Spanyol akhirnya melaju ke perempat final usai menjalani pertandingan yang sangat seru. Saking serunya mengalahkan keributan yang dilakukan BEM UI gara-gara Lip Service.

Menghadapi Kroasia di 16 besar, Spanyol memenangkan pertandingan dengan skor cukup anti-mainstream, 5-3. Itu juga setelah Kroasia mampu menyamakan kedudukan jadi 3-3 setelah tertinggal 1-3. Pokoknya seru. Ada blundernya, ada gol indahnya, ada dramanya. Ini baru sepak bola.

Jadi ceritanya, Spanyol tertinggal lebih dulu lewat gol kocak Pedri. Pedri ini pemain Spanyol by the way. Pedri maksud hati mengoper back pass kepada temannya yang menjabat sebagai kiper, Unai Simon.

Namun, Simon ini seperti kerasukan Simon Mignolet. Dia malah melakukan blunder yang sangat fatal tapi kocak. Bola harusnya bisa dikontrol dengan mudah oleh Simon, tapi luput salah perhitungan.

Padahal, dia sedang berada di area bayangan, atau tidak langsung terkena silaunya matahari. Jadi tidak ada alasan seperti Martin Dubravka yang bikin blunder main voli ke gawangnya.

Kroasia benar-benar enak banget dapat gol semacam itu. Tidak ada usahanya. Gol datang sendiri. Ini yang dinamakan rezeki datang dari langit.

Spanyol sempat drop mentalnya ketika kebobolan dengan cara seperti itu. Beruntung, Kroasia yang sedang naik gagal memanfaatkan momentum tersebut.

Sebaliknya, Spanyol mampu bangkit dan bisa keluar dari tekanan. Mereka pun menyamakan kedudukan lewat sebuah serangan sporadis bertubi-tubi. Tendangan Jose Gaya yang dilakukan tanpa gaya punggung itu bisa ditepis kiper Dominik Livakovic. Bola liar kemudian disambar Pablo Sarabia.

Di babak kedua, Spanyol berbalik unggul. Umpan silang Ferran Torres mampu disundul dengan kepala bagian depan milik Cesar Azpilicueta. Pada menit ke-77, Spanyol pun menanbah keunggulan lewat Torres bernama depan Ferran, bukan Fernando.

Umpan LDR dari rekannya yang sama-sama bernama Torres tapi bernama depan Pau, bisa disambut meriah dan memperbesar kemenangan jadi 3-1. Mentang-mentang sama-sama Torres, mereka tampak sudah terkoneksi.

Namun, Kroasia tak mau berhenti menyerah. Mereka balik menyerang secara sporadis, urakan, dan tak terpelajar. Para pemain Kroasia ini memang tidak terpelajar, karena tidak ada di antara mereka yang bergelar doktor.

Mislav Orsic yang masuk di babak kedua, sukses memperkecil ketinggalan pada menit ke-85 memanfaatkan kemelut jebrat-jebret di depan gawang Simon. Huru-hara yang terjadi tetap mengesahkan gol karena bola melewati garis gawang sepenuhnya.

Pada menit-menit injury time, Kroasia membuat drama. Mereka mampu menyamakan kedudukan lewat aksi sundulan Mario Pasalic. Umpan Orsic sukses disambut oleh kepala samping pemain Atalanta itu. Luar biasa.

Di babak perpanjangan, Spanyol nyaris saja kalah andai kiper Simon tidak mampu bangkit dari keterpurukan. Tercatat ada dua penyelamatan gemilang yang ia lakukan di babak ekstra. Kalau sudah begini pantas disematkan from zero to hero.

Spanyol kemudian berhasil memanfaatkan pemain Kroasia yang mulai letih. Efek dari serangan jor-joran di akhir babak kedua. Alvaro Morata mampu memecah kebuntuan Spanyol dengan mencetak gol cukup cantik pada menit ke-100.

Menerima umpan silang dari Dani Olmo, Morata cukup kontrol sekali lalu langsung jebret tanpa basa-basi. Dia tidak memikirkan cemoohan para buzzer yang meneror dirinya.

Hanya berselang beberapa menit, Olmo kembali memberikan umpan asyik kepada Mikel Oryazabal. Gol kembali tercipta dan tak ada gol lagi setelah ini. Spanyol memenangkan laga penuh drama ini lewat sebuah pertandingan yang memanjakan mata. Tidak bikin ngantuk penontonnya.

SHARE
Previous articleBelgia Menang Hoki, Ronaldo Pun Iri
Next articlePrancis di-Kombek Mampus, Swiss Robek Sampai ke Usus
Bolatory memberikan informasi terkini tentang sepakbola dilengkapi data dan analisis dengan gaya penulisan sesuka hati, loncat ke sana-ke sini, serta menghiraukan semua masalah di muka bumi ini. Tapi kami bukan kera sakti, kami adalah Bolatory.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here