Oleh: Labieb Sadat

Menilik performa Unione Sportiva Sassuolo Calcio atau yang lebih dikenal  US Sassuolo dalam 3 musim belakangan cukup mencuri perhatian banyak pihak. Entah pihak mana lebih detailnya, silakan dicari sendiri di Google.

Bagaimana tidak, skuad asuhan Eusebio Di Francesco yang baru pertama kali berkiprah di kasta tertinggi Serie A pada musim 2013/2014 kini sudah bermain di Liga Malam Jumat, alias Liga Europa. Sebuah pencapaian luar biasa untuk Domenico Berardi and friends.

Prestasi ini jelas tak semudah nge-flush kotoran sendiri di WC. Perlu waktu cukup lama bagi klub belang-belang hijau-hitam itu yang kayak warna partai Islam di Indonesia.

10 tahun yang lalu atau tepatnya pada pertengahan tahun 2006, zaman di mana SBY masih imut-imutnya jadi presiden, Sassuolo baru pertama kali mendapatkan tiket Seri C1 dibawah asuhan pelatih Marco Remodina. C1 itu nama divisi kasta ketiga di Italia, bukan SIM.

Selang dua tahun kemudian pada April 2008, pelatih saat itu, Massimiliano Allegri, berhasil mempromosikan skuad berjuluk “I Neroverdi” ini ke kasta kedua Liga Italia. Allegri juga saat itu masih ‘cupu’, belum sehebat sekarang yang bikin Milan dan Juventus jadi juara.

Di Seri B pelatih silih berganti menangani Sassuolo mulai dari Andrea Mandorlini lalu Stefano Pioli dan yang terakhir Eusebio Di Francesco. Di bawah arahan Di Francesco inilah titik balik mereka. Mereka sukses mendapatkan tiket Seri A untuk pertama kali dalam sejarah klub yang terbentuk pada 1922 ini, tepatnya setelah marbot musola Al-Ikhlas selesai adzan.

Dari Italia ke Eropa

Kampanye persiapan mereka dimulai saat pramusim. Manajemen mengganti Di Francesco dengan Alberto Malesani. Meski namanya ‘Malesani’ tapi tidak bikin malesin. dan tanpa diduga-duga Sassuolo berhasil mendapatkan trofeo TIM Cup dengan mengungguli Juventus dan AC Milan.

Sebuah persiapan yang baik mengingat skuat mereka diisi pemain-pemain muda dan kelas dua saat itu. Serie A ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Hanya mendulang satu poin dari lima pertandingan awal musim 2013/14 menjadi rangkuman skuat asuhan Alberto Malesani kala itu.

Performa yang buruk ternyata tidak berimbas pada rapor individual pemain. Domenico Berardi ternyata berhasil mencuri perhatian para pengamat sepakbola Italia saat itu. Salah satu laga yang bakal dikenang adalah saat pemain jebolan Juventus itu menyarangkan empat gol ke gawang Milan saat bertanding di Stadion Mapei, kos-kosan mereka.

Pada pertengahan musim secara mengejutkan manajemen mengganti Malesani dengan pelatih legendaris mereka Eusebio Di Francesco. Di tangan berbulu Di Francesco lah prestasi Sassuolo lebih baik. Macam punya pacar baru, ‘bersama kamu aku merasa lebih baik’.

Mereka berhasil bertahan di Serie A walau harus puas bertengger di posisi 17. Berardi berhasil mencatatkan namanya sebagai top skor team dengan raihan 16 gol dan berada di posisi tujuh daftar pencetak goal terbanyak Liga Italia saat itu.

Lumayan lah buat ukuran Berardi yang baru berusia 20 tahunan. Kalau pemuda lain di Indonesia cuma sibuk isi kolom komentar di Youtube, Berardi sudah menghasilkan 16 gol di Seri A.

Hasil gambar untuk berardi
Domenico Berardi, si anak emas Sassuolo. (Source: Goal)

Musim 2014-2015 prestasi Sassuolo lebih baik. Duet Simone Zaza dan Berardi mampu membawa klubnya mengakhiri musim di posisi ke-12. Berardi kembali mendapat gelar top skor tim dengan capaian 15 gol.

Namun, kejutan sesungguhnya terjadi pada musim 2015/16. Skuat yang berdomisili di Provinsi Modena yang jauh sekali dari Provinsi Sulawesi Tenggara itu berhasil finis di posisi keenam. Bahkan di atas Milan dan Lazio yang memang lagi kayak rok kena angin, melambai-lambai tak jelas arah, tujuan, maupun motivasi.

