Portugal meraih kemenangan pertamanya di Piala Dunia 2018 meski harus menunggu di laga kedua. Hal itu mereka raih saat mengalahkan Maroko dengan skor 1-0, tipis banget kayak sprei hotel melati.

Adalah Cristiano Ronaldo yang jadi pahlawan dengan mencetak gol satu-satunya di laga tersebut. Dia tak bosan-bosannya jadi tokoh protagonis meski wajahnya rada angkuh antagonis.

Kalau kata orang Betawi, “Elu lagi, elu lagi“. Memang nyatanya dia lagi yang harus turun tangan membantu negaranya meraih kemenangan. Yang menarik, Ronaldo kembali mencetak gol pada menit keempat.

Ya, Portugal memang membuat gol cepat pada laga tersebut saat laga baru berjalan empat menitan, yang sepertinya masih lebih lama menunggu tukang tambal ban menambal ban. Tendangan sudut dari Joao Moutinho dengan enak disundul Ronaldo yang tak terkawal.

Sambil menjatuhkan diri meski tak sampai menjatuhkan harga diri, pemain yang rajin keramas itu menanduk bola pakai kepala sisi kiri yang tak mampu digapai kiper Maroko, Munir, yang namanya tak asing di telinga orang Indonesia.

Itu merupakan gol keempatnya di ajang Piala Dunia kali ini. Uniknya, dia sudah mencetak gol pada menit keempat sampai dua kali. Sebelumnya lawan Spanyol juga bikin gol pada menit keempat. Selain itu, anaknya juga empat.

Ada apa antara Ronaldo dengan angka empat? Apakah ini sebuah konspirasi iluminati? Jangan-jangan dia bakal mempunyai empat istri? Wallahualam. 

Yang jelas, gol tersebut jadi satu-satunya di laga itu. Fans Portugal mungkin sempat geer sepertinya bakal ada banyak gol lagi seperti saat menghadapi Spanyol bisa sampai ada enam gol.

Ternyata tidak, sampai akhir pertandingan ini malah kering kerontang. Tahu begitu mending pertandingan cukup 10 menit saja, tak usah lelah-lelah sampai 90 menit.

Maroko sebenarnya lebih menguasai pertandingan. Pelatih ganteng konvensional bernama Herve Renard di pinggir lapangan sangat bersemangat memberikan instruksi yang tak sekadar formalitas bapak-bapak Polisi saat lagi macet.

Medhi Benatia dan kawan-kawan pun bermain lebih lepas, lebih rapi, dan lebih termotivasi. Skill-skill-nya juga tak kalah dari Ronaldo yang lebih banyak jatuhnya di laga ini.

Cuma sayang, penyelesaian mereka sangat buruk. Kerja sama sudah bagus tapi di kotak penalti Portugal melempem macam Chiki kelamaan di warung. Jelas ini adalah PR yang perlu dikerjakan Maroko karena pada laga lawan Iran juga begitu. Sekalinya bikin gol malah ke gawang sendiri. Mungkin sudah frustrasi.

 

https://twitter.com/SuporterFC/status/1009445888719065088

Meski menang atas Maroko dan membuka peluang buat lolos ke babak 16 besar, tak membuat pelatih Fernando Santos ini senang. Secara keseluruhan mereka gagal mengendalikan permainan padahal pemain-pemainnya banyak tampil di liga-liga top Eropa, bukan lagi main di Liga Tanzania atau Liga Kenya.

Sebut saja selain Ronaldo ada yang namanya Bernardo Silva, Raphael Guerreiro, Pepe, Jose Fonte, Joao Moutinho, Goncalo Guedes, Joao Mario, dan masih banyak lagi. Tinggal pilih di gudang.

Sedangkan Maroko paling-paling yang terkenal cuma Benatia, Achraf Hakimi, Hakim Ziyech, Younes Belhanda, dan Nabil Dirar. Itu juga yang main di tim besar cuma Benatia (Juventus) dan Hakimi (Real Madrid).

“Kami harus melihat hal ini dan kami harus membicarakannya. Kami kehilangan kendali permainan, kami melakukan begitu banyak kesalahan saat mengoper, kami kehilangan kepercayaan diri,” kata Santos dikutip riaumandiri.

“Ini tidak dapat dijelaskan. Jika ini pertandingan melawan pemain-pemain seperti yang mereka miliki, jika Anda tidak menguasai bola, mereka akan menekan Anda dan Anda berada dalam masalah.”

Bahkan Portugal terbilang beruntung karena Maroko gagal mencetak gol berkat kehebatan kiper Rui Patricio. Dia dibuat sibuk dan sampai tak sempat memegang HP saking sibuknya bekerja.

Ada satu sundulan Belhanda yang ditepis dengan lompatan sinting oleh Patricio. Tendangan bebas Ziyech disundul tipis Belhanda dan tak disangka mampu digagalkan Patricio. Para penonton juga tak ada yang mengira bakal ditepis. Maklum saja, penonton bukanlah Roy Kiyoshi yang mampu menebak semua masalah.

“Kami sudah menampilkan permainan terbaik, tapi hasilnya tak memihak. Kami kembali ke Piala Dunia setelah 20 tahun. Saya rasa kami sudah menunjukkan bahwa kami telah menyuguhkan aksi fantastis di Rusia,” ucap Renard yang sudah pasrah timnya tak lolos.

Main photo: @OptaJoe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here