Serie A musim 2018/2019 sudah digelar, Inter Milan belum sekalipun bisa menang. Bertanding melawan Sassuolo, Inter terpaksa menelan kekalahan tipis 0-1. Setipis suara-suara sumbang yang masih nyinyir soal Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin.

Setidaknya ada satu pelajaran yang kita bisa petik dari kekalahan Inter tersebut. Bahwa sebenarnya belanja banyak dan boros tidak menjamin Anda menjadi sukses seketika. Tetapi proses, kerja keras, dan perjuangan lah yang akan memberikan hasil nantinya. Salam super begitu kurang lebih kalau kata Mario Teguh.

Inter sebenarnya menghadapi Sassuolo dengan kepercayaan diri tinggi. Digadang-gadang menjadi salah satu kandidat kuat juara di musim ini, mungkin malah jadi besar kepala Inter macam Jimmy Neutron.

Apalagi dengan beberapa pemain yang berhasil mereka datangkan ke Guiseppe Meazza, tentu mereka berpikir akan melewati pertandingan perdana dengan mudah. Namun kenyataan sebaliknya, “Nerazzurri” masih dihantui mimpi buruk bernama Sassuolo.

Kekalahan tersebut memperpanjang catatan buruk Inter saat berhadapan dengan tim dengan warna kebanggaan hijau Whatsapp tersebut. Mereka sudah seperti batu Kryptonnya Inter. Apalagi, warnanya sama-sama hijau.

https://twitter.com/hajesalroh/status/1031279234235473920

Tercatat bahwa sejak Sassuolo promosi ke Serie A, mereka baru kalah sebanyak empat kali dan menang sebanyak tujuh kali dari 11 pertemuan dengan Inter. Dari tujuh pertandingan terakhir, Inter hanya menang satu kali yaitu di tahun 2016/2017 dengan skor tipis 1-0.

Pada pertandingan yang digelar di Mapei Stadium, Inter turun dengan kekuatan terbaiknya. Hanya Ivan Perisic dan Milan Skriniar saja yang dicadangkan. Menurut statistik pun Inter sebenarnya tampil dominan dengan penguasaan bola hingga 62 persen.

Namun laga yang diharapkan Inter tak berjalan semulus kulit tangan Aura Kasih. Sassuolo justru menekan Inter sejak menit-menit awal. Pada menit ketiga, Samir Handanovic sudah dipaksa kerja keras meski tidak sampai kaya kuda ketika menepis tendangan Bourabia dari jarak dekat.

Tekanan dari tim tuan rumah akhirnya berbuah penalti di menit ke-27. Di Francesco yang sedang melakukan akselerasi di kotak penalti tiba-tiba dijorokin oleh Joao Miranda yang namanya mirip merek minuman.

Padahal, Di Franscesco tidak salah apa-apa, tapi malah kena dorong dari Miranda. Berardi yang maju sebagai eksekutor dengan mudah menaklukan Handanovic membuat Sassuolo unggul 1-0.

Inter yang tersentak setelah gol tersebut lalu menguasai jalannya pertandingan di sisa waktu babak pertama. Namun tak satupun serangan berbahaya yang mengancam gawang Sassuolo. Spalletti pun mulai terlihat pusing meski rambutnya tak sampai tumbuh gondrong macam Super Saiya 3.

Masuknya Perisic di babak kedua menambah daya gedor Inter. Tendangan volinya di dalam kotak penalti lumayan bikin kiper Sassuolo deg-degan meski tidak menjadi gol.

Para pemain Inter terlihat mulai frustasi untuk membongkar pertahanan Sassuolo. Spalletti akhirnya kembali memasukan pemain anyar mereka yaitu Keita Balde untuk membantu mengacak-acak pertahanan Sassuolo.

Namun Balde sepertinya suka dengan kerapihan dan tidak suka mengacak-acak. Dia gagal memberikan pengaruh banyak pada serangan Inter. Hingga pertandingan berakhir, skor 1-0 tetap bertahan untuk keunggulan Sassuolo.

Meski kalah, pelatih Luciano Spalletti tetap memuji performa anak asuhnya. Menurutnya Inter telah bermain sesuai dengan apa yang direncanakan untuk ke depannya.

“Hari ini tim bermain seperti yang kami harus lakukan dalam waktu panjang, kami hanya beberapa kali kecolongan lewat serangan balik dan sulit menemukan tim yang hanya bertahan total, khususnya setelah mereka unggul,” ujar pelatih Inter, Luciano Spalletti dikutip dari Detik.

https://twitter.com/IFTVofficial/status/1031258853877272577

Main photo: @ChampionsLeague

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here