Oleh : Bintang Sakti Anugrah Kurniawan

Apabila mendengar kata “elegan”, sesuatu yang muncul di benak setiap orang tentulah berbeda-beda. Beda kalau mendengar kata Siska apalagi kalau ditambah “e-nya tiga”. Bayangan semua orang sudah pasti sama.

Kata “elegan” biasanya merujuk pada pembawaan dan perilaku seseorang yang sarat akan wibawa dan keanggunan. Kita akan terbayang dengan pesona keluarga kerajaan Agung Sejagat, maupun keelokan seorang putri dalam kisah dongeng.

Namun bagi para penggila bola lawas, khususnya sepakbola Italia dan Amerika Latin, yang terlintas di kepala mereka setiap kali mendengar kata “elegan” tentunya akan membawa kepada bayangan permainan anggun para penggawa lapangan hijau.

Sentuhan sempurna Roberto Baggio ketika mengontrol bola, dribble santuy Alessandro Del Piero, atau operan mulus Francesco Totti yang seketika dapat membelah pertahanan lawan.

Para bintang Serie A itu biasa disebut sebagai Trequartista yang juga dikenal dengan permainan elegan ketika mengacak-acak pertahanan lawan.

Pada era sepak bola modern ini, peran seorang trequartista perlahan mulai memudar. Trequartista tinggal jadi sisa-sisa kenangan romantisme sepak bola masa lalu. Terbunuh segala perubahan dan kebutuhan zaman di era sepak bola industri kini.

Mengenal Trequartista

 Trequartista berasal dari bahasa Italia yang berarti ‘‘tiga perempat”. Hal ini merujuk pada peran seorang pemain di area ¾ lapangan, sementara orang Spanyol menyebut peran trequartista dengan sebutan “Enganche”, yang berarti pengait. Entah disebut apa kalau sama orang Bojong. 

https://twitter.com/ChampionsLeague/status/1177488914501623808?s=20

Secara sederhana trequartista adalah pemain yang berada di ¾ lapangan dan berposisi belakang striker. Trequartista memiliki peran dalam tim untuk mengoordinasi serangan. Bukan hanya mengatur tentang kapan serangan itu dimulai, tetapi juga bagaimana, dengan cara apa dan siapa saja yang terlibat dalam setiap serangan yang mereka buat.

Lebih dari itu, otak dan nyawa permainan serta tanggung jawab kelancaran aliran bola dari lini tengah ke lini depan berada di kaki para trequartista.

Ibarat sebuah tim adalah roti, maka trequartista adalah kismis yang memberi cita rasa dan gairah. Layaknya sebuah orkestra, trequartista merupakan dirigen yang mengiringi dan menjadi ruh pentas tersebut. Ibarat sebauh tim adalah Lucinta Luna, maka trequartista adalah bacotan netizen yang sangat menghibur dan wekaweka.

Singkatnya, trequartista adalah seniman sejati. Mereka memainkan bola di kakinya dengan seni. Keberadaan mereka di lapangan memberikan ketenangan serta kegeniusannya akan menentukan arah permainan.

Berbeda dengan para gelandang bertahan tipikal petarung yang terkesan gragas dan tanpa kompromi, para trequartista memiliki kharisma tersendiri ketika dilapangan.

Pembawaan mereka kalem dan tidak banyak tingkah. Mirip dengan kelakuan orang-orang ketika di depan mertua. Namun ketika bola sudah di kakinya, waktu seakan berhenti berputar menunggu untuk menyaksikan aksi magis mereka. 

Secara penempatan, trequartista mirip dengan gelandang serang, attacking midfielder. Pernyataan itu tentunya tidak bisa dibantah, karena area operasi mereka terbilang sama, depan kotak penalti.

https://twitter.com/goal/status/1215598046005862400?s=20

Perbedaan paling mencolok adalah attacking midfielder merupakan suatu posisi dalam permainan, sementara trequartista adalah peran.

Attacking midfielder cenderung lebih rajin mundur ketika lawan menguasai bola. Mereka juga banyak terlibat ketika tim dalam formasi bertahan serta area penguasaan mereka sedikit lebih ke dalam. Condong lebih dominan di sektor tengah ketimbang sektor depan.

