Oleh: Paundra Jhalugilang

Beberapa waktu lalu, Bolatory mengeluarkan sebuah deretan infografis yang men-cocoklogi-kan aktivitas transfer klub-klub top Eropa dengan judul-judul film Warkop.

Memang aneh-aneh, sebagai contoh adalah Paris Saint-Germain (PSG) dan Manchester City yang cocok dengan judul Itu Bisa Diatur dan Pokoknya Beres. Kemudian ada lagi Milan yang cocok dengan judul Setan Kredit lantaran beberapa pemainnya dibeli dengan pinjaman uang dari bank.

Ada satu judul yang menarik banyak pihak. Yakni IQ Jongkok yang disematkan ke Chelsea. Membuat beberapa fans Chelsea tampak tak terima dengan judul tersebut.

Film IQ Jongkok memang mengisahkan penggawa Warkop DKI yang termahsyur, Dono, Kasino, dan Indro dalam berpetualang mencari harta karun. Aksi-aksi kocak terjadi saat mereka berusaha memecahkan kode-kode harta karun tersebut yang ujungnya malah mengarah ke lokasi penjara.

Mungkin tak terlalu berkaitan dengan isi filmnya. Tapi jika dilihat judulnya saja, judul tersebut cukup tepat. Pasalnya, “The Blues” memang jadi bahan perundungan (baca: bully) netizen akibat perekrutan pemain yang membuat warganet mengangkat alis mata, tanda terkejut.

5

Dimulai dari Alvaro Morata. Perekrutan yang baik sebetulnya, mengingat dia adalah striker utama timnas Spanyol. Namun, harganya terbilang mahal bagi ukuran pemain cadangannya Real Madrid.

Sekitar 62 juta euro harus dikeluarkan manajemen Chelsea untuk merekrutnya. Memang masih banyak pemain lain yang lebih mahal darinya seperti Gareth Bale, Cristiano Ronaldo, bahkan Romelu Lukaku.

Namun, beberapa pihak tetap mengatakan itu harga yang terlampau mahal untuk ukuran Morata. Pasalnya, pemain ganteng yang cocok jadi model kacamata hitam itu kadang angin-anginan. Kadang masuk angin, kadang enggak.

Pada musim 2014/15 bersama Juventus, dia cuma bikin delapan gol dari 29 laga Seri A. Lalu musim berikutnya tujuh gol dari 34 laga di Seri A.

Beruntung, di Madrid dia bikin rada banyakan. Yakni 20 gol dari 43 laga. Lumayan. Semoga saja makin ke sini, makin bertambahnya usia, Morata semakin matang.

Chelsea lalu membeli Tiemoue Bakayoko yang senilai 40 juta euro. Menurut hemat penulis, lumayan worth it mengingat penampilannya bersama Monaco benar-benar ganteng seperti wajahnya.

Pemain ketiga termahal adalah Danny Drinkwater. Inilah yang jadi bulan-bulanan netizen di dunia maya. Entah bagaimana Chelsea kehilangan Nemanja Matic yang tiba-tiba pindah ke klub tetangga.

Lalu sebagai gantinya, Chelsea mendapat gelandang pengangkut air yang namanya minum air. Sebuah tanda tanya karena banyak pihak yang menyangsikan Drinkwater bakal sukses di Chelsea.

Pemain berwajah standar itu memang sukses membantu Leicester City jadi kampiun pada 2015/16. Namun setelah itu mereka memble karena kehilangan N’Golo Kante. Artinya, Kante lah yang jadi sosok penting di Leicester, bukan Drinkwater.

Mungkin, Antonio Conte ingin menduetkan kembali kejayaan Kante-Drinkwater. Mengingat keduanya sudah kompak pernah sekomplek bareng, siapa tahu bisa mengulangi kesuksesan mereka.

