Timnas Indonesia U-19 harus mengakhiri mimpinya untuk mengulangi kejayaan lima tahun silam. Pada babak semi final Piala AFF U-19, “Garuda Muda” harus takluk di tangan Malaysia setelah bermain selama 90 menit tanpa bisa nanggung macam di rental PS.

Kebiasaan soalnya kalau dikasih nanggung terus. Awalnya lima menit, lama-lama kalau nanggung sampai satu jam.

Tidak ada babak extra time, golden goal, ataupun silver goal, apalagi perunggu. Pada pertandingan yang dilanjutkan dengan babak adu penalti tersebut, Malaysia berhasil mengalahkan Indonesia dengan skor 3-2.

Padahal amunisi Indonesia sudah bertambah kuat dengan kedatangan Egy “Messi” Maulana. Apakah Egy justru benar-benar menjadi ‘Messi’ bagi Indonesia? Entahlah. Namun pada pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo tersebut Indonesia sempat unggul cepat.

Pertandingan baru berjalan 30 detik, Saddil Ramdani langsung dilanggar di kotak penalti Malaysia. Penetrasinya melalui sisi kanan membuat pemain Malaysia melakukan pelanggaran. Wasit langsung menunjuk titik putih di lapangan tanda penalti. Kalau titik merah di wajah namanya jerawat.

Egy yang mengambil tendangan tersebut berhasil menuntaskannya dengan sempurna. Indonesia unggul 1-0 di menit kedua.

Namun bermain di hadapan ribuan suporter lawan tak membuat “Harimau Muda” Malaysia jadi kicep dan berubah jadi “Kucing Muda”. Mereka tetap memberikan perlawanan hingga akhirnya mampu menyamakan skor di menit ke-14.

Melalui sebuah sepak pojok, Muhammad Syaful berhasil menyundul bola umpan lambung tersebut. Mau ditendang susah sebab bola sangat tinggi. Kecuali Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale mungkin bisa melakukannya.

Kualitas individu pemain Indonesia sempat merepotkan barisan pertahanan Malaysia. Sebuah tendangan bebas dari pinggir lapangan di menit ke-21 sempat membuat gawang Malaysia bergetar meski tidak dalam vibrate mode. Malaysia pun sempat beberapa kali mengancam balik melalui permainan terbuka meski tidak buka-bukaan sampai telanjang dada.

https://twitter.com/onecak/status/1015612157465989120

Pertandingan juga sempat diwarnai dengan insiden mati lampu. Dikira ada surprise karena ada yang ulang tahun. Ternyata listrik PLN padam yang membuat pertandingan dilanjutkan dengan mengandalkan daya genset.

Egy pun harus ditarik keluar pada menit ke-87 karena cedera dan digantikan oleh Hanis Saghara Putra. Hingga waktu normal berakhir, kedua tim gagal untuk mencetak gol kemenangan.

Pada babak tos-tosan meski bukan sedang di tongkrongan, tendangan Witan Sulaiman mampi dibaca oleh kiper Malaysia. Tendangan Firza Andika juga melambung jauh terbang tinggi seperti mimpi Inggris menjuarai Piala Dunia.

Satu tendangan Malaysia sempat ditepis kiper Muhammad Riyandi, namun Hanis Saghara yang arah tendangannya tertebak membuat Indonesia harus menerima kekalahan lewat adu penalti.

Pelatih Malaysia yang berkebangsaan sama dengan “why you screenshoot me?”, mengatakan bahwa timnya sempat grogi kala berhadapan dengan Indonesia. Bagaimana tidak, ribuan suporter Indonesia yang hadir di stadion dipastikan memberikan dukungan dan menjadi gangguan bagi para pemain Malaysia.

“Ini pertandingan bagus. Kami memulai dengan grogi. Kami sulit menampilkan permainan terbaik. Sebab kami bermain lima kali dalam sembilan hari. Seperti terlihat pada babak kedua tadi tidak ada kualitas permainan,” kata Bojan Hodak dikutip dari Detik.

Jangankan sepak bola, lihat saja saat pertandingan bulu tangkis kejuaraan Indonesia Open yang lalu. Bagaimana antusias para fans Indonesia yang sangat berisik dan bisa-bisa mengganggu konsentrasi pemain Indonesia sendiri.

Entah jika hal tersebut dilakukan pada pertandingan catur antar negara. Bisa-bisa ditiadakan itu penonton. Apalagi ulah beberapa oknum suporter di akhir pertandingan sangat tidak patut untuk ditiru.

Bukannya mengapresiasi kemenangan lawan, mereka malah melempari pemain Malaysia yang akan masuk ruang ganti dengan botol dan benda lainnya. Masih mending kalau yang dilempar uang pecahan 100 ribuan. Pasti senang yang dilempari.

Norak betul kelakukannya. Sewaktu kecil dikasih sarapan bubur baut dan obeng jadi begitu tingkah lakunya. Sebagai negara dengan sepak bola berkembang, pendukung Indonesia harus lebih banyak belajar berlapang dada. Kalau mau menang terus lebih baik dukung negara Perancis saja yang sepak bolanya sudah maju.

Sementara meski gagal melangkah ke babak final, pelatih Indra Sjafri tetap mengapresiasi perjuangan para pemain Indonesia. Tidak ada yang harus disesali sebab Indonesia menunjukan semangat yang luar biasa sejak fase grup. Kekalahan ini seharusnya jadi pelajaran bagi skuat muda Indonesia agar lebih baik di masa depan.

“Saya berterima kasih kepada seluruh pemain yang sudah bertanding 2×45 menit. Sebenarnya kami dapat angin segar saat unggul cepat di babak pertama. Tapi, yang kami siapkan saat latihan benar-benar terjadi yakni umpan silang,” kata Indra.

Main photo: sport.beritasidrap.com

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here