Hebatnya lagi, Sassuolo cuma punya tiga pemain non-Italia yakni Alfred Duncan, Gregoire Defrel, dan Sime Vrsaljko. Tiket kualifikasi Liga Europa pun menjadi ganjaran atas prestasi tersebut sekaligus kesempatan pertama “I Neroverdi” bermain di level Eropa.

Hal ini berpengaruh saat jendela transfer dibuka. Eksodus pemain tidak terelakan lagi. Dimulai dengan kepergian Simone Zaza ke Juventus (sekarang West Ham) lalu Nicola Sansone yang berkibar bersama Villareal (Spanyol) dan bek sayap Internasonal Kroasia, Vrsaljko yang memutuskan hijrah ke Atletico Madrid.

Meski begitu, prestasi mereka tergolong stabil dengan berhasil menebus babak utama Liga Europa setelah menjungkalkan perlawanan Luzern dan Crvena Zrveda. Patut dinantikan kejutan apalagi yang akan dibuat oleh Defrel dkk pada akhir stagione 2016/17.

“Apakah ini keajaiban? Kami tidak percaya dengan dongeng semacam itu. Kami percaya pada pengorbanan dan kerja keras,” ujar Di Francesco yang tampangnya lebih cocok jadi pengamat politik, ketika itu.

Kisah Klasik

Namun, sudah banyak cerita dongeng macam Sassuolo ini. Sebuah kisah klasik yang sering kita dengar, tim kuda hitam yang datang dari antah berantah, tiba-tiba nongol mengguncang dunia.

Mereka menjelma jadi ksatria bukan karena kekuatan uang semata. Tapi karena kekompakan dan kerja keras tim yang bisa bikin mereka berbicara.

Pada tahun 2000-an awal, ada fenomena Chievo Verona yang tiba-tiba memimpin klasemen pada debutnya di Seri A selama enam pekan. Meski akhirnya disingkirkan pelan-pelan oleh Juventus, Roma, Inter, dan Milan, Chievo sukses finis di peringkat kelima dan melaju ke Piala UEFA, sekarang namanya Liga Europa atau Liga Malam Jumat.

Pada 2006/07, mereka juga sempat lolos ke Liga Champions meski terima tiket buangan dari Juventus, Lazio, dan Fiorentina akibat kasus calciopoli yang menghebohkan saat itu. Chievo yang finis di peringkat tujuh mendadak naik peringkat ke urutan keempat.

Sayang, pada babak kualifikasi Liga Champions mereka gagal setelah disingkirkan Levski Sofia. Memang harap maklum, pada dasarnya tidak lulus UMB atau SNMPTN, makanya belum bisa mengikuti ritme mainnya Liga Champions.

Di Jerman, juga ada kisah Cinderella semacam ini, yakni ceritanya Wolfsburg yang tiba-tiba bisa jadi juara Bundesliga musim 2008/09. Padahal, 20 tahun sebelumnya mereka masih main di liga amatiran. Tapi pelan-pelan bisa masuk ke Bundesliga pada akhir 1990-an saat zaman Reformasi.

Penampilan konsisten mereka tunjukkan meski mainnya di papan tengah. Tapi lumayan daripada kayak ingus yang cuma keluar-masuk Bundesliga.

Cerita yang paling baru, tentu saja datang dari Inggris musim lalu. Cerita di mana Leicester yang out of nowhere bisa jadi juara Liga Primer. Sudah banyak ulasannya yang bisa Anda cari di Google.

Pertanyaannya, sejauh mana klub-klub semenjana itu bisa terus jadi kuda hitam? Syukur-syukur bisa menjelma jadi tim besar beneran. Chievo faktanya cuma sekali celup saja masuk ke kompetisi Eropa.

Wolfsburg rada lumayan, sempat konsisten di papan atas tapi nyatanya hanya di atas garis kemiskinan, alias degradasi. Leicester? Main lumayan di Liga Champions, tapi terseok-seok musim ini sampai memecat Claudio Ranieri. Sempat ada di atas garis kemiskinan juga.

Pada akhirnya mereka cuma jadi kisah klasik untuk masa depan. Yang diingat cuma masa-masa indah saja, tapi kemudian orang lupa begitu saja karena tak pernah terulang lagi masa-masa itu.

Bagaimana dengan Sassuolo? Kita doakan saja semoga Sassuolo bisa makin sukses dan diberikan keberkahan dari Tuhan. Tak sekadar sekali dua kali muncul saja kayak iklan Rexona. Tak sekadar jadi kisah klasik untuk masa depan, seperti lagunya Sheila on 7.

Main photo credit: sepakbola.com 


LabibLabieb Sadat

Hard-worker. Seorang penikmat sepakbola dan pecandu futsal, karena pada hakikatnya “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here