Roma secara mengejutkan keluar sebagai juara Grup C Liga Champions. Hal itu mereka pastikan setelah mengalahkan tim terkuat di Azerbaijan, Qarabag, dengan skor tipis 1-0 saja. Soalnya percuma bikin gol banyak-banyak, ujung-ujungnya tetap tiga poin.

Bermain di kontrakannya sendiri, Roma tak kuasa menahan nafsu bejatnya untuk menggagahi Qarabag. Tim yang sekilas namanya dibaca “gerobak” itu cuma bisa pasrah pertahanannya dihajar berkali-kali oleh Roma tanpa Irama, meski tak semua  sampai sasaran.

Barulah di babak kedua, “I Giallorossi” benar-benar membobol gawang Qarabag yang dijaga satu orang kiper. Tendangan Edin Dzeko sempat diblok oleh sang kiper, tapi kemudian disambut dengan sundulan lembut oleh Diego Perotti.

Itu merupakan satu-satunya gol di laga yang sendu tersebut. Maklum, laga itu akan menjadi laga terakhir buat Qarabag yang sudah susah payah menembus Liga Champions untuk pertama kalinya.

Sebuah prestasi bagi klub kecil di Eropa itu serta membuat histori dan memori. Setidaknya, nama Qarabag sini sudah dikenal dunia. Meski cuma numpang lewat saja. Berani taruhan tak ada warga Indonesia yang kenal Qarabag sebelum masuk ke Liga Champions satu grup dengan para cecunguk: Chelsea, Atletico Madrid, dan Roma.

Bagi Roma, ini sebuah kegembiraan. Sebuah kejutan pastinya, karena tak ada yang menyangka tim asal ibukota itu bisa keluar sebagai juara grup. Maklum, Chelsea dan Atletico lebih diunggulkan ketimbang mereka.

Berdasarkan pengalaman di Liga Champions pun, Daniele De Rossi dan kawan-kawan memang tak pernah gemilang. Dalam 10 tahun terakhir, mereka cuma main dalam enam edisi. Bahkan pernah dibantai 1-7 oleh Manchester United. Warga Roma pasti tak pernah lupa dengan itu.

Pencapaian terbaik mereka cuma masuk perempat final pada 2007/08. Setelahnya paling mentok babak 16 besar. Musim lalu bahkan tidak lolos play-off. Wajar kalau Roma memang belum punya hawa-hawa bertanding di level Liga Champions.

Tapi musim ini, mereka justru keluar sebagai juara grup. Prestasi yang sama dengan musim 2008/09. Hampir persis sama karena mereka mampu mengungguli Chelsea. Setidaknya, prestasi ini bisa mengangkat reputasi Roma di Eropa.

“Kami tahu ini akan sulit, tapi akhirnya kami mendapat hasil sesuai harapan dan mungkin tidak diduga ketika kami melihat undian. Ini adalah hasil yang luar biasa buat kami, untuk kepercayaan diri kami, untuk reputasi Roma di level internasional. Kami beberapa kali kalah memalukan di Eropa, jadi ini mengembalikan reputasi kami,” ucap De Rossi.

Pelatih Eusebio Di Francesco juga kurang lebih sepakat dengan De Rossi. Roma tadinya cuma dipandang sebelah mata. Kini mata yang tertutup itu mulai terbuka sedikit meski belum sepenuhnya.

“Ketika undian berlangsung, tidak ada yang percaya pada kami, tapi kami bekerja keras dan saya pikir kami pantas mendapat tempat pertama ini. Sekarang kami akan menikmatinya,” ucap Di Francesco seperti dikutip Detik. 

Main photo: @OfficialRoma_ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here