AS Monaco akhirnya jadi tim yang menggusur kekuasaan Paris Saint-Germain (PSG) di Ligue 1 yang belakangan seperti Orde Baru, tak kunjung selesai. Monaco resmi jadi raja baru Ligue 1 setelah mengalahkan Saint-Etienne dengan skor 2-0.

Monaco membuka pesta kekuasaan mereka lewat pemain yang baru lulus SMA, Kylian Mbappe, setelah lolos dari jebakan offside. Etienne berani-beraninya mau pakai jebakan offside, mereka lupa kalau speed-nya Mbappe sudah kayak motor BM mau kasih tilang.

Les Monegasques” kemudian menambah keunggulan lewat Valere Germain pada masa injury time setelah menerima umpan asyik dari Thomas Lemar. Keunggulan 2-0 sudah cukup buat Monaco untuk meraih gelar juara liga.

Mereka dipastikan jadi juara, selain mengumpulkan poin paling banyak di antara 38 peserta, mereka unggul enam poin dari PSG di peringkat kedua. Trofi ini langsung disambut seluruh penjuru kota Monaco yang sudah rindu mengangkat piala tersebut. Ini gelar liga kedelapan sepanjang sejarah klub.

https://twitter.com/SquawkaNews/status/864956922717458432

Maklum, terakhir kali mereka juara liga terjadi 17 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000 saat presiden Indonesia masih dipimpin Gus Dur. Zaman di mana Young Lex juga masih cupu. Saat itu, Monaco lagi diperkuat Fabien Barthez, Willy Sagnol, dan David Trezeguet.

Tahun demi tahun dilalui tanpa gelar berikutnya. Malah lebih parah, Monaco terdegradasi pada musim 2010/11. Dua musim dihabiskan di Ligue 2, akhirnya bisa kembali lagi ke Ligue 1 di mana empat pemain masih bertahan sampai sekarang seperti Danijel Subasic, Andrea Raggi, Nabil Dirar, dan Germain.

Makanya, mereka sangat bahagia dan tertawa lepas akhirnya bisa buka puasa gelar tanpa didahulukan niat itu. Ditambah pernah didegradasi pula, seolah saat itu jadi tanda akhir zaman buat warga Monaco.

Warga Monaco kini siap berpesta tujuh hari tujuh malam. Bahkan perayaan pesta mereka siap menghadirkan rapper kondang, 50 Cent. Jika perlu, selametan potong tumpeng sekalian.

“Setelah musim yang luar biasa, gelar ini sangat berarti bagi kami. Para pemain yang berbakat dipimpin oleh pelatih hebat. Semua berkerja dengan baik bersama dukungan staf profesional dan suporter yang setia,” kata pemimpin tertinggi Monaco, Pangeran Albert II, yang punya nama asli Alexandre Louis Pierre Grimaldi, dikutip dari Canal+. 

Rebut Tahta dengan Darah Muda

Apalagi, Monaco sukses menghentikan dominasi musuh bebuyutannya, si PSG, yang sudah empat tahun terakhir selalu jadi juara. Bikin bosan dan malas buat diikuti perkembangannya. Seolah tak ada yang mampu menyamai kekuatan kelas dunianya PSG yang banyak duit.

“Trofi ini begitu hebat karena tim ini tidak difavoritkan menjadi juara liga. Monaco sudah jadi juara. Nilainya seperti empat titel juara PSG,” ucap pelatih Leonardo Jardim.

Monaco memang memulai musim ini bisa dibilang seperti ampas Energen, tidak diperhitungkan, biasanya tidak keminum dan langsung kecuci. Pasalnya, Jardim tak punya skuat yang mewah seperti yang dimiliki PSG.

Daripada iri lihat tetangga yang duitnya enggak habis-habis, lebih baik mereka usaha sendiri melalui pengembangan pemain mudanya. Ternyata berhasil.

Nama-nama darah muda seperti Kylian Mbappe, Thomas Lemar, Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Djibril Sidibe, sampai Benjamin Mendy yang namanya tak cocok dengan wajahnya, tiba-tiba masuk media sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Padahal, mereka-mereka itu bahkan belum mengerti bola saat terakhir kali Monaco juara liga. Sebagian baru pada masuk sekolah TK sambil bercita-cita jadi pilot, sebagian masih asyik main Winning Eleven zamannya Roberto Carlos, bahkan masih ada yang baru bisa jalan.

https://twitter.com/shotongoalx/status/865081904940318720

Monaco tiba-tiba menjelma jadi tim yang luar biasa. Bukan hanya di lokal, tapi juga di internasional. Tim berkostum merah-putih kaya warna bendera Monaco itu bisa sampai semifinal Liga Champions.

Di Ligue 1, kemenangan mereka bukan untung-untungan atau sekadar mencetak gol lebih banyak dari lawan. Tapi benar-benar membabi-buta. Lihat saja jumlah gol mereka yang berjumlah 104 gol dengan hanya kebobolan 29 gol saja.

Itu kalau mau iseng dihitung-hitung, rata-rata tiap pertandingan mereka mencetak 2,8 gol. Entah bagaimana mereka bisa nanggung mencetak 0,8 gol, tak usah dipikirkan, namanya juga bahasa statistik.

https://twitter.com/AS_Monaco/status/864973238518120449

Yang menarik, meski mencetak gol sebanyak itu salah satu pemain mereka tak ada yang jadi top skor. Boro-boro Danijel Subasic, Radamel Falcao saja tidak.

Falcao jadi top skor Monaco di Ligue 1 cuma mengumpulkan 21 gol. Disusul Mbappe dengan 15 gol. Kalah jauh dari Edinson Cavani yang mencetak 35 gol.

Itu berarti, Monaco sangat solid dan kompak. Tak ada pemain yang menonjol, meski bagian bawahnya para pemain suka ada yang menonjol.

Sekali lagi, selamat buat Monaco!

Main photo credit: Squawka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here