Sementara peran trequartista biasanya diisi para genius pemalas yang tidak suka berjibaku merebut bola dan ikut bertahan. Kalau di luar lapangan, mungkin mereka ini kaum horizontal body battery-saving mode alias tukang rebahan semua.

Pemain-pemain ini lebih pasif bila lawan melakukan penguasaan bola. Lebih senang berada dia area ¾ mereka, bahkan cenderung tidak kemana-mana. Mirip dengan sobat-sobat misqueen ketika menghadapi weekend di akhir bulan.

Tengok saja apa yang dilakukan Juan Roman Riquelme, sang trequartista kawakan asal negeri Tango setiap kali timnya sedang bertahan dalam keadaan tertekan. Ketimbang lari mundur membantu pertahanan, Riquelme justru memilih untuk berjalan, ya berjalan! Set dah!

Hal ini sempat di kritik oleh mantan pelatihnya di Barcelona Louis Van Gaal dengan berujar:

“Bila sedang menguasai bola, dia (Riquelme) adalah yang terbaik di dunia. Namun bila bola dikaki lawan, kami seperti bermain dengan 10 orang saja.”

Ungkapan tersebut seolah menjadi bukti betapa minimnya kontribusi para trequartista bagi pertahanan timnya. Bertahan memang merupakan hal yang asing bagi trequartista. Karna atribut dan daya tarik utama para trequartista terletak pada visi, kreativitas dan kemampuan teknis yang mumpuni. 

Kalau diadu, kreativitas bakal bersaing dengan masalah korupsi di Indonesia yang tak ada habisnya. Mereka seakan diberkahi sixth sense untuk menemukan celah kosong di lini pertahanan lawan.

Selain itu, skill individu mereka selalu siap memberikan teror untuk para defender. Feint, nutmegs, roulette, la croqueta, sombrero, dan macam-macam skill yang pencetannya ribet sekali kalau main playstation.

Aksi mereka tersebut kerap kali mempermalukan defender dengan gerakan nan seksi di hadapan penonton sebagai saksi. Mereka menjadi seniman yang dengan bebasnya melukis di atas lapangan hijau dengan warna mereka sendiri.

https://twitter.com/FutbolBible/status/1217933294853074955?s=20

Bagaimana Italia Menikmati Trequartistanya

Masa keemasan trequartista berlangsung pada akhir 90-an hingga awal 2000-an. Serie A Italia menjadi pabrik penghasil trequartista terbaik kala itu.

Hampir setiap tim besar Italia memiliki seorang trequartista sebagai dalang kejayaannya. Juventus punya Alessandro Del Piero di balik kesuksesan mereka menembus empat final Liga Champions dalam rentan waktu 9 musim.

Fiorentina memiliki Rui Costa sebagai pelayan bagi duet maut Enrico Chiesa dan Gabriel Batistuta.

Pangeran Roma, Francesco Totti, selama belasan musim mematenkan peran trequartista untuk tim asal ibukota. Mempersembahkan satu scudetto untuk Roma pada musim 2000-2001.

Inter Milan memiliki sentuhan Amerika Latin pada kaki sang maestro kidal, Alvaro Recoba.

Parma diperkuat Juan Sebastian Veron, yang meski bukan seorang trequartista murni, namun selalu tampil brilian setiap dipercayakan memainkan peran tersebut. 

Jangan lupakan pula trequartista ikonik Milan, Ricardo Kaka. Kaka yang tidak pernah jadi vokalis Slank, jadi bagian tak terpisahkan di balik kesuksesan Milan sebagai salah satu kekuatan sepakbola Eropa pada era 2000an.

Kaka dengan baju kedodoran berada persis di belakang tombak kembar, Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi. Membaca nama-nama pemain di atas, apakah tiba-tiba merasa cukup berumur?

https://twitter.com/ChampionsLeague/status/1218181074720784387?s=20

Masih banyak pula trequartista lain yang bertaburan di kancah Serie A kala itu. Masih ingat tentunya dengan si bader, Antonio “Cassanova” Cassano yang sudah di-tiki-taka di banyak klub Serie A.

