Jika di klub lain pelatih melarang anak buahnya pesta sampai larut malam, mabuk-mabukan, sampai pacaran di kosan, beda dengan Arsene Wenger. Pelatih Arsenal itu malah melarang pemainnya, Granit Xhaka, untuk melakukan tackling. Lho? Padahal memang itu tugasnya sebagai gelandang bertahan.

Ternyata, Wenger ingin mengeluarkan aturan khusus kepada Xhaka tanpa “laka boom boom” itu gara-gara dua kartu merah yang diterimanya dengan pasrah. Tak tanggung-tanggung, dua kartu merah itu langsung diterima Xhaka tanpa menerima kartu kuning dan kartu AS terlebih dahulu.

Sebagai gelandang bertahan, memang sudah jadi tugasnya untuk mengacaukan dan merebut bola dari lawan. Namun, cara yang dilakukan Xhaka belakangan terlalu kasar. Untung saja tak sampai menjurus jorok, porno, dan cabul.

Tackling yang dilancarkan Xhaka terbilang brutal, wajar dia menerima kartu merah langsung saat menghadapi Swansea dan Burnley. Pemain yang masih berusia 24 tahun itu nafsunya masih terlalu liar. Maklum, namanya juga anak muda.

Dua kartu merah yang diterima Xhaka memang tetap membuat Arsenal bisa meraih kemenangan. Namun, hal itu tak bisa diterima oleh Wenger. Andai mereka menghadapi Chelsea, Manchester City, Liverpool, atau tim nasional Thailand sekalipun, pasti lain ceritanya.

Apalagi, tabiat Xhaka jika ditelusuri berdasarkan data gratis dari Transfermarkt juga kurang keren dalam melakukan tackling. Cenderung asal-asalan dan berujung pada kartu kuning dan kartu merah.

Selama kariernya yang baru seumur jagung itu, Xhaka sudah menerima 57 kartu kuning dan 10 kartu merah, tiga di antaranya merupakan kartu merah langsung. Total 67 kartu dia koleksi dari total 271 pertandingan di semua klub dan segala kompetisi. Artinya, hampir 25% kariernya diwarnai dengan kartu kuning dan merah.

Memang sungguh aneh Xhaka ini, pemuda-pemuda lain hobi mengoleksi action figure atau mobil-mobilan Hot Wheels, dia malah mengoleksi kartu. Mungkin menurutnya cukup unik jika dipajang di kamarnya.

Itulah kenapa, Wenger mewanti-wanti mantan pemain Borussia Moenchengladbach itu agar lebih berhati-hati lagi dalam melakukan tackling. Pelatih yang sudah menangani Arsenal sejak zaman Orde Baru itu mengakui kalau Xhaka memang tak pandai dalam me-nackling.

“Xhaka memang bukan pemain yang bisa melakukan tekel dengan bagus. Cara dia melakukan tekel tidak terlalu meyakinkan. Padahal, tekel biasanya dipelajari sejak masih muda, tapi Xhaka tidak tahu teknik itu dengan baik,” ujar Wenger, dikutip dari Liputan6.

Lebih lanjut, pelatih berambut penuh uban itu menambahkan, “Sebenarnya tekel bisa ditingkatkan. Tapi saya ingin dia tidak melakukannya sekarang. Apalagi saat berhadapan satu lawan satu, Xhaka lebih baik tetap berdiri.”

Bicara soal ilmu tackling, Xhaka bisa berguru pada grandmaster master suhu Alessandro Nesta dan Paolo Maldini. Duo bek Italia dan Milan itu memang tak perlu diragukan lagi dalam aktivitas menekelnya. Ilmunya sudah khatamtackling adalah makanan sehari-harinya.

Memang, Maldini dan Nesta adalah seorang bek tengah yang tugasnya sedikit berbeda dengan Xhaka sebagai gelandang bertahan. Namun, teknik tekelnya juga tetap bisa dipelajari dan dipakai. Tekelnya bersih dan keren, bikin kita rada melongo saat melihat keduanya melakukan tekel.

Bahkan, pemain sekelas Lionel Messi yang lagi lucu-lucunya saat itu tak berkutik di hadapan Nesta, saat keduanya bertemu beberapa tahun lalu.

Selama kariernya kurang lebih 20 tahun, Nesta hanya dapat 83 kartu, dengan rincian 78 kartu kuning, lima kartu merah. Sedangkan Maldini yang tak ada hubungan saudara dengan Maldini Pali itu, lebih bersih lagi. Dia hanya mendapat 63 kartu dengan rincian 59 kartu kuning dan tiga kartu merah seumur hidupnya. Mantap.

Bandingkan dengan Xhaka yang baru 24 tahun, koleksinya sudah lebih banyak dari Maldini. Itulah kenapa, Xhaka perlu berguru pada Suhu Nesta dan Suhu Maldini. Ambil 2 SKS pada tengah pekan juga sepertinya cukup.

Main photo credit: Pain the Arsenal

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here