Drinkwater memang pemain yang bagus meski hanya satu gol dan satu assist dalam 29 laga Liga Primer musim lalu. Namun jika dibandingkan dengan Matic, dia masih kalah dalam membuat sebuah peluang. Matic menciptakan satu gol tapi membuat tujuh assist dari 35 laga.

Namun lagi-lagi, apakah dia layak dihargai 37,5 juta euro? Sebagus itu kah dia? Jawabannya hanya di ujung langit. Perlu ditunggu sampai akhir musim.

Pembelian berikutnya adalah Antonio Ruediger. Bek masa depan Jerman yang kalau di PES lumayan bisa menghentikan pergerakan Lionel Messi. Lagi-lagi, Ruediger adalah pemain bagus dan potensial, tapi apakah layak dihargai 35 juta euro?

Apalagi, Chelsea awalnya mengincar Leonardo Bonucci. Bek yang sudah terbukti kualitasnya. Lalu menggeser bidikan ke Ruediger yang hanya lebih murah lima juta euro.

Berikutnya adalah Davide Zappacosta. Kualitasnya terbilang lumayan meski baru belakangan tembus ke timnas. Satu gol dan lima assist dari 29 laga Seri A, dengan harga masih berkisar 25 juta euro, masih cukup masuk akal.

Yang menarik, Chelsea memang mendapatkan beberapa pemain bagus meski terbilang rada mahal. Namun, sejatinya pemain-pemain itu bukan incaran utama mereka.

Sebut saja mengincar Lukaku, dapatnya Morata. Mengincar Bonucci, dapatnya Ruediger. Mengincar Alex Sandro yang sampai sudah kasih tawaran sampai 60 jutaan, ditolak mentah-mentah oleh Juve dan akhirnya beralih ke Zappacosta.

Belum lagi mereka juga ditolak oleh Alex Oxlade-Chamberlain bahkan Fernando Llorente (?). Ada apa dengan manajemen Chelsea? Segitu susahnya kah melakukan negosiasi dengan klub lain sampai buruan utama berulang kali menghasilkan kegagalan. Entahlah.

Kemudian, Chelsea juga gagal dalam menyelesaikan situasi Diego Costa. Seperti diketahui Costa sudah tak diinginkan lagi oleh Conte. Dia tak masuk dalam rencana masa depannya meski musim lalu jadi top skor klub dengan 22 gol.

Klub berkostum biru-biru kayak bus APTB Transjakarta itu gagal melego Costa ke klub lain. Akibatnya, pemain bertampang preman itu malah terkatung-katung nasibnya. Kasihan.

Faktor lain yang cocok dengan judul IQ Jongkok adalah usia. Ternyata, rata-rata pemain yang direkrut Chelsea pada bursa transfer kemarin itu paling tua di antara 16 klub top Eropa. Yakni 26,1 tahun.

Itu tidak termasuk perekrutan pemain muda yang masuk ke akademi serta pemain yang kembali dari pinjaman. Jadi murni pemain baru yang didatangkan untuk skuat inti.

Beda dengan Real Madrid yang rata-rata usianya hanya 20,2 tahun. Disusul Liverpool (22,7), Dortmund (22,8), Muenchen, Inter (23,4), Monaco (23,5), Man City (23,6), Barcelona (24,2), PSG (24,4), MU (24,6), Arsenal (25), Roma (25,1), Milan (25,4), dan Juventus (25,7).

Chelsea hanya menang dari Atletico Madrid yang usia perekrutannya 27 tahun. Namun, jangan salah. Atletico lagi kena larangan transfer, jadi dia cuma beli satu pemain saja bernama Vitolo yang memang usianya 27 tahun.

Begitulah kisahnya. Sekarang terserah, apakah masih sependapat dengan judul IQ Jongkok buat Chelsea atau tidak. Kalau tidak sependapat, ya tak masalah. Namanya juga makhluk sosial. Apalagi sekarang warganet serba bebas berkomentar.

Main photo: @CarabaoUK


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here