Partai Swedia versus Swiss mungkin adalah partai yang paling malas ditonton pada babak 16 besar Piala Dunia kali ini. Bahkan mungkin dikorbankan para pemirsa di rumah, mending tidur saja buat persiapan partai Kolombia versus Inggris.

Banyak yang berprediksi kalau laga ini kurang seru. Soalnya kedua tim bisa dibilang statusnya adalah tim kentang alias kena tanggung. Dibilang jago enggak, cupu juga enggak. Kemampuan keduanya sepertinya merata, hangat-hangat tahi ayam. Apalagi dua huruf depannya sama-sama “SW”.

Ternyata, apa yang menjadi anggapan orang itu benar adanya. Partai ini menyuguhkan gol yang sangat minim. Cenderung membosankan, lebih seru nonton komentar-komentar netizen Indonesia soal Bowo di Instagram.

Baik Swedia maupun Swiss sama-sama main monoton kayak pabrik tahu. Tidak ada yang seru selain melihat orang membuat tahu.

Di babak pertama, Swedia membuat sejumlah peluang. Salah satunya lewat tendangan Marcus Berg yang masih bisa diblok pakai dengkul berisi dari seorang bek Swiss. Kemudian dihajar lagi oleh Albin Ekdal yang tendangannya melambung entah ke mana. Melebihi harapan para pemuda bangsa ini yang terlalu tinggi.

Berg mencoba lagi di kesempatan kedua. Tapi lagi-lagi gagal. Kali ini digagalkan oleh kiper Yann Sommer lewat satu tangannya. Satu tangan saja bisa menepis bola, apalagi dengan dua tangan, bisa-bisa jadi prakarya.

Ekdal kembali dapat peluang rendang saat menerima umpan silang Mikael Lustig menjelang bubaran babak pertama. Tapi lagi-lagi tendangannya melambung entah ke mana. Jauh mengangkasa dan menganggu penerbangan domestik.

Swiss yang bukan singkatan dari Sekitar Wilayah Sampah memang tak membuat peluang di babak pertama. Walaupun cukup menguasai bola, tapi sejatinya mereka cuma berputar-putar saja kayak Beyblade.

Kiper Robin Olsen yang bukan saudaranya Ruben Onsu tampak lebih banyak menganggurnya. Saking menganggurnya, dia mungkin bisa sampai buka usaha tambal ban di sana sekaligus menabur pakunya di jalanan.

Di babak kedua, kedua tim masih malu-malu mau menyerang. Takut salah, takut kena bully kalau dapat peluang tapi dibuang-buang.

Tapi tidak bagi Emil Forsberg. Pada babak kedua menit ke-66, dia mendapatkan peluang menendang cukup enak, cukup terbuka cenderung buka-bukaan, cukup blak-blakan seperti Nikita Mirzani.

Usai menerima operan sederhana dari Ola Toivonen, Forsberg lalu menendangnya sekuat tenaga ke gawang Swiss. Nahas, bola mengenai kaki Manuel Akanji sehingga berbelok arah. Sommer cuma memandangi saja sambil jongkok, kayak lagi memandangi mainan kapal-kapalan di ember.

Swiss akhirnya mulai mengancam Swedia pada menit ke-79. Jadi setelah 79 menit, mereka baru sadar kalau mau menang itu meski mencetak gol ke gawang lawan. Minimal membuat peluang dulu. Sundulan kepala dari Akanji masih bisa diblok Forsberg yang berdiri di depan gawang macam hansip kawinan.

Swedia sebenarnya mendapatkan peluang emas lagi pada akhir-akhir pertandingan. Mereka mendapat peluang lewat serangan balik yang digagas dua pemain Swedia entah siapa namanya.

Bola lalu meluncur ke Isaac Kiese Thelin yang dibawa lari terus sampai ke gawang. Namun, usaha mencetak golnya dapat gangguan dari Michael Lang yang namanya kayak merek minyak kayu putih.

Lang rupanya mendorong Thelin dari belakang sampai terhuyung-huyung dan terjatuh. Wasit langsung mengusir Lang akibat aksi joroknya itu. Wasit sempat melihat VAR karena ragu penalti atau bukan. Ternyata bukan, pelanggaran masih di luar kotak penalti.

Tendangan bebas terakhir di laga itu lalu dilakukan Toivonen yang tak menghasilkan apa-apa. Cuma sebuah tepisan dari Sommer yang lumayan bisa dapat pujian.

Swedia lalu melangkah ke perempat final dengan skor biasa-biasa saja, tak ada yang spesial. Tapi perjuangan mereka lah yang spesial, jarang-jarang tim nanggung macam Swedia ini bisa melangkah sejauh ini.

You have to ask everyone else the question. We have earned our success – we know how we got this far. We have worked this way throughout. What other teams and countries think about that is not terribly interesting to us,” ujar pelatih Swedia, Janne Andersson, dikutip dari The Guardian. 

Kalau tak mengerti artinya bisa di-copas saja ke Google Translate. Jangan malas melakukannya, daripada cuma menganga saja baca artinya.

Sementara Vladimir Petkovic, pelatih Swiss, mengakui kekalahannya. Swiss memang tampak tidak fokus dalam laga itu. Mungkin karena kurang minum Aqua.

“Kami terganggu emosi kami sendiri. Mungkin kami memang tak cukup fokus dalam menjalani laga ini,” ucapnya, masih dikutip The Guardian yang sudah diartikan ke bahasa Indonesia.

https://twitter.com/brfootball/status/1014175230623911937

Main photo: Squawka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here