Indonesia harus menerima kekalahan menyesakkan lewat adu penalti di babak 16 besar melawan Uni Emirates Arab (UAE). Semua sudah tahu berapa skornya. Meski begitu, perjuangan timnas U-23 patut diacungi jempol, mulai dari jempol kaki sampai jempol orang lain sekaligus bisa dipakai.

Maklum saja, Indonesia sudah tertinggal dua kali lewat gol penalti enggak jelas. Namun, ternyata perjuangan Stefano Lilipaly dan kawan-kawan benar-benar sampai titik darah penghabisan. Enggak kalah dari perjuangan Anthony Ginting di badminton kemarin.

Pada laga kali ini, Indonesia tampil di Stadion Wibawa Mukti, bukan di Patriot Candrabhaga, Pakansari, Gelora Bung Karno, apalagi Lebak Bulus yang sudah berubah fungsi. Ya sekali-sekali ganti suasana.

Toh, Stadion Wibawa Mukti benar-benar menghadirkan atmosfer berbeda. Stadionnya megah berasa stadion-stadion di Korea. Rumputnya warna hijau, kayak di Eropa. Warna tiang gawangnya juga putih, mirip gawang-gawang di La Liga. Luar biasa.

Timnas tampil dengan kostum merah-hitam. Tumben kali ini celananya warna hitam, bukannya warna putih. Mungkin karena UAE pakai kostum putih celananya putih juga. Takutnya nanti pemain Indonesia saat lagi jongkok, bakal bingung lihat ada celana putih, dikira kawan ternyata lawan.

Indonesia sangat mengandalkan atmosfer stadion yang didukung ribuan suporter. Bukan cuma dua atau tiga orang saja yang menonton, tapi ribuan. Wajar kalau mereka begitu bersemangat.

Peluang pertama didapat Indonesia saat tendangan asal-asalan Febri Hariyadi kena deflect kaki pemain UAE, lalu coba disambut oleh Beto Goncalves. Sayang, Beto cuma PHP karena hanya menendang angin saja. Bola bisa diamankan di pelukan dada begeng kiper UAE bernama Mohamed Alshamsi.

Petaka datang pada menit ke-20-an. Andy Setyo gagal mengantisipasi pergerakan pemain UAE, Zayed Alameri, sehingga memaksanya menjatuhkan si Zayed.

Penalti diberikan buat tim lawan, bola diambil sendiri oleh Zayed. Zayed lalu menendang bola begitu bebas, namanya juga penalti, bebas ditendang ke mana saja, ke penonton yang banyak bacot juga boleh. Tapi dia memilih ke kiri, sedangkan Andritany Ardhiyasa geraknya ke kanan. Laga berakhir di babak pertama dengan skor 0-1.

https://twitter.com/TimnasGarudaIna/status/1032983689662062592

Di babak kedua, timnas meningkatkan intensitas serangan dengan memasukkan Septian David Maulana. Setyo diganti karena banyak lakukan kesalahan meski sudah diakuinya.

Hasilnya? Indonesia langsung mencetak gol lewat Beto pada menit ke-52. Sebuah umpan rendang dicampur kuah opor dari Septian bukan Dwi Cahyo langsung disambut Beto lewat tendangan standar tapi bikin kiper Alshamsi mati rasa. Wibawa Mukti langsung bergemuruh.

Sayangnya, kegembiraan kita harus sirna lagi-lagi lewat sebuah tendangan penalti. Kalau pada penalti pertama jelas pelanggaran, tapi penalti kedua agak diragukan. Memang betul bahwa kaki Hansamu Yama sedikit menyepak Shaheen Aldarmki. Namun, pelanggaran tersebut terbilang soft banget kayak brownis Bandung.

Tapi wasit Shaun “The Sheep” Evans dengan mudahnya kasih penalti. Padahal hal itu bisa diperdebatkan dan didiskusikan. Kalau perlu dibawa ke seminar-seminar biar banyak pendapatnya.

Protes warga Indonesia tak dipedulikannya. Penalti tetap dilakukan oleh Zayed yang kali ini sok-sokan pakai jurus Panenka. Sayangnya, Andritany tertipu begitu mudahnya.

Indonesia memasukkan Saddil Ramdani dan Ilham Udin Armayn buat makin menambah serangan. Hasilnya cukup lumayan, serangan meningkat dan bikin UAE kocar-kacir.

