Siapa masih ingat AC Parma? Anak muda zaman sekarang mungkin sudah jarang yang tahu. Namun bagi penikmat bola 90-an, Parma termasuk klub fenomenal pada masanya. Tim berjuluk “I Gialloblu” itu baru saja promosi ke Seri A. Padahal tiga tahun lalu mereka dipeloroti sampai ke Seri D.

Ya, Parma memang dinyatakan bangkrut tiga tahun lalu bahkan sampai susah bayar gaji pemainnya. Biar kata negaranya Italia, bukan berarti mereka bisa hidup sejahtera. Kehidupannya juga sama kayak di sini, gaji ditunggak, bayar listrik pakai token saja rasanya sulit. Alhasil tiap kehabisan pulsa bakalan bunyi sepanjang malam.

Berhubung bangkrut, otoritas sepak bola Italia lalu menghukum mereka langsung ke Seri D. Memulai kompetisi lagi dari awal, seolah status klub profesionalnya dicabut.

Jelas hukuman ini bikin sedih para pendukung Parma yang disebut Parmagiani. Padahal, tahun 1990-an mereka berjaya begitu rupa. Nama-nama beken macam Lilian Thuram, Nestor Sensini, Hernan Crespo, Fabio Cannavaro, Antonio Benarrivo, Dino Baggio, Diego Fuser, Gianfranco Zola, sampai Enrico Chiesa menjadi idola mereka pada zamannya.

Sama satu lagi jangan lupakan kiper legend, Gianluigi Buffon, di mana Parma jadi klub yang mengorbitkannya sebelum dibeli Juve lalu jadi kiper termahal di dunia pada 2001. Skuat gila tersebut membuat Parma menjuarai Piala UEFA (kini Liga Europa) dua kali tahun 1995 dan 1999.

Sayangnya, Parma bukan klub yang punya manajemen hebat macam Juventus, Milan, atau Inter. Beberapa pemain harus dijual untuk mengimbangi neraca keuangan mereka. Alumni-alumni Parma yang terbang ke klub lain pun jadi pemain besar nan legendaris. Ya sebut saja Thuram, Cannavaro, Crespo, dan Buffon.

https://twitter.com/UNILADFooty/status/997582457930178560

Setidaknya Parma mengalami langganan pasang surut. Entah bayar berapa bisa sampai jadi member begitu. Dalam sejarahnya, klub yang dulu punya sponsor legend ‘Parmalat’ itu sudah beberapa kali terperosok ke lembah hitam.

Pada 1960/61, mereka melakukan debutnya di kompetisi Eropa namun didegradasi ke Seri C pada 1964/65, bahkan Seri D pada 1966. Mereka lalu bangkit pada 1980-an, sebelum akhirnya masuk ke Seri A lagi pada 1990 di bawah asuhan pelatih Nevio Scala.

Saat itu Parma lagi masa-masa subur, soalnya dapat suntikan dana dari Parmalat, perusahaan makanan cukup besar di Italia, sehingga langsung jaya pada saat itu juga. Hanya dalam setahun di Seri A, Parma sudah bisa lolos ke Piala UEFA, bahkan menjuarai Coppa Italia pada 1992 mengalahkan Juventus.

Mereka lalu menjuarai Piala Winners, atau kompetisi kasta ketiga Eropa yang sekarang sudah enggak ada lagi. Selebgram sekelas Awkarin dan Rachel Vennya sudah pasti tidak tahu kompetisi ini.

Parma lalu menjadi klub yang disegani di Seri A, bahkan jadi salah satu Magnificent Seven di Liga Italia yang lagi jaya-jayanya ketika itu. Sama jayanya dengan komentator Rayana Djakasuria yang hobi melaporkan pertandingan langsung dari Roma.

Sayangnya, lagi-lagi Parma mengalami kolaps saat Parmalat yang jadi investornya juga kolaps. Pada 2004 mereka sudah nyaris didegradasi saat finis di atas garis kemiskinan. Sampai akhirnya mereka benar-benar didegradasi tahun 2008.

Parma lalu kembali lagi ke Seri A pada 2010. Mereka ini memang sudah kayak ingus saja hobinya keluar-masuk Seri A. Tahun 2014 sudah bangkit lagi dengan lolos ke Liga Europa.

https://twitter.com/IFTVofficial/status/997577152764825600

Sayang, lagi-lagi duit jadi kendala. Mereka gagal masuk Liga Europa karena ketahuan terlambat membayar pajak dan gaji pemainnya. Pada musim 2015 jadi musim paling hancur dalam sejarah hidup Parma.

Mereka dianggap bangkrut, dan langsung dijebloskan ke Seri D. Ibarat kata dicemplungin ke got yang paling dalam, bau sebau-baunya.

Namun namanya klub legend tetaplah legend. Mentalitas tinggi sepertinya sudah menjadi darah daging klub ini. Mau terjerembab seperti apa, tetap bisa bangun lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya mereka bangkit. Tahun 2015 main di Seri D, lalu berturut-turut mereka promosi ke Seri C, Seri B, lalu sekarang ke Seri A.

Kepastian itu didapat setelah mereka mengalahkan Spezia 2-0. Jumlah poin mereka sebenarnya sama dengan Frosinone, tapi Parma unggul head to head. Kini masih ada satu lembar tiket lagi yang mesti direbutkan Frosinone, Palermo, Venezia, Bari, Cittadella, dan Perugia dalam babak play off. 

“Ada kesenangan tersendiri atas pencapaian ini, tak semua orang bisa kembali ke Seri A secepat ini. Pada momen ini, kami menikmati promosi ini, bahkan saat-saat gelap membantu memperkuat kami. Jika melihat statistik, kami menyelesaikan musim ini dengan pertahanan terbaik dan saya pikir tim ini sangat solid,” ujar pelatih Roberto D’Aversa, dikutip Kompas. 

Lucarelli Tepati Janji

Dari segenap pemain pergi meninggalkan Parma, menyisakan kapten Alessandro Lucarelli yang seangkatan Buffon, tetap setia berada di Parma. Dia tak peduli dengan status Seri D, soalnya pemain ganteng kebapakan itu sudah berjanji bakal tetap membela Parma dan membawanya kembali ke Seri A.

Lucarelli yang sudah berusia 40 tahun, tak peduli dengan usianya itu, ternyata mampu menuntaskan janjinya. Tak peduli dengan jenggot yang sudah beruban, yang penting bisa membawa Parma kembali ke Seri A.

“Saya pernah berjanji akan membawa Parma kembali ke Seri A. Saya pegang janji itu, jelas tampaknya bakal mustahil. Semua orang tak percaya dengan hal itu, bahkan dalam mimpi saya sendiri. Nyatanya kami bisa,” kata Lucarelli sambil menangis penuh haru.

Gitu dong, laki-laki yang dipegang enggak cuma ‘burung’-nya, tapi juga omongannya. Salut dan respek!

https://twitter.com/Omar__cr7_/status/997671191732158464

Main photo: @1913parmacalcio

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here