Oleh: Harry Hardian

Bisa dibilang Chelsea kini lagi kedinginan, berada di puncak klasemen Liga Inggris. Apalagi kalau pakai kupluk, bawa senter, sambil memegang papan bertuliskan ‘vila’, sudah pasti makin mantap mereka ada di Puncak.

Banyak yang beranggapan bahwa faktor keberhasilan Chelsea adalah pertahanan kokoh dan pemain depan yang semakin menunjukan tajinya. Eits, tapi jangan hiraukan pemain yang dapat memberikan kenyamanan pemain belakang dan umpan matang bagi pemain depan, yaitu sosok N’Golo Kante.

Ketika Leicester menjuarai Liga Primer Inggris, Kante menjadi bagian penting, sebagai ruh permainan “The Foxes”. Kante menjadi sosok katalisator yang memainkan peranannya dengan sangat baik. Badannya memang kecil, tapi ototnya otot kawat tulang besi bagaikan Gatotkaca.

Robert Huth tidak harus bersusah payah merebut bola di jantung pertahanan sendiri. Sedangkan Ryad Mahrez dan James Vardy leluasa mengobrak-ngabrik pertahanan lawan tanpa harus turun jauh memikirkan pertahanan, apalagi sampai memikirkan cicilan kredit rumah.

Musim lalu, Leicester begitu sulit ditembus pemain lawan. Total hanya menderita 3 kekalahan dan kebobolan 36 gol. Kalau katanya statistik, Kante berhasil melakukan 4,7 tekel dan 4,2 intercept per pertandingan.

Semuanya berjalan dengan nyaman, seperti bahu pria yang enak banget disenderi oleh kepala kekasihnya yang cantik itu. Mana seksi pula.

Namun selepas kepergian Kante, Leicester bagaikan tim pesakitan. Bahkan dibilang seperti sekumpulan zombie yang tak tahu arah. Mereka jadi hobi kalah, sulit meraih kemenangan, dan mudah kebobolan. Baru pertengahan musim ini saja, Leicester city sudah menderita 14 kekalahan dan 43 kebobolan.

Berkah bagi Chelsea yang berhasil mendaratkan Kante. Rejeki memang tidak ke mana. Hadirnya Kante di lini tengah Chelsea memberikan determinasi tinggi. Sulit bagi para pemain tengah lawan untuk merangsek masuk.

Meski sudah ketuk pintu dan mengucapkan ‘Assalamualaikkum’ pun juga belum tentu dipersilakan masuk oleh Kante. Baru menjejakkan kaki di keset bertuliskan ‘Welcome’ saja, sudah langsung diusir oleh Kante. Boro-boro dibikinkan minum.

Tekel dan intercept yang baik memang menjadi nilai plus bagi Kante sebagai gelandang bertahan. Kalau mau melamar kerja lewat Jobstreet, dia sudah memenuhi kualifikasi “good command of english both written and spoken“. Dia sudah menjadikan Chelsea merasa nyaman dengan unggul sembilan poin dari pesaing terdekatnya.

Kante tentu mengingatkan kita pada sosok Claude Makalele, yang juga sama-sama dari Prancis, sama-sama berkulit pula. Bukan bermaksud rasis, tetapi memang faktanya dua-duanya berkulit gelap. Dan bukan suatu kebetulan bahwa mereka berdua pernah bermain di Chelsea dan berposisi sama, sebagai gelandang pengangkut air.

Gelandang pengangkut air memang secara filosofi bertugas mengambil bola dari lawan kemudian memberikannya kepada rekannya yang punya tugas mengontrol permainan. Jadi bukan secara letterlijk mengambil air yang menggenang di lapangan. Apalagi air minum.

Gelandang pengangkut air harus punya stamina bagus, konsentrasi tinggi, tekel keren, serta mampu membaca transisi permainan dengan cepat, penguasaan bola yang bagus, dan tentunya operan akurat. Seorang gelandang pengangkut air yang baik akan memberi jaminan kuatnya pertahanan hingga dapat membuat pemain serang dapat bekerja dengan tenang, tanpa gangguan dari atasan.

