Oleh: Paundra Jhalugilang

Arrivederci, Cristiano Ronaldo! Sebuah kata perpisahan dalam bahasa Italia untuk seseorang yang pergi dengan hormat dan respek. Ronaldo resmi meninggalkan Juventus hanya dengan waktu yang sangat singkat.

Yak betul, Fabrizio Romando sudah here we go hanya dalam beberapa jam ketika Ronaldo sudah memutuskan untuk meninggalkan Juventus. Banyak yang bertanya, umumnya dari orang-orang yang tidak mengikuti perkembangan sepak bola. Kok Ronaldo pindah? Memang kenapa?

Masalahnya sederhana meski rada susah dijelaskannya. Ronaldo memang merasa dianggap beban bagi Juventus hingga membuatnya tak lagi nyaman.

Semua memang berawal dari tiga tahun lalu ketika Juventini tidak pernah ada yang menyangka timnya bisa mendatangkan pemain sekelas Ronaldo. Padahal mah, beberapa tahun sebelumnya Juve cuma bisa mendatangkan Alessandro Matri atau Amauri Carvalho.

Namun pelan-pelan Andrea Agnelli membangun Juventus, kumpulin uang hasil dari bisnis dan rebranding, sampai akhirnya tibalah Ronaldo di Juventus. Mereka bisa beli Ronaldo dan bayar gajinya! Nama Juventus di gim PES atau FIFA pun jadi beken. Followers auto nambah, harga saham melejit tinggi.

Kedatangan Ronaldo memang timpang. Gajinya semusim 31 juta euro, beda jauh banget dengan Paulo Dybala dkk yang hanya di bawah 10 juta euro. Namun, visi Agnelli tetap satu: Juara Liga Champions!

Sayangnya, kedatangan Ronaldo tak diimbangi dengan support system dan situasi yang ideal. Jika di MU dulu ada Ryan Giggs, Paul Scholes, Michael Carrick, hingga Wayne Rooney, di Madrid ada Toni Kroos, Luka Modric, dan Karim Benzema, di Juventus cuma ada Rodrigo Bentancur, Blaise Matuidi, Dybala, dan Federico Bernardeschi. Pemain-pemain yang kurang punya mental juara. Yah, you know lah.

Memang, di Juve punya beberapa bintang macam Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, Gianluigi Buffon, hingga Sami Khedira. Namun, semuanya tinggal sisa-sisa saja. Sebagian sudah tua dan bahkan sakit-sakitan.

Praktis, Ronaldo jadi menclang sendiri di Juventus. Ibarat kata, mobil boleh Ferrari tapi rumah masih di KPR tipe 45. Enggak jelek-jelek amat, tapi kurang pas aja.

Agnelli tidak tinggal diam. Bersama Fabio Paratici mereka bekerja untuk mendatangkan pemain-pemain kelas dunia lainnya. Tapi nyatanya gagal. Yang datang malah pemain-pemain gratisan macam Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot.

Juve memang sukses mendatangkan Matthijs De Ligt. Tapi seperti yang kita tahu, De Ligt juga belum bagus-bagus amat di Juventus. Malah beberapa kali tetap mengandalkan Bonucci dan Chiellini di jantung pertahanan karena masih berasa lebih aman.

https://twitter.com/TrashADude/status/1430071329902972950

Musim lalu, sebenarnya Ronaldo mulai menemukan tandem permainannya. Masuknya Federico Chiesa dan Alvaro Morata bikin lini depan Juve jadi cukup gacor. Namun tetap saja, mereka seperti berusaha sendiri karena tidak ditopang lini tengah yang mumpuni.

Kondisi yang kurang ideal bukan cuma dari sisi rekan-rekan bermain. Tetapi juga dari sisi pelatih. Well, tiga musim Ronaldo di Juventus dilatih tiga pelatih alias setiap musim ganti.

Agnelli melihat bahwa Massimilliano Allegri bukan pelatih yang ideal untuk memainkan sepak bola cantik dan dianggap tidak bisa “menggunakan” Ronaldo dengan maksimal. Juve dianggap punya senjata nuklir tapi tidak tahu cara memakainya. Sudah dibeli dan digaji mahal-mahal, tapi tidak bisa digunakan maksimal.

Sempat muncul isu bahwa Allegri sebetulnya tidak setuju dengan kedatangan Ronaldo. Ronaldo pula lah yang dianggap jadi isu perseteruan Agnelli dengan direktur yang jago transfer, Giuseppe Marotta, yang akhirnya meninggalkan Juve.

