Oleh: Paundra Jhalugilang

Leonardo Bonucci akhirnya resmi bergabung dengan Milan. Bak petir siang-siang, padahal memang lagi hujan, tiba-tiba kok bisa pemain seperti Bonucci bisa gabung dengan rival kota sebelah. Jelas jadi pertanyaan besar bagi warga Juve dari segenap penjuru dunia.

Kabar tersebut memang mengejutkan mengingat Bonucci merupakan aset terbesar Juve di lini belakang. Dari segi kemampuan bertahannya tak perlu diragukan lagi. Trio BBC adalah yang paling mantap sejagat raya. Saingannya mungkin cuma duetnya Sergio Ramos dan Raphael Varane.

Bonu juga tipikal bek modern. Unik, jarang-jarang ada pemain belakang yang piawai memberikan umpan panjang tepat sasaran. Bahkan mampu menggocek dan mencetak gol layaknya striker.

Tak cuma itu, pemain ganteng itu juga disebut-sebut bakal menggantikan peran Gianluigi Buffon, meneruskan Giorgio Chiellini, dan Claudio Marchisio sebagai pemimpin berikutnya. Bahkan, banyak yang bilang mantannya Inter itu bakal jadi legend di Juve.

Namun apa daya, harapan tinggal lah harapan. Hidup tak seindah ending-nya film Ada Apa Dengan Cinta 2. Penggemar Juve sedih tak terkira, menangis dibuatnya, bahkan sampai ada yang tak bisa tidur. Bukan apa-apa, karena ya memang belum mengantuk saja.

Tak perlu dikesali, kenapa kok Juve mau-maunya menjual pemain bagus itu ke klub rival. Kenapa tak mempertahankannya saja? Kenapa tak menjualnya ke klub luar negeri?

Jawabannya sederhana, karena memang Bonucci sengaja dibuang Juventus. Atau dengan kata lain, Juventus yang membuang Bonucci. Lho kok bisa?

Dijual atau Dibuang?

Semua pasti sudah dengar gosip-gosip sedap ala-ala Lambe Turah saat final Liga Champions kemarin. Gosipnya pemain Juve berselisih, terbagi dua kubu, dan itulah mengapa pada babak kedua klub berkostum putih-hitam kayak kostum penjara itu tampil memble. Langsung terbantai tiga gol!

Jarang-jarang Juve bisa lemah begitu karena biasanya pertahanan Juve sangat kokoh. Itulah pertanyaan orang sedunia, kecuali Rafathar yang baru berusia satu tahun lebih.

Usut punya usut, memang gosipnya ada kabar tak enak di lini belakang mereka. Berawal dari Bonucci yang mengkritik Paulo Dybala gara-gara kartu kuning yang diterimanya. Lalu Dybala tak terima dan dapat pembelaan dari Andrea Barzagli.

Barzagli sepertinya kesal karena Bonucci sendiri melakukan kesalahan saat gol pertama Cristiano Ronaldo. Dia tidak berada di posisi yang diinstruksikan Gianluigi Buffon. Akibatnya Ronaldo mudah menendang bola dan bola hanya terkena ujung kakinya Bonu sehingga berbelok arah.

“Anda benar-benar sulit menjalankan instruksi Buffon agar tidak berada di garis,” kata Barzagli saat itu, menurut sumber orang dalam di klub, seperti dikutip Viva. 

Di sini datanglah Dani Alves yang membela Bonucci. Adu mulut terjadi, melibatkan Giorgio Chiellini dan Mario Mandzukic. Muncul keberpihakan.

Buffon mencoba melerai, tapi malah kena semprot Alves dan menghinanya. “Sayang sekali, tim ini memiliki kiper tua yang dikutuk untuk gagal di Liga Champions. Bukan begitu, Leo?”

Di sinilah puncak segala-gala. Banyak pemain yang tak suka dengan hinaan Alves kepada Buffon. Barzagli sudah naik pitam dan minta Alves untuk kasih respek kepada Buffon. Begitu juga pemain-pemain lainnya.

Massimilliano Allegri kemudian datang untuk memisahkan dan mencoba memberi instruksi. Begitu juga dengan Buffon, dengan jiwa besarnya tak terpancing dengan ajakan kelahi Alves.

Kekacauan terjadi, kekalahan menghampiri. Juve kalah telak dari Madrid, memupuskan semuanya. Semua bersumber dari dua orang, Alves dan Bonucci. Semua memang belum dipastikan kebenarannya, tapi menurut Lambe Turah, gosip adalah fakta yang tertunda.