Meski terkenal biang kerok, namun bila sudah menghayati perannya sebagai Trequartista, Antonio Cassano, si playboy sekaligus bad boy yang sering berulah di luar lapangan itu mendadak jadi pria kalem penuh wibawa setiap kali menguasai bola.

Tampang badungnya yang sering membuat onar itu seakan lenyap, menjelma menjadi sosok pangeran dengan kemampuan olah bola yang menawan. Kurang naik kuda warna putih saja.

Ada juga si ponytail peraih Ballon D’or 1993, Roberto Baggio. Baggio merupakan tipikal trequartista klasik dan sudah malang melintang di berbagai klub besar Serie A. Juventus, Inter Milan, AC Milan hingga Brescia sudah pernah menikmati service Baggio.

Meski punya kemampuan mentereng dan segudang prestasi, namun publik sepakbola milenial mungkin lebih mengingat kegagalan penaltinya di Final Piala Dunia 1994 ketimbang kemampuannya yang brilian.

  Trequartista Menyebar di Liga Eropa

Meski identik dengan Serie A, trequartista tak melulu menghiasi kancah sepakbola Italia dan Amerika latin saja. Premier League yang terkenal dengan sepakbola keras ala kick and rush itu pun beberapa kali dihibur dengan kehadiran para trequartista ini.

Pencetusnya tentu saja si genius asal Londo, ”the non-flying ducthman” Dennis Bergkamp yang memperkuat Arsenal dari 1995-2006.

Premier League yang masa itu banyak diisi gelandang-gelandung gragas dengan semangat petarung dan permainan sedikit kotor macam Roy Keane-nya Manchester United, Thomas Gravesen milik Everton atau idola publik London utara Patrick Vieira, seakan memiliki warna baru dengan kehadiran para trequartista.

Setelah kesuksesan Wenger mematenkan peran Bergkamp, beberapa nama trequartista lain ikut mencuat. Juninho Paulista jadi primadona di Middlesbrough berkat perannya sebagai trequartista, Juninho bahkan menyabet penghargaan Premier League Player Of The Season musim 1996/1997 hasil dari kepiawaiannya memerankan trequartista.

Chelsea sempat diperkuat trequartista handal dari Italia, Gianfranco Zola dalam rentan waktu tujuh musim, dari 1996-2003. Bersama Zola, Chelsea meraih dua FA Cup dan 1 UEFA Cup. Zola menjadi pujaan publik London kala itu. Hingga kini, Zola dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Chelsea sepanjang masa.

Berkat perannya sebagai trequartista tentunya. Andres D’Alessandro yang datang dari River Plate untuk membela Portsmouth selama semusim pada musim 2005/2006 menambah  jumlah trequartista yang sebenarnya kurang sesuai dengan kultur dan gaya permainan Premier League yang kurang atraktif.

Ada pula pahlawan Southampton, Matthew Le Tissier yang sepanjang karirnya hanya membela Southampton. Le Tissier murni berperan sebagai trequartista buat The Saints selama lebih dari 15 musim. 

Keberadaan mereka-mereka ini menunjukan, bahkan liga sekeras Premier League yang gaya permainannya keras tak bisa menahan diri dari pesona seorang trequartista.

Menyeberang sedikit ke negara yang banyak nama-nama macam Jorge, Villa, Gerard, dkk alias  Spanyol, pada kompetisi La Liga sejatinya tidak memiliki banyak kenangan tentang trequartista.

La Liga lebih dikenal sebagai penghasil penyerang-penyerang sayap tanpa nasi dan saos yang cepat, dinamis, dan energik.

Trequartista sejatinya bukan bagian dari filosofi sepak bola mereka. Kecuali kehadiran beberapa trequartista asal Amerika Latin yang sempat membuat gempar panggung persepakbolaan mereka walau hanya sekejap.

Dimulai dari kemunculan Ariel Ortega di Mestalla tahun 1997. Ortega menjadi kenangan indah untuk publik Valencia selam dua musim penuh cerita.