Manajemen pun memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Allegri dan merekrut Maurizio Sarri sebagai pengganti. Bersama Sarri, tahu sendiri apa yang terjadi. Ditambah munculnya pandemi yang bikin suasana semakin buruk.

Sarri pun hanya semusim di Juve dengan skema permainan yang tidak jelas. Sarriball-nya tidak bisa diterapkan di skuat Juve yang memang acak-adul.

Musim berikutnya lebih gila lagi, Ronaldo ditangani pelatih newbie tanpa pengalaman, Andrea Pirlo. Gelar Scudetto pun lepas, meski bersama Pirlo, Ronaldo pertama kalinya mendapat gelar pencetak gol terbanyak Seri A dan gelar Coppa Italia.

Ronaldo sudah memutuskan bertahan di Juventus pasca-kepastian Juve main di UCL musim ini yang finis di posisi empat. Sayang, tiba-tiba manajemen kembali merekrut Allegri sebagai pelatih. Pelatih yang tidak menginginkannya di skuat Juventus tiga musim lalu.

Pada bulan April lalu, sebelum jadi pelatih Juve, Allegri secara terang-terangan mengucapkan, “Singkirkan Ronaldo, dia menghalangi pertumbuhan tim dan klub.”

Allegri merasa Ronaldo adalah beban. Bukan cuma beban permainan tim tapi juga beban finansial klub.

Banyak yang merasa bahwa Ronaldo memang agak terlalu egois ketika membangun serangan. Bahkan kerap dipaksakan melakukan tembakan. Dia maunya diservis, tetapi ingat, tidak ada pemain ideal di Juve saat ini yang mampu menyervisnya.

Pandemi juga bikin keuangan Juventus jadi tidak sehat. Juve banyak menaksir kerugian sehingga bursa transfer benar-benar harus diakali oleh manajemen. Tidak ada pemain yang dibeli cash. Semuanya berskema pinjam, dicicil, atau barter. Bahkan mereka tak mampu mendatangkan pelatih top karena terbentur gaji. Makanya Pirlo yang ditunjuk karena bergaji murah.

Kebayang betapa sulitnya Juve mendatangkan Manuel Locatelli yang cuma seharga 35 juta euro dipinjam dan dicicil beberapa kali. Padahal, empat tahun lalu Juve mendatangkan Bernardeschi 40 juta begitu entengnya.

Sebenarnya, Agnelli sudah memiliki rencana matang dan siap dieksekusi sebelum adanya pandemi. Rencana dari segi bisnis maupun transfer pemain. Entah apa dan siapa yang bakal dibeli.

Kalau dilihat mereka mampu beli De Ligt seharga 75 juta euro, memang tidak mustahil Juve akan mendatangkan pemain-pemain kelas dunia lainnya dengan harga mahal. Tujuannya untuk bangun support system ideal buat Ronaldo dan menjuarai Liga Champions. Sayangnya, rencana itu berantakan akibat pandemi.

Kini, Allegri masuk kembali ke Juventus. Sudah pasti bikin Ronaldo jadi insecure. Plus, pasti ada rasa di hati Ronaldo bahwa dirinya menjadi beban di Juventus. Bahkan muncul isu kalau Ronaldo memang sengaja dibuat tidak nyaman oleh Juventus. Entah gimana isunya, tapi jelas bahwa Ronaldo sudah berkorban untuk Juve yang lebih baik. Soalnya kalau sudah begini, memang jalan terbaik untuk keduanya adalah putus.

Toh, kalau Juve melego Ronaldo sudah mampu menghemat uang 31 juta semusim. Belum lagi kalau nilai transfernya mencapai 20-25 juta euro. Sehingga ada space 50 jutaan hasil kepergian Ronaldo. Hal itu bikin Juve jadi lebih punya keleluasaan untuk mendatangkan pemain lagi di bursa transfer.

Jadi memang perpisahan saat ini adalah momen yang sangat tepat buat keduanya. Juve bisa hemat gaji dan dapat fresh money ketimbang ditahan malah tahun depan kelepas gratis. Ronaldo pun bisa balikan dengan mantan, sebuah panggung terakhir bagi kariernya di Theatre of Dreams.

Banyak yang bilang, Ronaldo memang sebaiknya pergi saja dari Juventus karena memang bikin Juve gagal. Janjinya dapat trofi UCL, yang ada malah Scudetto terlepas. Sebuah pemikiran yang amat sangat pendek.