Bonucci Alves
Kabar soal ruang ganti pemain di final UCL yang ramai di media sosial. (Source: http://www.everydayalert.com)

Alves sendiri sudah mencoba mengklarifikasinya bahwa tak ada perkelahian di ruang ganti. Namun, sepertinya sudah banyak orang yang tak percaya. Cuma sekadar sepik doang.

“Kami semua menderita setelah gagal meraih treble winners. Kami berbicara kekalahan itu hingga jam enam pagi. Anda jangan asal berbicara tanpa tahu hal yang terjadi sesungguhnya,” katanya dikutip FourFourTwo. 

Tapi entah mengapa, Alves ingin cabut dari Turin. Padahal tak ada angin tak ada hujan. Gosip Juve ingin memutus kontraknya ternyata benar.

Alves sudah pergi ke PSG, meski sempat PHP-in Manchester City. Kini giliran pembuat onar satu lagi, si Bonucci, yang harus dibuang.

Sebelumnya memang Bonu sudah slek dengan Allegri saat melawan Palermo. Dia kedapatan marah-marah bahkan sampai dibilang bicara kasar seperti Awkarin. Mungkin semacam “aspal”, “batu karang”, “amplas”, dan sebagainya.

Pihak klub pun menghukumnya. Tapi masalah jadi makin pening kalau memang gosip di final Liga Champions itu terjadi.

Dari situlah sudah muncul isu Bonucci akan meninggalkan Juve. Klub berusaha menjual bek berusia 30 tahun yang jago bahasa Italia itu ke City dan Chelsea. Apalagi Antonio Conte sudah ngebet banget bisa reunian, macam reuni anak SMA.

Namun, istri Bonucci yang merupakan seorang wanita menolaknya. Dia tak mau jauh-jauh dari Italia. Mungkin repot bawa-bawa anak, semua urusan masak, laundry, sampai pembantu sudah cocok di Italia. Mau datangkan pembantu dari Indramayu jaraknya jauh sekali. Begitu mungkin pikirnya.

Di sinilah Milan boleh beruntung. Pas kebetulan punya uang, langsung melihat celah tersebut dan ditawarlah si Bonu. Coba-coba melempar manggis kalau katanya Didi Kempot.

Berhubung hanya Milan yang memberikan tawaran, dan yang punya uang segitu banyak saat ini, maka tak ada pilihan lain bagi Juve untuk menerima tawarannya. Pertanyaannya, kenapa Juve tega membuang kedua pemain itu? Apakah tak ada kata maaf untuk mereka berdua?

Mungkin saja ada, jika kedua pemain itu memberikan respek dan meminta maaf. Masalahnya, apakah mereka sudah meminta maaf? Tak ada yang tahu.

Apalagi muncul isu juga bahwa Dybala lah yang menyebabkan perselisihan di ruang ganti tersebut. Sampai muncul isu kecemburuan Bonucci yang cuma digaji 3 juta euro per tahun, beda jauh dengan Dybala yang sampai 7 juta euro.

Gap-Gap-an di Ruang Ganti

Pasca-final, sepertinya muncul gap-gap-an macam anak kuliahan. Bonucci dan Alves seolah seperti dimusuhi oleh sebagian besar pemain Juve. Suasana tim jadi sudah tak harmonis. Apalagi bila sampai dicap biang keladi kekalahan final Liga Champions.

Yang menarik, saat Bonucci resmi mengumumkan kepindahannya, hanya Buffon yang mengucapkan selamat tinggal. Disusul Barzagli meski sudah rada basi, mencoba meredakan situasi seolah tak ada apa-apa.

Pemain lainnya? Tidak ada. Malahan ada yang menyindir seperti Chiellini dan Mandzukic yang langsung mengganti profile picture masing-masing tepat setelah pengumuman Bonucci ke Milan.

Chiellini mengganti ava fotonya dengan tangan yang menggenggam logo Juve di dadanya. Sedangkan Mandzukic mencorat-coret pipinya dengan tinta hitam-putih, macam mau kampanye pemilu. Untung tidak sampai dikira mendukung partai tertentu, bisa-bisa dianggap keberpihakan.

chiello insta

Mi stanno attribuendo parole che non ho MAI detto riguardo a Dani e Leo. La gente che mi conosce sa che non sono il tipo che parla alle spalle. Se devo dire qualcosa la dico in faccia e di sicuro queste non sono MIE parole. Tranquilli ragazzi e' un fake😂😂👊🏻 Words have been attributed to me regarding Dani and Leo. I have NEVER said such things. Who knows me knows that I never talk behind anyone's back. If I have to say something I always speak face-to-face and those where NOT my words Don't worry guys, FAKE😂😂👊🏻 Izmišljen je razgovor sa mnom vezan za Danija i Lea. NIKADA nisam izjavio takvo nešto. Tko god me poznaje zna da nikada ne govorim ljudima iza leđa. Ako imam nešto za reći uvijek to kažem u lice, a ovo nisu moje riječi. #forzajuve #finoallafine #mm17🌪

A post shared by Mario Mandžukić MM 17 (@mariomandzukic_official) on

Jika benar ada gap semacam itu, maka keputusan Juve menjual Bonucci merupakan keputusan yang tepat. Harga 40 juta euro banyak yang bilang masih terlalu murah, tapi Juve ibarat kata jual kepepet. Hitung-hitung penglaris.