Ortega yang bukan singkatan dari orang tegal asli dikenal dengan posisi dan gaya bermainnya yang tak biasa; berputar-putar di area ¾ lapangan. Mengingatkan publik Spanyol dengan yang dilakukan Maradona satu dekade sebelumnya.

Hal ini membuat Ortega dalam waktu singkat jadi idola publik Mestalla. Meski tidak memberikan gelar apapun buat Valencia, Ortega akan selalu membekas dibenak para fans berkat gaya bermainnya yang menghibur.

Beberapa musim setelah kepergian Ortega, Valencia kembali kedatangan trequartista dari negeri yang sama, Argentina. Pria ini berambut keriting dan berpostur lebih kecil dari Ortega bernama Pablo Aimar, tampil lebih konsisten ketimbang Ortega.

Memainkan peran yang sama, trequartista. Sumbangsih Aimar untuk Valencia tidak sedikit. Selama enam musim memperkuat panji “Los Che”, Aimar mempersembahkan dua trofi La Liga, satu UEFA Cup, satu UEFA Super Cup dan satu kali jadi runner up Liga Champions musim 2000-2001 walau akhirnya takluk dari Bayern Munich di partai puncak.

Setelah enam musim, Aimar hijrah ke sesama kontestan La Liga, Real Zaragoza. Dua musim disana, performa Aimar tak segemilang ketika berseragam Valencia.

Rekan senegara Aimar sesama trequartista, Juan Roman Riquelme juga tampil tak kalah mentereng. Sayang Riquelme yang memperkuat Barcelona selama semusim kerap dipaksa oleh Van Gaal bermain di luar zona nyamannya. Hal ini Riquelme tak nyaman dan kesulitan mengeluarkan potensi terbaiknya.

Semusim di Catalan tidak meninggalkan kesan baik untuk sang penyihir sehingga memutuskan untuk angkat koper ke Villareal.  Riquelme sukses mengangkat derajat Villareal sebagai salah satu kuda hitam di La Liga kala selama lima musim penuh petualangannya itu.

Persembahan terbaik Riquelme untuk “The Yellow Submarine” adalah Piala Intertoto di tahun 2004. Riquelme nyaris membawa Villareal ke Final Liga Champions 2006 seandainya sepakan penaltinya tidak digagalkan Jens Lehmann ketika berhadapan dengan Arsenal di babak semifinal.

Menilik dari performa the trequartista’s yang bertabur seantero Eropa, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu, yakni medio 1990-2000an awal, memang merupakan masa keemasan bagi para trequartista.

Punahnya Trequartista Murni di Era Modern

Dewasa ini, sulit sekali menemukan pemain dengan karakter nomor 10 asli dan peran trequartista nyaris tidak terpakai. Sekalipun ada, mereka akan dipaksa untuk bermain adaptif sesuai dengan taktik dan kebutuhan tim.

Kita tentu tahu bagaimana seorang Javier Pastore sering digeser sebagai sayap, dan Suso yang di-plot Milan sebagai sayap kanan. Tuntutan gaya bermain tim mengakibatkan lambat laun, karakter asli pemain macam mereka terpaksa makin menghilang.

Selain itu bila tidak adaptif dan memaksakan diri untuk tetap stay in character alias sok idealis, mudah saja para pemain ini di depak dari tim. Seperti nasib yang menerpa Yoann Gourcuff kala memperkuat AC Milan dan Rafael Van der Vaart semasa berseragam Real Madrid.

Tak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini, sepakbola lebih mementingkan kemenangan dan pasar. Dasar kapitalis memang. Orang-orang yang mencoba menemukan keindahan hanya akan berakhir sebagai pecundang. Sepakbola sudah tidak menjadi tempat untuk para senimannya bebas mengekspresikan diri.


Bintang Sakti Anugrah Kurniawan

Pelajar SMA yang mencintai sepak bola melebih Alogaritma & Teorema. Seorang Madridtista tetapi setengah mati mengidolai Sergio Busquets.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here