Jalan Inggris untuk membawa football agar coming home masih mulus hingga saat ini. Selain memang diuntungkan pada bagan, Inggris juga membuktikan kualitas mereka dengan menang pasti 2-0 ketika berhadapan dengan Swedia.

Kalau sudah takdir, memang mau dibilang apa? Semoga saja timnas Inggris bukan sekadar coming home nantinya, tapi bawa oleh-oleh Piala Dunia dari Rusia. Memang jalan Inggris untuk mencapai semi final terhitung mudah. Belum ada lawan berat yang mereka hadapi macam Real Madrid atau Bayern Munchen.

Lawan mereka sebelum Swedia ‘hanya’ Kolombia, Tunisia, dan Panama. Paling-paling yang paling berat adalah Belgia, itu juga mainnya tidak serius karena sudah sama-sama lolos. Untung juga mereka kalah saat melawan Belgia, jadi dapat bagan tim-tim yang kurang diunggulkan.

Pada pertandingan babak perempat final yang dilaksanakan di Samara Arena, Inggris berhasil menang melalui gol yang dicetak masing-masing oleh Harry Maguire dan Dele Alli. Hebatnya, kedua gol tersebut dicetak melalui sundulan.

Itu baru pakai kepala saja, sudah bisa cetak dua gol. Bagaimana kalau Inggris niat mencetak gol dengan kaki atau bagian tubuh lainnya?

Bisa-bisa jadi rekor kemenangan terbesar Piala Dunia. Itulah makanya, Swedia lebih baik jangan sombong mentang-mentang punya Ikea. Masih beruntung walau kalah, hanya dua kosong saja.

Kedua gol tersebut membuat “The Three Lions” kini telah mencetak lima gol melalui sundulan sepanjang Piala Dunia 2018. Menjadi yang terbanyak di antara tim lainnya. Hanya mencetak gol pakai tangan saja yang belum mereka lakukan.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1015629393551609857

Catatan yang lumayan menarik meski tidak bisa dibuat contekan saat ujian adalah Inggris telah mencetak delapan gol dari situasi bola mati. Namun bukan bola mati dibuat hidup kembali. Dari 11 gol yang dicetak Inggris, hanya tiga di antaranya yang merupakan hasil open play.

Otomatis gol-gol bola mati tersebut bisa dibilang random. Namanya set pieces kadang suka untung-untungan, rebut-rebutan siapa yang dapat bola-bola atas lewat sundulan. Ada juga yang memenangkan screamatch depan gawang seperti saat lawan Tunisia.

Jelas bisa jadi pelajaran untuk lawan Inggris selanjutnya, agar jangan sampai mereka mendapat tendangan bebas atau sepak pojok. Jika itu terjadi, lebih baik ajukan banding kepada wasit.

Secara statistik, “The Three Lions” juga tidak bagus-bagus amat. Dari 12 tembakan yang dilepaskan, hanya dua yang tepat sasaran. Namun keduanya bisa menjadi gol. Sedangkan Swedia melepaskan tujuh percobaan dengan tiga yang tepat sasaran.

Kemenangan tersebut membuka jalan Inggris menuju semi final. Mereka nantinya akan berhadapan dengan tim yang bajunya kadang bermotif kotak-kotak merah mirip celana Andika Kangen Band sewaktu sedang jaya-jayanya.

Meski begitu Inggris memang menunjukan performa yang cukup baik pada tiap laga di Piala Dunia ini. Mereka tidak sekadar menang random seperti Yunani di gelaran EURO 2004. Meskipun terhitung mendapat lawan yang di atas kertas tidak seimbang, namun mereka secara konsisten meraih hasil positif.

Beda sama tim-tim unggulan lain. Ada saja yang imbang melawan Islandia, ada juga yang ditekuk Korea Selatan. Padahal katanya tim-tim bertabur bintang.

Pada pertandingan tersebut, Inggris tetap menerapkan permainan menyerang tanggung. Menyerang banget enggak, bertahan banget juga enggak. Sebaliknya, Swedia yang setting-an modenya adalah defensif, mau tak mau harus keluar menyerang saat kebobolan gol Harry Maguire.

Berawal dari sepak pojok, Maguire menyundul bola dengan kepala yang misah dengan kakinya. Tandukannya yang menyambut bola kiriman dari Ashley Young tak mampu dibendung oleh Robin Olsen.

Raheem Sterling mendapat peluang emas di akhir babak pertama ketika berhadapan langsung dengan kiper lawan. Sayang dirinya terlalu banyak goreng alias gocek bola. Alhasil bek lawan sudah berkerumun macam ada kecelakaan, dan hanya menghasilkan goal kick.

Swedia yang mulai bermain agresif di babak kedua belum mampu untuk menembus gawang Jordan Pickford. Beberapa penyelamatan penting Pickford lakukan di laga ini demi membuat gawang Inggris tetap perawan.

Justru Inggris yang berhasil menambah keunggulan. Umpan Jesse Lingard ke arah tiang jauh langsung disambut Alli tanpa iring-iringan musik daerah. Sundulannya berhasil merobek gawang Olsen untuk kedua kalinya. Inggris unggul 2-0.

Swedia yang terus menekan di sisa waktu tak mampu untuk mencetak gol balasan satu pun. Skor tidak berubah untuk keunggulan Inggris hingga akhir laga.

Meski mencetak satu gol, Alli merasa bahwa permainannya masih jauh dari kata sempurna. Karena sesungguhnya kesempurnaan adalah milik Tuhan dan milik Andra and The Backbone.

“Secara pribadi, saya tak merasa tampil sebaik yang seharusnya. Tapi sebagai sebuah tim, kami bermain solid. Kami mengontrol permainan dari awal sampai akhir. Swedia itu sangat sulit untuk dibongkar, jadi bisa mencetak dua gol itu bagus,” tandasnya dikutip dari Detik.

Sementara bagi pelatih Swedia, Janne Andersson, memang harus mengakui kehebatan Inggris yang bermain rapi kayak mau pergi kondangan.

“Saya tidak yakin ada yang salah. Kami menghadapi lawan yang sangat bagus, di mana kami gagal menampilkan performa puncak. Margin yang ada sangat sempit. Sulit memang menciptakan peluang menghadapi tim yang memainkan lima pemain belakang,” katanya dikutip Goal. 

Main photo: starherald.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here