“Apakah saya terkejut dengan transfer ini? Di satu sisi, ya. Tapi di sisi lain, tidak, karena melihat apa yang terjadi antara Bonucci, pelatih, dan klub. Di klub sebesar Juventus, hal itu tidak boleh terjadi. Juve bisa mengorbankan pemain top karena mereka ingin atmosfer yang bagus di ruang ganti,” kata mantan striker Juve, Paolo Di Canio, dikutip FourFourTwo.

Filosofi Klub

Juve memang tipikal klub yang sangat menghargai antar individu satu sama lain. Itu sudah menjadi kultur, rasa respek yang tinggi harus ada di antara pemain dan pelatih. Mungkin bahasa sederhananya senioritas.

Juve tak mau ada pemain songong di timnya. Mereka tak mau ada pemain yang susah diatur, pembuat onar, sok-sokan, dan petentang-petenteng. Semua soal sikap. Itulah mengapa mereka tak pernah berminat merekrut pemain macam Mario Balotelli dan Antonio Cassano.

Juga tak boleh ada pemain yang namanya lebih besar dari klub. Jika ada yang merasa jagoan, silakan pergi. Meski pemain bintang sekalipun. Bagi Juve, tak ada gunanya mempertahankan pemain yang sok hebat, sok jago, dan belagu. Juve bukan tim untuk pemain seperti itu. Itulah filosofi mereka.

Hal itu bahkan diakui Cassano, pemain berandal yang menyatakan tak pernah minat gabung Juve. Dia menilai klub model Juve adalah klub yang rada konservatif. Terlalu kaku, terlalu disiplin, terlalu mengekang. Tak cocok untuknya yang ingin serba bebas. Sakarepmu ndewe kalau kata orang Jawa.

“Saya pernah tiga kali menolak ke Juve, mereka hanya menginginkan seorang prajurit. Mereka ingin pemain yang mau mantaati arahan mereka tanpa pengecualian,” katanya, lima tahun silam.

Itu adalah gambaran kalau Juve memang klub yang penuh aturan. Kalau mau masuk Juve, mesti disiplin, ikuti segala perintahnya, jauhi larangannya. Tak boleh semena-mena.

That’s why, Juve melihat hal itu di sikap Bonucci dan Alves. Keduanya sudah dicap pembangkang karena tak ada lagi rasa respek dalam diri mereka.

Khususnya Bonucci, memang belakangan sudah sering terlihat berbuat ulah. Memang bukanlah ulah yang macam-macam, tapi bisa terlihat dari hal kecil saja.

Bonu memang punya temperamen yang emosional. Belakangan malah sering kedapatan memarahi rekan setimnya. Kadang melakukan protes berlebihan yang berujung kartu padahal kapasitasnya bukan kapten. Lagaknya rada petentang-petenteng.

Mengapa seperti itu? Apakah dia merasa dirinya pemain bintang? Mungkin saja. Arogansi dan star syndrom mungkin secara tak sengaja ada di kepribadian Bonu. Apalagi merasa dirinya calon pemimpin dan legend di Juve.

Sayangnya, sikapnya suka kelewatan. Bikin pemain lain tak nyaman, begitu juga Allegri yang merasa tak dihargai saat melawan Palermo itu.

Namun, sang pemain tak bisa disalahkan sepenuhnya. Silakan salahkan klub yang punya filosofi demikian. Lebih baik buang satu virus, daripada bisa merusak keharmonisan tim seluruhnya. Begitulah cara berpikirnya Juve. Suka atau tidak suka.

Memang semuanya belum bisa dipastikan kebenarannya. Siapa yang benar siapa yang salah. Bisa saja pihak protagonisnya justru ada di Bonucci dan Alves.

Tapi jika Juve menjual Bonucci dan Alves saat sedang bagus-bagusnya, maka hal itu jadi pertanyaan besar dan segala asumsi bisa menjadi benar.

Bagaimana? Berminat gabung Juve? Silakan jaga sikap dan emosi Anda. Jangan sampai terkikis oleh Juve yang sangat berfilosofis.

Main photo: Goal


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here