Bahkan, mereka sampai banyak melakukan akting segala padahal sedang tidak ada casting di sana. Bolak-balik para pemain UAE ini terjatuh dan pura-pura cedera. Memang ada yang cedera betulan, tapi sebagian besar cedera bohong-bohongan. Buktinya pada bisa bangun lagi.

Segala kiper habis jatuh mau menepis bola lah pakai pura-pura cedera paha. Jatuh sendiri, cedera sendiri. Jangan sampai didoakan warga Indonesia nanti dia makan sendiri, tidur sendiri, nyuci sendiri, mati pun sendiri. Kecuali dikubur massal.

https://twitter.com/FootyJokesID/status/1032945307934318593

Sampai akhirnya tiba menit yang ditunggu-tunggu. Berhubung banyak casting drama FTV, maka Injury Time berlangsung sampai enam menit. Di sinilah “Garuda Muda” memanfaatkannya.

Sebuah umpan silang membelah lautan dari Saddil sukses disontek dengan sangat sangat manis. Sebuah sontekan pecel lele kalau kata komentator. Asyik banget.

Sontak, Wibawa Mukti bukan bergemuruh lagi, melainkan gempa bumi sesaat. Jangankan yang di Wibawa Mukti, yang di kantor terutama kantor redaksi Bolatory juga bersorak kegirangan, berisik banget sampai mungkin ganggu tetangga.

Entah apa jadinya yang ada di stadion, menyamakan kedudukan pada menit-menit akhir betul-betul seperti orgasme. Tak peduli kenal atau tidak, dirayakan bersama, berpelukan bareng-bareng, tak peduli juga bau ketiaknya bagaimana.

Wasit akhirnya terpaksa kerja tambahan. Harusnya bisa selesai 1,5 jam, kini tambah 30 menitan lagi. Perpanjangan waktu dilakukan, tak banyak peluang dihasilkan.

Sempat ada satu peluang emas bercampur intan permata dari Ilham Udin yang menembakkan bola depan gawang. Warga Indonesia pasti sudah berteriak gol, tapi mampu ditepis dengan baik oleh sang kiper. Apa daya, belum rezeki.

Sampai akhirnya tiba adu penalti. Memang pada babak tos-tosan macam ini, Indonesia kerap apek. Bau banget macam kabel terbakar. Dua algojo Indonesia, Septian dan Saddil gagal melakukan tugasnya. Sama seperti Andritany yang tak bikin tepisan apa-apa, malah tiang yang sukses menepisnya.

Kendati kalah, perjuangan timnas patut diapresiasi. Secara peringkat FIFA, memang UAE jauh di atas Indonesia, bahkan masih hitungan 100 besar. Tapi itu saja, bisa tahan imbang 2-2 sudah keren banget. Sepertinya pelatih Luis Milla masih layak dipertahankan.

Tak mudah membangun timnas dalam waktu beberapa tahun, perlu dilakukan bertahun-tahun seperti Jerman. Joachim Loew saja dari 2006 masih belum diganti. Bahkan gagal Piala Dunia 2018 saja masih tak diganti. Semoga Pak Edy mendengar harapan ini.

Target empat besar jelas berat buat Indonesia yang di zona Asia Tenggara saja enggak pernah juara. Tapi bisa sampai melihat perjuangan lawan UAE, sepertinya Timnas sudah memuaskan para warga. Hanya sayang kalah oleh wasit dan penalti saja.

Setidaknya itu yang dikeluhkan Milla. Dia cuma masih kesal dengan keputusan wasit Shaun The Sheep yang memberikan penalti sampai dua kali. Wajar lah Indonesia kalah, UAE dapat kesempatan penalti sampai tujuh kali, Indonesia cuma lima. Bahkan, Milla secara terang-terangan menyebut Shaun bermain untuk UAE.

“Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kami, tentu sedih dan kecewa. Saya terbawa oleh perasaan karena anak-anak sudah luar biasa. Anak-anak ini tidak layak tereliminasi. Saya harap suporter tetap mengapresiasi perjuangan mereka,” ujar Luis Milla, dikutip Bola.com. 

“Kami kesulitan menghadapi Uni Emirat Arab karena mereka memiliki pemain yang tampil sangat baik, yaitu wasit. Penalti kedua itu tak seharusnya terjadi. Wasit hari ini tidak punya level yang bagus untuk memimpin laga ini. Dia tidak punya hati dan tidak bisa melihat perjuangan pemain di lapangan. Saya merasa dia tidak layak untuk terus memimpin pertandingan di Asian Games.”

Tetap semangat, Indonesia. Kalah tidak apa-apa, yang penting dapat emas.

Main photo: Goal

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here