Mungkin diibaratkan seperti prajurit dalam sebuah pasukan yang tugasnya membawa air untuk prajurit lainnya. Segelas air yang dapat menenangkan prajurit yang sedang ada di medan perang.

Istilah itu diperkenalkan pertama kali, kalau tidak salah oleh Eric Cantona kepada rekannya di Prancis, Didier Deschamps. Semenjak istilah ‘pengangkut air’ diperkenalkan, posisi gelandang bertahan memang naik daun.

Tidak bisa dinafikkan, keberhasilan Chelsea meraih gelar Liga Primer Inggris pada era awal Abramovich disebabkan pembelian tepat Makalele, yang namanya cukup lucu di mata orang Indonesia itu. Menurut Jose Mourinho saat itu, hal terbesar yang dilakukan Claudio Ranieri sebagai pelatih Chelsea sebelumnya adalah mendatangkan Makelele ke Stamford Bridge.

Arti Penting Si Pengangkut Air

Peranan penting gelandang bertahan kurang begitu dilihat bagi sebagian orang. Waktu kita kecil saja, tidak ada yang kepikiran jadi gelandang bertahan. Maunya jadi striker atau minimal jadi kiper. Apalagi kalau anak bawang, sudah pasti disuruhnya jadi wasit.

Padahal, posisi gelandang bertahan adalah kunci utama bagi sebuah tim, pemutus serangan dan merupakan awalan dari sebuah serangan. Sayangnya kerap tertutup pemain yang memiliki jumlah assist dan gol bagi sebuah klub.

Kita tengok saja, Tottenham Hotspur yang berada di peringkat dua klasemen sementara musim ini, juga memiliki sosok Victor Wanyama. Dia mampu memberikan keseimbangan dan konsistensi dalam permainan Tottenham Hotspur.

Hasil gambar untuk victor wanyama tottenham
Wanyama juga ikut-ikutan ngangkut air. (Here Is The City)

Kegagalan Arsene Wenger merengkuh Liga Primer selama 10 tahun lebih mungkin dikarenakan tidak adanya sosok gelandang bertahan yang mumpuni. Kehilangan Patrick Vieira merupakan awal dari bencana goyangnya permainan Arsenal. Cesc Fabregas dan Mathieu Flamini, sebagai pemain muda waktu itu belum mampu menggantikan peranannya.

Fabregas juga bukan bertipikal pengangkut air, lebih kepada gelandang murni yang punya umpan-umpan magic. Sampai sekarang pun, Arsenal belum menemukan sosok pemain seperti Vieira yang telah memberikan 10 gelar.

Selain itu, yang menarik ketika Paul Scholes kembali bermain setelah menyatakan pensiun. Keahlian Scholes dalam urusan tackling dan umpan terukur membuat Sir Alex Ferguson meminta kembali untuk bermain. Alhasil, Manchester United berhasil juara di akhir musim.

Masih ingatkah, sosok Zulfiandi dan Hargianto di timnas U-19 Indonesia. Aksi kedua pemain di lini tengah ini membuat nyaman Muchlis Hadi, Evan Dimas, dan Ilham Udin dalam melancarkan serangan ke pertahanan lawan. Membuat timnas Indonesia merebut Piala AFF U-19 dan lolos Piala AFC.

Masih banyak pemain lain, sebut saja Edgar Davids dan Emerson di Juventus. Marcos Senna memiliki peranan dalam membawa Spanyol merengkuh trofi Piala Eropa pada tahun 2008. Seperti mantan yang sudah memberikan hal terbaik, tapi tidak pernah terlihat usaha yang pernah dilakukannya, itulah gelandang bertahan.

Sumber: Squawka, Kompasiana (Rae Arani)

Main photo credit: Evening Standard


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here