Barcelona memastikan diri mendapat piala musim ini usai menaklukan Deportivo Alaves di final Copa del Rey dengan skor 3-1. Ini trofi pertama yang diraih Lionel Messi dan kawan-kawan musim ini. Memang tidak afdal bagi Barcelona melewati musim tanpa piala.

Barca unggul lebih dulu, seperti biasa lewat kaki Messi yang pendek tapi jago itu. Golnya juga terbilang hafalan. Gol-gol khas Messi gitu, umpan satu dua dengan Neymar kemudian diakhiri dengan tendangan R2+kotak alias placing manja.

Hanya berselang tiga menit dari gol Messi, giliran pemain Alaves, Theo Hernandez, yang tak mau kalah disorot. Tendangan bebasnya meluncur deras menimbulkan sebab akibat. Bola tak dapat dijangkau kiper Jasper Cillessen yang mukanya polos kayak anak baru kemarin sore.

Meski statusnya disamakan, tak membuat Barcelona gelagapan. Mereka tetap main santai dan tenang sampai tiba waktunya mencetak gol-gol kemenangan.

Neymar sukses membawa “Blaugrana” unggul setelah menerima umpan membelah lautan dari Andre Gomes. Pemain asal Brasil itu mencetak gol mudah karena tinggal cebok bola saja di depan gawang Alaves.

Hanya berselang beberapa detik. Barca memperlebar keunggulan. Lagi-lagi lewat aksi Messi yang berusaha menerobos pertahanan lawan seperti mobil-mobil kawalan pejabat yang suka maksa menerabas macet.

Hasil terobosan Messi kemudian diakhiri oleh umpan cuek kepada Paco Alcacer. Tanpa basa-basi, Alcacer membobol gawang Alaves yang dijaga seorang kiper. Mereka pun menang 3-1 dan memastikan Copa del Rey dalam genggaman.

Pertandingan ini sekaligus menutup karier yang indah bagi pelatih Luis Enrique. Meski gagal di Liga Champions dan La Liga, Copa del Rey jadi obat pelipur lara. Ini jadi Copa del Rey ketiga dalam tiga musim terakhir secara berturut-turut yang diraih Barcelona.

Namun, tak ada raut wajah sedih dipancarkan Enrique pada malam yang syahdu itu. Mantan pelatih Roma itu tetap riang gembira mempersembahkan piala terakhirnya kepada Barcelona.

Tidak ada kesedihan, sepenuhnya cuma rasa sukacita. Saya yang memutuskan bahwa yang terbaik adalah berhenti sekarang. Ini adalah saat yang tepat untuk saya dan untuk para pemain,” ujar Enrique.

Dia memang pantas senang karena selama tiga musim di Barca, sudah memenangi dua gelar La Liga, tiga Copa del Rey, satu Piala Super Spanyol, satu Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Sayang, tidak ada piala AFF dan Liga Champions Afrika dalam catatan Enrique bersama Barcelona. Ya, tentu saja.

Kendatipun demikian. Meski mendapat trofi pertamanya musim ini, Cillessen tetap menilai Barcelona gagal musim ini. Pasalnya, tim sekelas Barcelona tak sepantasnya cuma juara Copa del Rey.

Rada belagu memang si Cillessen ini. Sudah jarang main tapi nyaring bunyinya. Namun, memang begitulah namanya klub besar. Tuntutannya memang tinggi.

“Saya pikir sebuah kegagalan jika Barca hanya memenangkan satu trofi karena tim seperti ini ingin memenangkan tiga trofi. Kami ingin juara Liga Champions, Liga Spanyol, dan Copa del Rey,” ujar Cillessen yang kalau dipikir-pikir, semua tim Spanyol juga kepingin juara Liga Champions, Liga Spanyol, dan Copa del Rey. Sekian.

Main photo: Barcelona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here