujan duit, Bonu mau ajak balikan. Saat skema ini muncul, Juventini dibikin geram lagi, di sisi lain Milanisti pada tertawa. Kok bisa sampai dua kali transfer semacam ini kejadian. Bahkan beberapa langsung menganggap manajemen Juve ini bodoh dan semacamnya.

Wahai Juventini yang budiman. Jangan baper dulu. Pasti ada banyak alasan yang bikin manajemen melakukan ini. Berikut adalah beberapa analisisnya yang biasa-biasa saja ini. Nomor 7 bikin netizen menganga.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1024746386884046848

1. Tujuan Jangka Pendek

Juventus saat ini tampaknya memiliki tujuan jangka pendek, yakni ingin menjuarai Liga Champions dalam waktu 1-2 tahun ke depan. Masuk final dua kali tapi gagal menang jelas bikin mereka penasaran. Juve merasa masih kalah kuat dari Real Madrid dan Barcelona dari segi materi pemain.

Betul, apa yang dimiliki Juve saat ini sudah lebih dari cukup. Tapi hanya cukup memenangkan Seri A, bukan Liga Champions. Manajemen masih merasa belum memiliki pemain super. Tidak peduli berapapun usianya, yang penting bisa juara Champions dalam waktu dekat ini. Makanya, Cristiano Ronaldo didatangkan dengan harga mahal.

Di lini belakang, Juve sempat mengincar Diego Godin yang sudah berusia 32 tahun untuk dipasangkan bersama Giorgio Chiellini. Alternatif lainnya adalah Jerome Boateng yang berusia 29 tahun, berstatus juara Piala Dunia. Jelas bahwa Juve mencari pemain yang sudah matang.

Memang masih ada nama Medhi Benatia, tapi pemain Maroko itu sepertinya kurang meyakinkan di Liga Champions. Masih ingat betul kejadian dengan Lucas Vazquez yang bikin Juve gagal lolos ke semifinal kemarin. Sedangkan Daniele Rugani atau Caldara kelihatannya masih terlalu muda, perlu menimba ilmu lebih banyak lagi dari senior-seniornya.

Barzagli? Pengalaman banget tapi usianya sudah 37 tahun. Musim ini sepertinya tak masuk hitungan, sekadar buat jaga-jaga saja.

Meski bertujuan jangka pendek, bukan berarti Juve tidak membeli pemain muda. Mattia De Sciglio (25 tahun), Federico Bernadeschi (24), Rodrigo Bentancur (21) didatangkan. Musim ini mereka juga merekrut Emre Can (24) bahkan meregenerasi lini pertahanan mereka dengan merekrut Joao Cancelo (24) dan Leonardo Spinazzola (25), serta Mattia Perin (25) untuk menggantikan Gigi Buffon.

Ingatlah bahwa Rugani yang masih 24 tahun pelan-pelan terus diorbitkan. Jangan lupa, Juve juga masih punya Paulo Dybala yang usianya masih seumuran dengan Rugani.

Jadi, enggak ada alasan tuh kalau manajemen Juve dibilang enggak peduli sama regenerasi pemain muda. Sudah banyak pemain-pemain muda yang didatangkan Juve selama dua musim terakhir. Tinggal tunggu waktunya saja, kapan saatnya mereka masuk ke dalam Starting XI.

2. FFP Akibat Pembelian CR7

Setelah Juve punya tujuan jangka pendek, maka apapun dilakukan untuk memenuhi tujuan tersebut. Makanya CR7 didatangkan dengan harga mahal pisan. Hal itu jelas bikin neraca keuangan Juve jadi merah.

Soalnya, musim ini Juve sudah keluar uang untuk membeli Cancelo (40 juta) dan menebus Douglas Costa (40 juta), ditambah Perin (12 juta). Meskipun pembelian Ronaldo ini dicicil dulu 50%, tetap saja totalnya Juve sudah keluar uang 142 juta.

Sedangkan pemasukan mereka nihil. Kwadwo Asamoah, Buffon, dan Stephan Lichtsteiner semuanya keluar gratisan. Paling-paling mereka dapat uang 20 juta dari penjualan Rolando Mandragora ke Udinese, itu juga dicicil tiga kali.

