Swiss meraih kemenangan tak terduga bercampur drama saat melakoni match kedua melawan Serbia. Sempat tertinggal lebih dulu 0-1, mereka berhasil comeback 2-1 dengan mencetak gol kemenangan pada akhir-akhir laga.

Pertandingan ini dimulai dengan peluit pertama diiringi dengan tendangan kick off yang dilakukan seorang pemain, tidak sampai delapan pemain. Syarat mereka memenangkan laga ini harus mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Gawangnya ada dua, bukan enam seperti lubang meja biliar. Sudah pasti jauh lebih sulit mencetak gol di sepak bola ketimbang biliar.

Baru lima menitan berjalan, Serbia sudah mencetak gol lewat sundulan otak kiri Aleksandar Mitrovic. Memanfaatkan umpan silang membelah awan dari Dusan Tadic, Mitrovic dengan postur tubuh tinggi macam tiang kanopi menyundul bola ke gawang Yann Sommer. Sommer cuma bergerak formalitas saja macam tukang parkir Alfamart.

Tertinggal satu gol, Swiss tidak mau kalah. Lawan cetak satu, mereka juga harus cetak satu, kalau perlu lima sekaligus dalam satu kali kick off. 

Sayangnya, bikin lima gol itu tak semudah membalikkan telapak tangan bayi lima bulan. Rasanya susah banget padahal gawang Serbia itu terbilang cukup lebar walau ukurannya juga sama dengan gawang Swiss.

Sebuah peluang emas banget didapat Blerim Dzemaili di depan gawang Serbia. Namun, kiper Vladimir Stojkovic dengan sigap menepis bola keluar lapangan tanpa disuruh.

Swiss baru benar-benar bikin gol di babak kedua tepatnya pada menit ke-57. Tendangan Granit Xhaka dari luar kotak penalti meluncur cepat tanpa mengucapkan Assalamualaikkum.

Gara-gara tak mengucapkan salam, kiper Stojkovic kaget bukan kepalang. Merasa ada tamu yang ngeloyor masuk ke rumahnya saat sedang tidur memakai kolor.

Dapat satu gol bikin Swiss jadi ketagihan. Kali ini lewat Xhaqiri yang berbadan bantet kayak kue bolu lupa dikasih tepung. Tendangan kaki kirinya yang melengkung hanya mampu ditepis oleh tiang gawang.

Petaka buat Serbia akhirnya benar-benar datang pada menit ke-90. Saat lagi enak-enak menyerang mau bikin gol pada menit akhir, mereka malah keserang dan kebobolan.

Serangan counter attack yang cepat dari Mario Gavranovic langsung diumpan jauh ke depan yang dikejar oleh Shaqiri. Meski badan dan kakinya pendek, ternyata tak membuat larinya juga jadi pendek.

Shaqiri sekuat tenaga mengejar bola dan menggiringnya sampai ke depan gawang. Meski sudah coba diganggu oleh Dusko Tosic, Shaqiri tetap bisa mencetak gol lewat tendangan pelan saja mengecoh Stojkovic.

Gol tersebut langsung disambut gembira oleh warga Swiss. Tak ada warga Swiss yang tak gembira saat mampu mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir semacam itu.

Gol dan kemenangan itu juga sangat emosional bagi Xhaka dan Shaqiri, sang pencetak gol kemenangan Swiss. Usut punya usut, mereka begitu dendam kepada Serbia karena rumah mereka di Albania dulu diserang habis oleh Serbia. Akhirnya mereka mengungsi ke Swiss dan menjadi warga negara di sana.

Sambil berlari, Xhaka dan Shaqiri menautkan ibu jari kedua tangannya dan dengan jari-jari lainnya direnggangkan menyerupai burung. Banyak yang menduga gerakan itu melambangkan simbol “Albanian Eagles” dalam bendera Albania.

Padahal belum tentu itu simbol negara Albania. Bisa saja dia sedang main bentuk-bentukan bayangan pakai tangan di tembok. Bisa berupa angsa, anjing, atau kuda.

Yang jelas, Shaqiri sendiri mencoba mengelak dan mengaburkan selebrasinya yang katanya bercampur nuansa politik itu. Daripada tambah bikin heboh dunia persepak bolaan apalagi dunia persilatan.

“Dalam sepak bola Anda selalu memiliki emosi dan Anda dapat melihat apa yang saya lakukan dan itu hanya emosi. Saya sangat senang mencetak gol, itu saja. Saya tak ingin membicarakannya lebih lanjut,” katanya, dikutip Goal. 

Main photo: Squawka 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here