Setelah mandek dan mampet, Juventus akhirnya Scudetto juga. Dibutuhkan waktu berhari-hari untuk memastikan ke-Scudetto-an mereka itu karena dalam beberapa laga bantet banget kayak bolu gagal.

Andai saja lawan Milan dan Sassuolo enggak dikombek, Juve sudah juara dari pekan lalu. Bahkan lawan Udinese saja yang tinggal butuh satu kemenangan hari Jumat lalu, pakai acara kalah di ujung segala.

Jelas bahwa kondisi itu bikin Juventini gemas bukan kepalang. Bawaannya sudah ingin ganti pelatih saja karena Maurizio Sarri dinilai miskin kreasi. Alias mainnya gitu-gitu doang bisa dibaca lawan.

Sampai kepastian itu datang tadi malam. Melawan Sampdoria, Juventus memastikan gelar kesembilan berturut-turut Scudetto mereka. Juve sukses mengalahkan Sampdoria dengan skor 2-0 alias dua gol tanpa ada balasan sama sekali.

Cristiano Ronaldo membuka perayaan gelar mereka lewat gol dari skema cantik tendangan bebas. Miralem Pjanic berhasil melakukan aksi 378 alias gerakan tipuan. Saat hendak menendang free kick, dikira tendang langsung ke gawang ternyata malah dioper ke Ronaldo.

Di babak kedua, Juve menggandakan keunggulan sekaligus mengamankan nyawa mereka karena biasanya suka dikombek. Tendangan Ronaldo gagal ditepis dengan sempurna oleh Emil Audero, mantan kipernya Juventus.

Bola muntah langsung disambar Federico Bernardeschi yang mencetak gol pertamanya setelah 36.789.124 pertandingan. Saking lamanya enggak mencetak gol, sampai lupa sudah berapa lama dia main bola.

Juve ada potensi nyaris dikombek oleh Sampdoria. Tim berbaju biru macam Aqua galon itu beberapa kali mengancam gawang Juve. Namun pertahanannya kali ini cukup solid, termasuk kiper yang namanya susah disebut.

Ronaldo sebenarnya berpeluang menambah gol dari titik penalti, lumayan buat mengejar ketinggalan golnya Ciro Immobile yang mencetak hattrick lawan Verona. Cuma sayang, penalti tersebut malah dibenturkan ke tiang. Mungkin Ronaldo sudah malas, tiap golin penalti selalu diledekin.

Peluit panjang akhirnya ditiup mulut bau sang wasit. Juve memastikan diri gelar ke-36-nya. Saking banyaknya gelar domestik, Juve ini akrab disapa “King Localan”.

Bagi Juventus sih, Scudetto begini saja sudah biasa. Apalagi sampai 36 kali. Namun bagi pelatih Maurizio Sarri, jelas ini sangat luar luar luar biasa.

Bapak-bapak tua itu akhirnya meraih gelar domestik pertamanya setelah bertahun-tahun jadi pelatih, setelah 20 kali berganti klub. Mulai dari menangani klub amatir divisi 8 Italia, hingga membawa Chelsea jadi juara Liga Europa, dan terakhir Juventus meraih Scudetto.

Sekadar info, Pak Sarri ini memang awalnya berprofesi sebagai bankir pada usia 30 tahun. Kemudian banting setir jadi pelatih bola, berganti klub-klub kecil sampai akhirnya bisa raih Scudetto pada usia 61 tahun. Kesuksesan memang tak mengenal umur.

“(Memenangi scudetto) rasanya spesial tentu saja. Sulit untuk meraih kemenangan, dan semakin sulit untuk selalu menang, karena menganggap itu hal yang biasa adalah sebuah kebohongan besar,” ujar Sarri selepas laga kepada Sky Sport Italia yang disalin dari Detik.

“Gelar ini tak semudah yang dibayangkan. Butuh perjalanan panjang, sulit, bikin stres, dan tim ini berhak mendapat kredit atas konsistensi mereka yang tetap lapar gelar dan terus mengejar gelar juara meski sudah menang delapan kali beruntun,” sambungnya.

https://twitter.com/juventusfcen/status/1287528288534106113?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1287528288534106113%7Ctwgr%5E&ref_url=https%3A%2F%2Fsport.detik.com%2Fsepakbola%2Fliga-italia%2Fd-5109027%2Fbagaimana-rasanya-raih-scudetto-sarri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here