Oleh: Albertus Dio Sukma

Final Liga Champions Eropa 2018 telah berakhir, dan klub yang bertaburan bintang yang lagi-lagi keluar sebagai juaranya yakni Real Madrid. Membosankan? Betul, tapi sebagai penikmat sepakbola layar kaca kita pun harus mengakui bahwa “Los Merengues” memang punya mental juara jika berkancah di Eropa, maka banyak warganet yang mengatakan bahwa “Madrid punya DNA Eropa”.

Rangkaian cerita terjadi usai gelaran final tersebut, pernyataan “1 bola di lapangan dapat membuat 1001 cerita” seakan–akan memang sudah ter-mindset bagi diri seseorang yang benar-benar menikmati tayangan sepakbola.

Salah satu ceritanya ialah insiden jatuh bareng antara Sergio Ramos dengan Mohamed Salah. Tak ayal kejadian yg notabene nya resiko dalam permainan olahraga pun membuat Ramos dikecam oleh netizen dengan maha dahsyatnya.

Ada beberapa hal yang membuat Ramos dikecam, di sini saya dapat memapapar kan tiga hal. Pertama Ramos dikenal sebagai bek kotor dan usil yang mempunyai banyak haters di luar sana kecuali para dedemit, sebutan untuk fans Madrid di media sosial.

Kedua, mereka jatuh berdua tetapi Ramos tidak cedera, hanya Salah yg cedera. Mungkin jika Ramos ikut cedera, perdebatan ini pun tidak terjadi. Terakhir yaitu “The Pharaoh” dari Mesir, Salah, yang mungkin saat ini adalah orang yang paling disukai oleh umat manusia dari berbagai penjuru dunia. Jadi jika ia tersakiti semuanya bisa ikut beraksi, ibaratnya “lo gituin bos gue ya gue turun”.

Tapi jika kita melihat dari perspektif Ramos sebagai bek yang berkualitas, ia sudah menjalani tugas sebaik–baik nya. Tugas yang menjadi dasar seorang bek adalah mengadang pemain lawan untuk mempersempit ruang geraknya dan menghalau laju bola agar tidak masuk ke area pertahanan.

Lantas apa yang dilakukan Ramos sebagai bek sudah patut diacungi jempol. Selama Salah bermain 30 menit di laga tersebut, Ramos sudah menjalani tugas dasar seorang bek. Dua tendangan Salah dapat diblok olehnya, Salah tidak dapat melepaskan sama sekali ruang tembak yang bebas dari pada bek Real Madrid.

Tindakan Ramos saat mengadang Salah pun bersih, saat menyapu bola ke depan, tangan kanan dari Salah masuk di antara badan dan tangan kiri Ramos. Hal itu turut membuat Ramos kehilangan keseimbangan dan akhirnya mereka terjatuh berdua.

Apes nya insiden ini seperti Ramos sedang melakukan “piting”-an ke Salah layaknya acara WWE Smackdown. Padahal insiden ini memang tidak bisa terelakkan lagi, inilah resiko dari permainan olahraga.

Kesimpulan yang dapat diambil dari kejadian ini adalah jika salah satu trio FIRMANSAH (Firmino Mane Salah) ada yang cedera, Liverpool tidak mempunyai pengganti yang sepadan atau bisa dibilang tidak mempunyai kedalaman skuad mumpuni hingga akhirnya mereka mengalami kekalahan 1-3.

Sebuah kekalahan yang makin membuat Juergen Klopp membukukan label “Juara Tanpa Mahkota” karena dirinya selalu menjadi runner–up dalam enam final terakhir yang dilakoni nya.

Main photo: @be_clever


Albertus Dio2

Albertus Dio Sukma

Sebuah bola di lapangan yang membuat banyak cerita.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here