Bagi saya, kiprah Ronaldo di Juventus sudah luar biasa. Sudah maksimal dan itu yang terbaik di tengah kondisi yang tidak ideal.

Fyi, Ronaldo baru bisa menjuarai Liga Champions bersama MU setelah main lima tahun. Ronaldo baru bisa menjuarai La Liga bersama Real Madrid setelah main tiga tahun, dan menjuarai Liga Champions setelah lima tahun.

Itu MU dan Real Madrid, loh! Dua tim tajir yang memang isinya pemain-pemain kelas dunia. Sementara Ronaldo datang ke Juventus dengan kondisi pelatih bergonta-ganti, support system yang payah, tapi misuh-misuh kalau Ronaldo yang jadi penyebab scudetto Juve terlepas dan gagal raih UCL.

Sebelum ada Ronaldo, Juve bisa 2x tembus final UCL bahkan scudetto langgeng. Ya benar, sebelum ada Ronaldo itu masih ada Pirlo, Paul Pogba, Arturo Vidal, dan Claudio Marchisio bahkan Sami Khedira di lini tengahnya. Plus Patrice Evra dan Dani Alves di sisi bek sayapnya. Duo bek yang pernah juara UCL.

Waktu Ronaldo datang, Juve hanya berisikan pemain bermateri sedang-sedang saja macam Rabiot, Bentancur, Matuidi, Bernardeschi, bahkan Mattia De Sciglio di bek sayapnya. Dengan kondisi pelatih yang ganti-ganti terus.

Jelas bukan salah Ronaldo.

Mungkin Juventini saja yang ekspektasinya terlalu tinggi. Dikira dengan Ronaldo datang bisa langsung auto juara UCL.

Ronaldo hanya datang ke Juve tidak di saat yang tepat. Masuk Juve dengan rekan-rekan setim yang kurang memadai, serta dihajar pandemi COVID-19 yang bikin Juventus makin hancur-hancuran.

Namun itu saja, Ronaldo tetap mempersembahkan 2 gelar Scudetto, 1 gelar Coppa Italia, 2 gelar Super Coppa, dan menjadi Capocannoniere. Tak bisa dipungkiri, meski kadang suka egois, tapi Ronaldo jadi penyelamat Juventus dari kekalahan.

Selama tiga musim di Juventus, Ronaldo berperilaku baik dan menyenangkan. Tidak pernah berkomentar buruk untuk klubnya. Padahal, kata orang dia itu arogan.

Tapi nyatanya, Ronaldo justru baik-baik saja di Juventus. Kelihatan happy bahkan mau bergaul dengan kiper ketiga Juve, Carlo Pinsoglio :D. Bahkan juga pernah menolak ban kapten dan menyerahkannya ke Matuidi karena merasa belum pantas mengenakannya.

Dia juga menerima perilaku menyenangkan dari rekan-rekan setim dan fansnya. Bahkan pernah mendapat standing applause. Tidak pernah ada cemoohan untuknya. Dia juga pernah berkata bahwa rasa kekeluargaan di Juventus begitu erat, dia sangat nyaman di Juve.

Dia tampak enjoy dan menikmati kota Turin yang terkenal ideal buat tempat tinggal. Tidak seperti di Madrid yang “berisik”, Turin lebih sepi dan dia leluasa jalan-jalan ke sudut kota tanpa gangguan fans secara berlebihan. Ronaldo mencintai Turin.

Jadi sepertinya, tidak lah etis dan elok bila Juventini mengejek dan menyalahkan Ronaldo. Justru kita harus berterima kasih kepadanya.

Bagi penikmat sepak bola, alangkah indah buat Ronaldo mengakhiri kariernya di Manchester United. Sebuah jalan terbaik untuk balikan dengan mantan.

Terima kasih, Ronaldo! Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dalam sejarah klub terbaik di Italia.


This image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-02-at-16.01.31.png

Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

SHARE
Previous articleInter Diselamatkan Correa Bukan Utara atau Selatan
Next articleArsenal Desperado, Dibantai City Sampai Girang
Bolatory memberikan informasi terkini tentang sepakbola dilengkapi data dan analisis dengan gaya penulisan sesuka hati, loncat ke sana-ke sini, serta menghiraukan semua masalah di muka bumi ini. Tapi kami bukan kera sakti, kami adalah Bolatory.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here