Oleh: Paundra Jhalugilang

Seperti yang sudah diketahui sejak pekan lalu, virus Corona yang dikenal dengan COVID-19 telah ‘merajai’ tanah Italia yang berdampak pada penghentian sementara kompetisi Seri A dan kompetisi olahraga lainnya.

Penghentian sementara dilakukan sampai tanggal 3 April 2020, sehingga muncul berbagai opsi untuk menuntaskan kompetisi ini akibat keadaan kahar alias Force Majeure.

Apalagi, beredar kabar bahwa penundaan kompetisi Seri A bakal diperpanjang hingga akhir April sehingga kompetisi baru dimulai lagi pada bulan Mei.

Tampaknya kita sepakat dulu bahwa semua opsi yang diusulkan oleh Presiden FIGC (PSSI-nya Italia), Gabriele Gravina, sudah pasti rugi semua. Semuanya merasa tidak adil.

Tidak ada yang diuntungkan 100% dalam kondisi seperti ini. Kecuali penimbun masker yang bisa untung berkali-kali lipat, itu juga berisiko masuk penjara.

Namun, penting untuk melihat opsi mana yang paling ‘memungkinkan’ dalam situasi seperti ini. Setidaknya yang paling adil di antara opsi yang tidak adil.

1. Seri A Disetop Tanpa Juara

Opsi pertama adalah Seri A disetop dan diputuskan tanpa ada juara dan degradasi. Namun musim depan Seri A jadi memiliki 22 tim dengan tambahan promosi dari Seri B.

Langkah ini sudah pernah dilakukan oleh Liga Indonesia musim 1997/98 yang disetop gara-gara reformasi. Saat itu kompetisi sudah berjalan lebih dari setengah, tapi tingkat protesnya sangat minimal karena semua mengerti situasi dan kondisi saat itu.

Menurut hemat penulis, langkah ini adalah yang paling adil mengingat jarak Juventus dan Lazio hanya terpaut 1 poin saja. Tentu Juve dirugikan karena merasa sedang unggul, tapi Lazio juga merasa dirugikan karena mereka punya peluang besar menyalip Juve dan menjadi Scudetto.

2. Seri A Disetop, Juventus Otomatis Juara

Pilihan ini sudah pasti paling buruk di antara semua pilihan yang ada. Juventus yang sedang memimpin dianggap keluar sebagai juara karena kompetisi disetop. Hal ini bikin rugi bandar Lazio yang hanya terpaut satu poin saja.

Mungkin hal ini bisa berlaku di Liga Primer karena jarak Liverpool jauh banget sampai 25 poin dengan Manchester City. Bahkan melebihi aturan “Social Distancing” yang diterapkan di Indonesia.

Ibarat kata, Liverpool juara liga tinggal dua kali meludah saja. Gelar juara Liverpool bisa dipercepat dan cukup adil meski alam semesta pada enggak suka melihat Liverpool juara.

3. Playoff (Walau Ditolak)

Opsi ketiga cukup memungkinkan, yakni kompetisi disetop lalu diberlakukan playoff untuk menentukan juara dan degradasi. Misalnya, peringkat satu (Juventus) vs peringkat empat (Atalanta), dan peringkat dua (Lazio) vs peringkat tiga (Inter). Pemenangnya bertemu di final.

Atau pilihan lain, keempat tim dipertandingkan ulang, bertemu semua semacam liga kecil. Namun, hal ini juga tidak adil bagi Juventus, Lazio, dan klub-klub lainnya selain Inter dan Atalanta. Mengapa?

Juve dan Lazio sudah mengalahkan Inter pada paruh musim kedua, itu artinya kemenangan mereka sia-sia jika harus ‘tanding ulang’ melawan Inter. Iya kalau menang, kalau kalah rasanya pasti nyesek banget.

Kedua, playoff harusnya melibatkan klub yang masih punya peluang untuk juara. Dalam hal ini mungkin sampai melibatkan Roma, Napoli, Milan, Verona, sampai Parma yang berada di urutan sembilan.

Kompetisi masih menyisakan 12-13 laga, artinya Parma yang mendapat 35 poin jika menang terus akan dapat poin maksimal 74. Memang sih, peluangnya kecil banget, tapi kalau Tuhan berkehendak lain kan bisa saja. 😀

Namun jika melibatkan banyak klub, artinya jadi tidak efektif, mending liganya dilanjutkan sekalian. Plus, Roma dan Napoli juga masih punya peluang untuk tampil Liga Champions.