Alhasil, Juve harus menjual pemainnya dengan harga mahal buat menyeimbangkan keuangan biar enggak kena FFP. Ada lima pemain yang berpotensi dijual mahal, yakni Alex Sandro (60 jutaan), Miralem Pjanic (90 jutaan), Dybala (110 jutaan), Rugani (40 jutaan), dan Higuain (60 jutaan).

Tadinya, Juve diperkirakan menjual Alex Sandro. Nyatanya, Sandro mau bertahan gara-gara ada Ronaldo. Pjanic namanya sempat santer mau dibeli Manchester City atau Barcelona, tapi Massimilliano Allegri enggak mau jual. Praktis Pjanic dan Dybala tampaknya untouchable karena jadi sosok kunci dalam taktik Allegri.

Yang memungkinkan adalah Rugani dan Higuain. Rugani siap dilego karena Juve sudah kedatangan Caldara, bek masa depan Italia yang usianya sama, telah membantu Atalanta di Liga Europa, skill-nya bagus, bahkan memiliki insting mencetak gol tinggi macam Sergio Ramos. Di PES saja statusnya Extra Frontman. 

Namun, Rugani adalah produk binaan akademi Juve. Namanya diperlukan untuk memenuhi syarat Homegrown Player Rule. Yakni syarat dari UEFA bahwa sebuah tim harus memiliki minimal delapan pemain yang telah dilatih di negara asal klub serta minimal empat pemain yang berasal dari akademi klub.

Nah, Rugani ini salah satunya, di samping Carlo Pinsoglio, Leonardo Spinazzola, dan Claudio Marchisio. Jadi, kalau Rugani pergi, Juve mesti memasukkan satu pemain dari akademi buat didaftarkan ke Liga Champions. Sayang banget kalau Rugani sampai pergi, lalu digantikan pemain dari akademi yang pengalamannya masih macam remahan kacang di bumbu ketoprak.

Namun, berhubung ada tujuan jangka pendek tadi, maka Juve siap-siap saja melego Rugani untuk mendapatkan seorang bek kelas dunia. Juve belum menolak tawaran 40-50 jutaan dari Chelsea buat Rugani, yang sepertinya tampak menggiurkan. Mereka masih mau cek-cek ombak dulu, belum ambil keputusan.

Tentu saja, Higuain lah yang paling memungkinkan untuk dilego cepat. Pertama, Juve bisa berhemat dari beban gaji yang harus dibayar kepada Higuain. Pemain yang bisa memaki dalam bahasa Argentina itu merupakan pemain bergaji tinggi kedua setelah (tentu saja) Ronaldo si pemain editan.

Higuain digaji 7,7 juta per tahun. Kontrak Higuain masih tersisa tiga tahun, artinya mereka bisa hemat 23,1 juta sampai kontraknya habis. Itu belum termasuk bonus kalau Higuain bikin gol dan juara segala macam.

Kedua, lini depan Juve sudah cukup kuat dengan adanya Ronaldo. Lini depan Juve sudah ada tujuh orang dengan rincian Ronaldo, Dybala, Bernadeschi, Cuadrado, Higuain, Costa, dan Mario Mandzukic. Enggak mungkin tujuh-tujuhnya dimainkan semua, kecuali Juve  enggak mau pakai bek tengah. Alhasil ada yang harus dikorbankan salah satu buat dijual.

Yang paling memungkinkan ya Higuain. Masih laku dijual dengan harga tinggi. Meski servisnya memuaskan dengan membuat banyak gol, tapi  mesin gol Juve musim ini tentu bakal digeser ke Ronaldo, yang mainnya jauh lebih fleksibel.

Apalagi, Juve sudah punya Dybala yang makin matang. Dybala musim lalu mencetak gol lebih banyak dari Higuain. Jadi tampaknya pas, duetnya Dybala dan Ronaldo untuk musim depan.

