Sebuah kesalahan di masa lalu tentunya bisa membayangi pikiran seseorang sepanjang hidupnya. Kalau ada laci meja kamar Nobita, mungkin semuanya bisa diubah. Hal tersebut sama seperti yang dialami oleh mantan wasit Serie A, Paolo Tagliavento.

Baru-baru ini setelah memutuskan pensiun dari dunia wasit, dia mengungkapkan penyesalan karena melakukan kesalahan pada saat memimpin pertandingan. Kejadian itu terjadi saat AC Milan menghadapi Juventus pada lanjutan pekan ke-25 Serie A musim 2011/2012.

Pada saat itu Milan memang masih lumayan jago. Nama-nama seperti Robinho, Zlatan Ibrahimovic, ataupun Alexandre Pato masih mejeng di daftar skuat Milan. Sedangkan Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit sudah tidak ada.

Rossoneri” bahkan sempat unggul 1-0 terlebih dahulu pada laga itu setelah Antonio Nocerino mencetak gol salah kaprah. Sebab bola mengalami deflection yang membuat Gianluigi Buffon mati langkah dan mati gaya.

Kemudian pada menit ke-25 Sulley Muntari mendapat bola liar hasil tepisan Buffon. Dengan mudah, Muntari menanduk bola tersebut memakai jidatnya yang selalu menempel di kepala. Buffon yang telah terjatuh kemudian masih sempat menepis sundulan Muntari.

Bola sebenarnya sudah terlihat masuk ke gawang. Namun Tagliavento yang terlihat ragu akhirnya tidak jadi mengesahkan gol tersebut.

Buffon pun juga jadi santai-santai saja menangkap bola dan berlagak tidak terjadi apa-apa karena wasit juga tidak menyatakan gol.Pertandingan akhirnya berakhir imbang 1-1 setelah Alessandro Matri mencetak gol penyeimbang.

https://twitter.com/khaledalnouss1/status/835260899652960256

Tagliavento yang resmi pensiun dari dunia perwasitan bukan dunia persilatan, akhirnya buka suara mengenai insiden tersebut. Ia mengatakan kesalahan terbesarnya saat menjadi wasit adalah tidak mengesahkan gol tersebut.

Pada saat melakukan wawancara dengan Gazzetta dello Sport, ia menceritakan sudut pandang dirinya atas kejadian pada saat itu.

“Saya merasa bahwa bola telah benar-benar melewati garis, jika anda melihat gambar, saya sudah mengangkat lengan untuk menunjuk ke tengah,” ujarnya dikutip dari Liputan6.

“Tapi, saya menerima ‘tidak’ dari asisten yang berada di posisi terbaik, sementara saya berada di tepi area, dia fokus pada offside dan tidak bisa melihat gawang. Menganulir gol Muntari saat menghadapi Juventus jadi kesalahan terbesar saya. Jika kejadian itu terjadi saat ini, saya memiliki kesempatan untuk menghindarinya (berkat bantuan VAR),” tambah Tagliavento.

Memang kejadian tersebut terjadi sebelum VAR menjadi populer seperti saat ini. Keputusannya Tagliavento menjadi kontroversial pada saat itu. Sebab Milan mungkin saja memenangkan gelar apabila menang di pertandingan tersebut. Mungkin saja.

Tapi namanya penyesalan memang selalu datang belakangan. Kalau di depan namanya adalah pendaftaran. Sebuah jokes yang sudah mulai basi di pergaulan masa kini.

Alhasil, momen itu selalu diungkit-ungkit Milanisti yang pada sakit hati, sampai sekarang. Sedangkan Juventini sudah bete berat selalu diungkit masalah yang sudah lalu. Ya begitulah dinamika para fans.

Pada akhir musim sendiri Milan akhirnya tertinggal empat poin dari Juventus dan juara Serie A tidak berubah sejak saat itu hingga hari ini. Sulley Muntari yang tidak bersaudara dengan Jake Sully dari film Avatar ataupun Sule Prikitiw mengaku kecewa dengan wasit pada saat itu.

“Saya tahu bola melewati garis, dia juga pasti tahu. Saya selalu berpikir, jika mereka memberikan gol itu mungkin saja kami menang, tapi kalah di kompetisi. Atau justru kalah dari Juventus dan memenangi gelar,” jelas Muntari.

Tagliavento sendiri telah menjadi wasit di Serie A kurang lebih selama 10 tahun terakhir. Ia bertugas pada ajang FIFA dan UEFA sejak tahun 2007 hingga 2017 lalu. Beberapa waktu lalu dirinya ditunjuk menjadi manajer klub Italia Ternana.

Main photo: milanobsession.com

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here