Yang paling diuntungkan? Tentu saja Inter dan Atalanta. Mereka bisa menjadi juara dengan melakukan 2 pertandingan saja. Jelas tidak adil, karena jarak poin mereka relatif jauh dari posisi satu dan dua. Apalagi, Inter hitungannya sudah kalah dari Juventus dan Lazio.

Selain itu, menentukan gelar juara hanya dari dua pertandingan rasanya juga kurang enak setelah apa yang sudah dilalui banyak tim selama setengah musim lebih.

Kalau mau, poin melawan Inter tetap dihitung jadi playoff tinggal menyisakan Juventus vs Atalanta, Lazio vs Atalanta, Juventus vs Lazio, dan Inter vs Atalanta dengan asumsi playoff dibuat jadi liga kecil.

Atau, cukup playoff Juventus vs Lazio saja yang memang bersaing ketat di puncak klasemen. Ditambah lagi, keduanya juga belum bertemu di paruh musim kedua.

Namun ternyata, update terakhir opsi playoff ini sudah ditolak mentah-mentah oleh klub-klub Seri A. Jadi opsi ini kemungkinan bakal dicoret dari daftar.

4. Lanjut Terooosss

Setelah muncul penolakan playoff, maka timbulah opsi kalau kompetisi akan terus dilanjutkan walau waktunya digeser. Seri A akan dimulai lagi pada bulan Mei setelah situasi Corona mereda, lalu main 3x seminggu, selesai pada akhir Juni dengan asumsi Piala Eropa 2020 ditunda.

Setelah muncul opsi ini, saya pikir ini yang paling adil. Kompetisi dilanjutkan saja terus, sampai selesai. Perkara ngaret, sudah jelas karena tak ada yang menginginkan Corona main ke Italia.

Efeknya kompetisi musim 2020/21 dimundurkan juga satu bulan. Dimulai pada September atau bahkan Oktober 2020.

5. Gelar Juara Ditentukan Paruh Musim

Ada opsi tambahan dalam menentukan gelar juara. Ini hasil diskusi di tayangan Debatory di kanal Youtube Bolatory. Yakni gelar juara ditentukan pada paruh musim dengan asumsi semua tim sudah bertemu semua. Kemudian poin yang dihasilkan musim kedua, hangus semua.

Alhasil, Inter lah yang keluar sebagai juara karena pada paruh musim mereka yang berada di posisi satu. Namun, hal itu juga mengundang perdebatan karena poinnya sama dengan Juventus pada Giornata terakhir paruh musim pertama.

6. Sejumlah Pertandingan yang Tertunda Dikasih Poin Rata

Opsi tambahan lainnya, pertandingan yang mengalami penundaan di-skip saja, tidak ada yang menang atau kalah. Semua dikasih poin satu, atau poin tiga sama rata.

Misalnya, kompetisi terhenti di Giornata 26, jika di-suspend sampai 3 April maka akan ada 4 Giornata yang tertunda. Jadi pertandingan dari Giornata 26 sampai 30 dianggap menang semua, tak peduli siapa lawannya. Kemudian lanjut lagi pada Giornata 31.

Yang diuntungkan tentu tim-tim kecil jika pada periode itu menghadapi tim-tim besar. Tapi tim besar sendiri tetap mendapat poin dari situ.

Entah ini menyalahi aturan atau tidak, namanya juga opsi kan boleh-boleh saja diusulkan. Lagipula, tulisan ini juga tak akan sampai ke Italia. 😀

Setidaknya itu beberapa opsi yang disampaikan FIGC ditambah dengan opsi dari netijen tak bertanggung jawab macam penulis. Hanya sekadar hiburan saja sambil menikmati WFH, daripada tidak ngapa-ngapain.

Dari sisi penulis, jika tidak ada perkembangan dari COVID-19 di Italia, lebih baik disetop saja tanpa juara. Jika ada perkembangan, liga dilanjutkan terus sampai selesai dengan risiko terlambat sampai Juni atau Juli.

Bagaimana dengan kalian, wahai rakyat sok tahu?



Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here