3. Butuh Bek Berkelas

Pertanyaan berikutnya, Higuain enaknya dijual ke mana? Chelsea kabarnya sudah siap menawar Higuain 60 jutaan secara cash, tapi ternyata enggak kelihatan konkritnya. Milan sempat tertarik, tapi mereka tidak sanggup bayar segitu mahal karena takut kena FFP.

Pucuk dicinta ulam tiba, Bonu mendadak kasih kabar kalau dirinya mau balikan lagi dengan Juve, alasannya karena di Juve ada Ronaldo. Ini yang membuat semuanya jadi menarik. Ibarat sinetron harus ada bumbu perselingkuhan biar makin seru.

Mungkinkah Bonucci yang benar-benar ingin balik ke Juve? Apa jangan-jangan justru Giuseppe Marotta yang mengompori Bonucci? Menawarkan Bonu buat balikan lagi ke Juve. Enggak tahu juga, ini cuma pikiran asal-asalan saja. Soalnya benang merahnya tampak terlihat.

Seperti yang tadi disampaikan, Juve masih butuh satu bek tengah lagi untuk mencapai tujuan jangka pendeknya. Jadi mungkin rencana Juve begini, jual Higuain 50 juta, lalu jual Rugani 40 juta, kemudian beli satu bek berpengalaman kelas dunia, yang gosipnya adalah Godin atau Boateng itu tadi, atau sebut saja Mawar.

Sedangkan Caldara dan Barzagli akan jadi pelapis Chiellini, Benatia, dan Mawar. Setiap musim, Allegri memang selalu punya lima bek tengah. Waktu Bonucci pergi, gantinya adalah Benedikt Hoewedes yang terbukti gatot alias gagal total.

Alih-alih Juve menawar Godin atau Boateng yang harganya bisa jadi tidak murah, mending Juve menawarkan Higuain untuk ditukar tambah dengan Bonucci. Milan cukup tambah 15-20 juta saja untuk mendapatkan Higuain. Kemudian setelah jadi, Juve tinggal jual Rugani ke Chelsea.

Namun, Milan yang kini kembali memiliki Leonardo de Araujo sebagai Direktur Teknis juga pintar. Mereka ogah menerima skema pertukaran itu begitu saja. Milan maunya threesome dengan meminta Caldara sebagai salah satu syaratnya. Soalnya, mereka hilang satu bek andalan, maka harus diganti bek juga.

Tanpa pikir panjang, Juve langsung ho’oh skema tersebut. Bahkan Chelsea yang kebakaran jenggot sempat mengajukan penawaran resmi kepada Higuain, ditolaknya mentah-mentah. Ini artinya, skema ini berjalan sesuai rencana dan maunya si Juve. Kalau mereka mau sekadar jual, sudah pasti pilih Chelsea yang kasih uang cash.

Di sisi lain, banyak Juventini yang menyayangkan Juve mengorbankan Caldara hanya demi Bonucci. Usia 24 tahun ditukar dengan usia 31 tahun, di mana karier Bonucci juga dalam 3-4 tahun lagi bakalan tamat. Ibarat kata mobil baru ditukar dengan mobil bekas.

Caldara sudah dibeli dari Atalanta dari musim lalu seharga 15 juta. Tapi dipinjamkan lagi ke Atalanta, dan baru balik sekarang. Kalau langsung pindah ke Milan, artinya Caldara cuma numpang lewat doang. Padahal, Juventini sudah ingin melihat aksi pemain yang disebut-sebut sebagai ‘The Next Alessandro Nesta’ itu.

Juve ternyata tidak memikirkan itu. Semua balik ke tujuan awal. Juve butuh satu bek berpengalaman dan akan mengorbankan satu bek mudanya. Lebih mending mana, kehilangan Caldara atau Rugani? Kalau disuruh milih antara Rugani atau Caldara, Juve mending pilih Rugani.

Selain faktor homegrown, Rugani sudah tiga musim membela Juve. Sudah berpengalaman di Liga Champions bahkan menghadapi Lionel Messi. Di musim pertamanya, Rugani langsung main 20 kali, sebuah angka yang banyak bagi seorang pemain muda di Italia yang main di klub sebesar Juventus.

