Cerita Atalanta sebagai tim dongeng Liga Champions akhirnya terhenti sampai di sini. Menghadapi Real Madrid dalam dua leg, Atalanta tidak berkutik. Padahal, “La Dea” ini termasuk golongan tim yang punya spirit luar biasa.

Sayangnya, bertemu Madrid spirit mereka kurang keluar. Malah yang ada cepirit di celana. Soalnya dalam dua leg, Atalanta takluk 0-1 dan 1-3. Tidak ada perlawanan barang sedikit.

Secara permainan dan materi, memang Atalanta jauh di bawah Madrid. Wajar lah, yang satu kualitas lokal, yang satu sudah mendunia. Bahkan beberapa pemain Madrid sudah ada yang juara Piala Dunia.

Sedangkan Atalanta, icip-icip gelar Scudetto saja belum pernah. Boro-boro mau merasakan juara Liga Champions. Keterlaluan banget kalau sampai Atalanta juara UCL, bisa dipenggal sama Juventus yang sudah lama ngidam banget sama gelar ini.

Bermain di stadion bukan Bernabeu, Madrid sudah unggul 2-0 lebih dulu. Pelatih botak tanpa rambut, Zinedine Zidane, sudah tahu bagaimana caranya meredam permainan kencang Atalanta.

Melihat Atalanta pakai skema 3 bek, Zidane juga menerapkan hal yang sama. Hasilnya sangat efektif dan tim berlambang mirip merek shampoo itu mampu diredam.

Cuma bedanya, Atalanta memakai skema 3-4-2-1, sedangkan Madrid pakai 3-5-2 cenderung 3-4-1-2. Namun pada intinya sama. Menumpuk gelandang di tengah yang bikin Atalanta kalah segalanya.

Biasanya, Atalanta ini memiliki kekuatan yang solid secara tim. Namun ketika dihadapkan Madrid dengan formasi copas, secara individu jelas kalah jauh. Matteo Pessina dan Marten de Roon jelas kualitasnya kalah jauh dibanding Toni Kroos dan Luka Modric.

Benzema sukses membobol gawang Atalanta memanfaatkan assist manis tapi standar Luka Modric. Benzema yang sendirian tinggal mencebok bola saja tanpa menggunakan ciduk.

Di babak kedua, Madrid mendapatkan voucher setelah Vinicius dijegal sang penjagal. Sempat diragukan karena terlihat pelanggaran Vinicius ada di luar kotak penalti. Namun kalau wasit sudah tiup peluit mau dikata apa. Sergio Ramos yang produktif banget, mengonversi gol dengan santai dan pasti.

Atalanta sempat memperkecil ketinggalan jadi 2-1 setelah tendangan bebas Luis Muriel meluncur mantap sekali melewati pagar betis tanpa makan tanaman.

Namun, perlu dua gol bagi Atalanta di sisa waktu tujuh menitan pertandingan. Jelas bukan sesuatu yang gampang.

Sebaliknya malah Madrid mampu menambah gol lagi lewat tendangan Marco Asensio. Sebuah tendangan ke tiang dekat di mana kiper Marco Sportiello semacam ogah-ogahan menepisnya.

“Saya telah memberi selamat kepada para pemain karena mereka memainkan permainan yang hebat dari awal hingga akhir melawan tim yang menuntut banyak dari Anda secara fisik,” ujar Zidane, dinukil dari laman resmi UEFA, Rabu (17/3/2021), dicopas dari Okezone.

SHARE
Previous articleMessi Jedar-jedor, Barca Petrusjakandor
Next articleDua Kemenangan Tanpa Kebobolan, Pedenya City Makin Militan
Bolatory memberikan informasi terkini tentang sepakbola dilengkapi data dan analisis dengan gaya penulisan sesuka hati, loncat ke sana-ke sini, serta menghiraukan semua masalah di muka bumi ini. Tapi kami bukan kera sakti, kami adalah Bolatory.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here