Milan sedang dalam sorotan tajam setajam silet Feni Rose. Bagaimana tidak, sudah menghabiskan uang lebih dari 200 juta euro untuk beli 11 pemain tapi mereka masih memble penampilannya.

Ya, “I Rossoneri” masih tercecer di peringkat ketujuh membuat status mereka dalam beberapa tahun terakhir jadi tim medioker. Kedatangan investor dari China ternyata tak banyak berpengaruh dalam 2-3 bulan terakhir.

Mengubah tim jadi jaya lagi memang tak bisa seinstan bikin Indomie goreng pakai telur yang harumnya ke mana-mana itu. Butuh waktu pelan-pelan untuk mengubahnya.

Namun, kekalahan di tiga laga dengan skor cukup telak bikin gerah pengamat bola baik yang profesional sampai yang dadakan di media sosial. Kok bisa kalah telak dari Lazio 1-4, Roma 0-2, dan Sampdoria 0-2? Padahal skuat sudah lumayan mumpuni.

Ada yang bilang, Vincenzo Montella-lah yang kapasitasnya belum mumpuni. Mantannya Roma itu belum mampu meramu tim dengan enak dan lezat.

Tapi, pendapat lain diungkapkan manajer umum Catania, Pietro Lo Monaco. Lo Monaco beranggapan kalau CEO Milan yang baru, Marco Fassone, justru yang bikin rusuh. Dia menilai kalau Fassone tidak tahu apa-apa soal bola alias sotoy.

“Fassone tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Jadi, dialah yang menyebabkan kekacauan dan membuat situasi menjadi sulit bagi pelatih yang sangat bertalenta seperti Montella,” ucap Lo Monaco, dikutip Liputan6. 

Pembelian besar-besaran dalam satu musim memang bikin banyak pihak mengangkat alisnya tanda terkejut. Jarang ada sebuah tim langsung membeli pemain lebih dari 10 pemain sekaligus dalam satu kesempatan.

Biasanya dicicil pelan-pelan, macam mencicil motor kreditan. Bursa transfer musim panas beli lima pemain dulu. Bursa transfer musim dingin beli tiga. Lalu musim depannya beli tiga lagi.

Bukan cuma Lo Monaco, bekas petinggi Napoli dan Udinese, Pierpaolo Marino, sebelumnya juga mengkritik kebijakan pembelian Leonardo Bonucci. Pembelian Bonucci sejatinya tak ada dalam rencana Milan musim panas kemarin.

Namun, melihat situasi renggangnya hubungan Bonucci dengan Juventus langsung dimanfaatkan oleh Milan. Kesempatan dalam kesempitan pikirnya. Ternyata berhasil, usaha coba-coba melempar manggis mampu disambut baik oleh Juve.

Sayang, pembelian Bonucci tak banyak mengubah Milan dalam beberapa laga awal. Mungkin masih kurang turn on. Inilah yang disayangkan oleh Marino.

“Saya pikir Milan menyesal beli Bonucci. Montella tak ingin mengganti strategi ke tiga pemain belakang. Tapi, dia terpaksa mengubah rencananya seiring dengan kedatangan Bonucci. Mereka harusnya membelanjakan uang Bonucci untuk mendatangkan striker papan atas,” katanya.

Tak cuma mereka berdua, mantan presiden Milan, Silvio Berlusconi, ikut-ikutan juga. Penunjukkan Bonucci sebagai kapten dinilai kurang pas. Padahal statusnya masih anak baru, belum tahu suasana komplek.

“Bonucci langsung jadi kapten padahal masih dengan image mewakili Juventus karena dia bertahun-tahun di Juventus. Seharusnya, Montolivo tetap menjadi kapten. Saya tidak mengerti kebijakan transfer Milan. Saya tidak akan pernah membeli 11 pemain baru pada satu bursa transfer musim panas,” katanya Berlusconi yang sudah kakek-kakek itu.

Kritikan memang selalu datang saat masa-masa jahanam. Harap bersabar, ini ujian. Memang mengecewakan, ya Milan.

Main photo: 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here