Ada apa dengan Wayne Rooney? Mungkin judul film AADC cocok menggambarkan striker tim nasional Inggris dan Manchester United (MU) itu. Maklum, musim ini penampilan Rooney tidak ada perbaikan. Padahal jalanan ibukota saja selalu mengalami perbaikan menjelang akhir tahun.

Rooney memang terus jadi bulan-bulanan fans dan media di Inggris akibat performa buruknya musim ini. Puncaknya, saat dia mendapat cemooh dari suporter saat tim cap tiga singa itu menghadapi Malta di babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Hal itu juga membuatnya dicadangkan oleh caretaker Gareth Southgate untuk pertandingan berikutnya lawan Slovenia.

Dalam pertandingan 90 menit lebih sedikit melawan Malta, Rooney tampil sangat mengecewakan. Dia bagaikan kertas bawah bakpau yang tidak jelas untuk apa ada di situ. Bahkan kerap mengganggu karena saat mau makan terpaksa dikupas dulu kertasnya agar tidak termakan.

Padahal, target Rooney adalah pembuktian diri menyusul penampilan jeleknya bersama MU. Dia pun berjalan gontai keluar lapangan usai pertandingan yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Inggris.

Southgate tampak merengut melihat penampilan Rooney. (cnn.com)
Southgate tampak merengut melihat penampilan Rooney. (cnn.com)

Namun, Southgate mengungkapkan rencana mencadangkan Rooney karena taktik semata. Bukan karena penampilan jeleknya melawan Malta, sebuah negara kecil kepulauan di sebelah selatan Italia yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Pulau Halmahera.

“Kami telah melihat cara bermain Slovenia dan saya tahu dalam pikiran saya, gelandang macam apa yang ingin saya mainkan dalam laga ini. Tentu ini bukan soal penampilan Rooney melawan Malta kemarin. Dia bermain dengan kedisiplinan taktik yang bagus,” ungkap si “gerbang selatan” itu, dikutip Goal.

Situasi ini bermula sejak dia tampil jelek saat MU bertekuk lutut di hadapan Watford 1-3 pada pekan kelima. Mainnya asal-asalan seperti PNS belum gajian. Operan-operannya kebanyakan ngaco menyusahkan kawan dan lawan. Itulah mengapa dia disebut sebagai biang onar kekalahan MU. Beruntung dia tak dipukuli Zlatan Ibrahimovic dan kawan-kawan. 

Kemudian pada laga berikutnya penampilan mantan pemain Everton itu juga tidak mengalami perbaikan. Meski masih jadi starter lawan Northampton Town, tim semenjana yang baru promosi ke liga kasta kedua Inggris, dia lagi-lagi tak memberikan manfaat berarti.

Itulah penampilan terakhirnya sebagai starter. Tiga pertandingan berikutnya Rooney hanya sebagai pemain pengganti. Saat menghadapi Zorya di Liga Europa juga podo wae. Meski menciptakan assist secara tak sengaja kepada Ibrahimovic, tapi kepercayaan dirinya belum juga kembali.

https://twitter.com/FidgeyCent/status/781748658953936896

Bahkan Ibra -sapaan akrab Ibrahimovic di kampungnya- sempat kesal lantaran Rooney terlihat malas-malasan saat melakukan pressing dan laminating. Pemain asal Swedia itu bete karena instruksinya didiamkan oleh Rooney yang ogah bergerak maju.

Musim ini Rooney memang baru mencetak sebiji gol dari 10 pertandingannya di segala kompetisi. Namun, menurunnya performa tersebut tak membuat Rooney berkecil hati, murung, atau sampai mengurung diri di kamar mandi. Dia juga tak berniat mundur dari timnas seperti Gerard Pique yang ngambek mendapat kritikan.

“Ini adalah sesuatu yang saya lalui. Saya cukup besar menghadapinya dan saya yakin bisa kembali. Saya masih 30 tahun, bukan 35 atau 36 tahun. Saya tak akan berhenti bermain untuk Inggris,” ujar Rooney yang lancar berbahasa Inggris itu, dikutip Soccerway.

Kondisi ini juga membuat pemain berbadan gempal itu mendapat dukungan dari rekan seperjuangan. Salah satunya dari mantan kapten timnas, John Terry. “Kita harus menunjukkan respek lebih kepada Rooney. Mari kita dukung Rooney dan timnas Inggris,” kata Terry bak kampanye gubernur DKI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here