Sedangkan Caldara, memang punya skill bagus kalau dilihat di Youtube. Tetapi dia belum teruji bermain bersama tim besar. Banyak pemain yang kalau main di tim kecil itu bagus, tapi pas main di tim besar ternyata melempem. Mentalnya bukan mental tim besar. Makanya Juve masih agak gambling kalau mempertahankan Caldara ketimbang Rugani.

Selain itu, ada kemungkinan Caldara akan jadi pilihan keempat bahkan kelima untuk mengisi jantung pertahanan. Jadi kalau dia dipertahankan, sepertinya bakal jarang mainnya.

“Terlepas dari apa yang sudah dilakukan Bonucci, dia jauh lebih berpengalaman dari Caldara. Apalagi jika kebutuhan Juve adalah memenangkan Liga Champions,” ujar Sergio Brio, legenda Juve.

Secara finansial, Caldara dibeli 15 juta lalu ditukar Bonucci yang value-nya 40 juta. Berarti Caldara ini seharga 40 juta, artinya walau tak bermain di Juve tapi mereka sudah untung 25 juta. Bayangkan, pemain yang sama sekali enggak pernah main di Juve bisa kasih keuntungan senilai 25 juta.

Itulah mengapa, Juve setuju dengan skema threesome ini. Juve tak perlu menjual Rugani untuk digantikan Godin atau Mawar. Soalnya sudah ada Bonucci yang kualitasnya terjamin. Di Milan juga permainannya tak menurun, selalu main 90 menit dan menjadi andalan utama.

“Kabar transfer ini jelas sangat mengejutkan saya. Pada masa saya dahulu, adalah suatu yg mustahil bisa mendapatkan kesempatan kedua. Tetapi saya pikir kesepakatan itu tetap positif, apalagi dapat memenuhi kebutuhan Allegri,” ucap Dino Zoff.

Lalu bagaimana dengan Milan? Apakah mereka akan untung? Kira-kira sama untungnya dengan Juve. Kalau tidak ada yang untung, mana mungkin mereka merealisasikan transfer ini.

Semua kembali ke tujuan. Tujuan Milan berbeda dengan Juve. Tujuan mereka saat ini adalah kembali ke trek, sambil berinvestasi pemain-pemain muda untuk jangka panjang. Saat ini mereka punya Gianluigi Donnarumma, Daniele Conti, Alessio Romagnoli, Davide Calabria, Manuel Locatelli, Patrick Cutrone, dan Franck Kessie.

Datangnya Caldara tentu bakal jadi investasi besar, dan memberikan kebaikan juga buat Caldara yang tampaknya akan mendapatkan menit bermain lebih banyak ketimbang di Juventus.

Milan juga cuma rugi 2 juta euro dari harga beli Bonucci musim lalu (42 juta), tapi bisa mendapatkan bek masa depan Italia tanpa mengeluarkan uang barang sedikit. Andai mantannya Atalanta itu tampil bagus, dalam dua-tiga tahun bisa saja Milan menjual Caldara seharga 70-80 juta.

Selain itu, “I Rossoneri” bakal kedatangan striker kelas dunia yang selalu memberikan minimal 15 gol setiap musimnya. Skema uangnya juga enak, pinjam dulu semusim cukup mengeluarkan 18 juta. Kalau cocok, musim depan tebus sisanya.

Lalu siapa yang lebih diuntungkan? Tergantung dari tujuannya masing-masing. Kalau Milan merasa lebih diuntungkan karena tujuannya untuk memperkuat skuat agar kembali ke trek sembari berinvestasi jangka panjang. Kalau Juve merasa lebih diuntungkan karena tujuannya ingin dapat pemain matang supaya bisa cepat juara Liga Champions yang sudah lama diidamkan dari zaman Soeharto.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya, ada dua opsi yang dimiliki Juve untuk mengakali FFP dan tetap mendatangkan bek kelas dunia. Opsi pertama adalah menjual Higuain dan Rugani secara tunai ke Chelsea, lalu membeli seorang bek sebut saja ‘Mawar’. Keuntungannya Juve bisa dapat uang sampai 90 jutaan, lalu budget buat beli Mawar taruhlah 30 jutaan, maka mereka akan pegang 60 jutaan.

