Meski peminat Liga Belanda Eredivisie tak sebanyak liga-liga lainnya di negeri ini, namun ada tiga hal menarik yang patut dibahas. Feyenoord berpeluang menjuarai liga tersebut dengan bantuan teknologi garis gawang dan juga kebodohan kiper lawan. Kok bisa?

Jadi awal ceritanya begini, pekan kemarin Feyenoord terlibat bentrok dengan PSV Eindhoven di kandang sendiri. Bentrok di sini bukan tawuran antar warga yang suka ada korban jiwa, tapi pertandingan yang cukup seru.

Feyenoord unggul lebih dulu lewat Jens Toornstra sebelum disamakan Gaston Pereiro yang tak ada hubungan saudara dengan Gaston Castano. Skor 1-1 bertahan sampai menit ke-81.

Namun, kejadian unik dan bodoh tiba-tiba terjadi saat kiper PSV, Jeroen Zoet, mencetak gol bunuh diri. Gol ini bukan gol bunuh diri biasa. Bukan sekadar deflect atau bola-bola pantulan yang suka tidak jelas arahnya. Gol bunuh diri ini bisa dibilang anti-mainstream.

Bermula dari sundulan bek Jan-Arie van der Heijden yang meluncur tegas ke gawang Zoet. Meski sempat terhalang kerumunan warga, Zoet masih bisa menepis bola dan mengamankannya tepat di garis gawang.

Gemuruh penonton tuan rumah pun ramai karena mengira bola telah masuk berbuah gol. Namun saat itu wasit belum meniupkan peluitnya. Para pemain PSV akhirnya meninggalkan TKP dengan perasaan senang.

Namun, beberapa detik kemudian, wasit tiba-tiba meniupkan peluit dan menunjuk titik tengah. Wasit memutuskan kejadian yang lagi ramai itu sebagai gol usai melihat jam tangannya. Apa hubungannya dengan jam tangan? Di sinilah serunya.

Bola memang berada di garis saat Zoet mengamankan bola sambil duduk setengah bersila kayak lagi di pengajian. Namun bodohnya, Zoet tak sadar bola genggaman tangannya itu malah dipeluknya sehingga bola yang tadinya berada di garis, malah melewati garis gawang.

Pasalnya, posisi badan si kiper kocak itu masih berada di dalam gawang. Alhasil, teknologi garis gawang (goal line technology) pun bekerja dan langsung memberikan alarm di jam tangan wasit Bas Nijhuis.

Pantas saja, ketika diprotes masyarakat PSV, Nijhuis menunjuk-nunjuk jam yang dipakainya. Bukan karena mau pamer merek jam mahal itu, melainkan menunjukkan tanda gol kalau bola melewati garis.

Pemain PSV rada percaya tak percaya melihat tanda di jam tersebut. Apa boleh buat, teknologi lah yang menentukan saat ini, apalagi pada zaman serba digital kayak sekarang. Apapun tinggal sentuh layar saja.

Kalau kita lihat tayangan ulangnya baik di Youtube atau di TV sendiri, memang sulit melihat apakah bola benar-benar melewati garis atau tidak karena ramainya warga di depan gawang Zoet. Apalagi bagi para pelaku pertandingan yang situasinya begitu cepat.

Namun, berkat teknologi garis gawang, maka dengan cepat wasit memiliki bukti dan data yang kuat. Artinya, mereka jadi lebih mudah dalam mengambil keputusan, tak perlu lagi diskusi dengan para asistennya.

“Gol bunuh diri yang tipikal. Teknologi garis gawang terbukti dapat dipercaya seratus persen. Ini kemenangan untuk teknologi,” kata ketua Komisi Teknik FIFA, Marco van Basten, seperti di-copas dari Goal. 

Satu hal yang makin seru, berkat gol itulah Feyenoord kini makin meninggalkan lawannya, Ajax dan juga PSV. Klub berjuluk “De club aan de Maas” itu unggul lima poin dari Ajax. Peluang mereka untuk jadi juara makin terbuka lebar mengingat Eredivisie tinggal menyisakan 10 pertandingan saja.

Hasil gambar untuk zoet feyenoord
Bukti kalau bola sudah melewati garis. (Source: Reddit)

Main photo credit: De Standaard

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here