Tapi risikonya juga besar, mendapatkan sosok bek berpengalaman seperti Mawar tak segampang order GO-JEK siang-siang. Butuh waktu, belum lagi negosiasi dengan tim-tim besar macam Atletico atau Bayern Muenchen. Malah bisa-bisa Juve keluar uang sampai 40-50 jutaan.

Sedangkan opsi kedua adalah skema threesome itu tadi. Juve lepas Higuain seharga total 54 juta ke Milan, lalu merelakan Caldara untuk dibarter dengan Bonucci. Juve sama-sama bisa jual striker dan mendapatkan seorang bek kelas dunia.

Keuntungannya, Juve mendapatkan bek berpengalaman yang tahu seluk-beluk klub lamanya. Kualitasnya tak diragukan lagi saat bertandem bersama Chiellini. Juve juga tak kehilangan Rugani, pemain yang memenuhi persyaratan Homegrown buat Liga Champions. Bahkan jauh lebih berpengalaman ketimbang Caldara.

Artinya, Juve akan mengembalikan lagi pertahanan kokoh dua musim lalu yang dihuni lima bek kuat: Barzagli, Benatia, Chiellini, Rugani, dan Bonucci.

Risikonya, Juventininya pada baper. Masih kesal dengan Bonucci yang pergi saat lagi sayang-sayangnya. Apalagi kabarnya Bonu yang bikin perpecahan di ruang ganti “Si Nyonya Tua”. Dia juga katanya dimusuhi alias kurang disukai oleh sebagain pemain Juve. Jadi dikhawatirkan akan merusak lagi keharmonisan tim.

Belum lagi beberapa anggapan soal pemain mantan yang biasanya tak akan sesukses di kesempatan pertama. Biasanya kesempatan kedua gagal total. Contohnya sudah pernah dirasakan Fabio Cannavaro saat kembali ke Juve pada 2009.

Namun, kalau dilihat dari analisis situasi yang sudah digambarkan itu tadi, Juventini tak seharusnya baper-an. Manajemen Juve lebih tahu bagaimana suasana ruang ganti di timnya. Mungkin saja Bonu sudah meminta maaf sejak lama, apalagi kemarin sempat lebaran. Di Italia saja, tak ada protes apapun yang dilancarkan fans Juventus asli sana.

Jadi kalau perkara bakal merusak harmonis di ruang ganti, Juve pasti enggak bakalan merealisasikan transfer threesome ini. Mereka lebih tahu daripada fans-nya.

Manajemen Juve juga tak akan ambil pusing kalau risikonya cuma dari fans. Biasanya baper-nya fans cuma berlangsung beberapa bulan doang. Bonucci tinggal mengembalikan performanya, dan membuktikan bahwa skema threesome ini memberikan keuntungan buat Juventus.

Lalu soal kehilangan Caldara atau Rugani, Juventini pasti maunya tak kehilangan dua-duanya. Harapannya ingin melihat duet Caldara-Rugani di masa depan menggantikan Chiellini-Barzagli. Juga berharap dua Center Back (CB) timnas Italia masa depan bisa diwakili dari klub kesayangannya.

Tapi tak usah bersedih. Romagnoli, Caldara, dan Rugani memang CB masa depan Italia saat ini, tapi bukan berarti tak ada CB-CB lain di luar sana. Juve pasti akan menemukan lagi Caldara-Caldara lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin, Caldara bisa balik ke Juve, atau justru Romagnoli yang dibeli Juve pada tahun yang akan datang.

Masa depan sepak bola tak ada yang tahu. Empat tahun lalu, siapa yang pernah menyangka Bonucci bakal gabung Milan, lalu kini balik lagi ke Juve. Empat tahun lalu, siapa yang pernah menyangka, Juventus mendatangkan pemain sekaliber Ronaldo.

So, buat Juventini kalau bisa tak usah baper lagi. Jangan bersedih (La Tahzan!). Jangan cuma menolak skema transfer ini hanya dari sisi perasaan, tapi lihat juga dari perspektif lainnya. Silakan dinikmati tim supernya Juventus musim ini.

Main photo: @MailSport


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here