Oleh: Paundra Jhalugilang

Siapa yang masih belum kenal Payung Teduh? Band Indie asal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang belakangan terkenal heboh dengan lagu Akad-nya. Yang banyak di-cover para Youtubers dan beberapa di antaranya tanpa izin itu.

Bagi generasi Kids zaman ‘now’, pasti tahunya lagu “Akad” saja yang memang booming tiada tara. Tapi bagi penggemar lawas Payung Teduh sejak zaman ‘old’ pasti tahu lagu-lagu lainnya. Salah satunya adalah “Kita Adalah Sisa-Sisa Keikhlasan yang Tak Diikhlaskan”.

Bukan, tulisan ini tak bicara soal musik karena pada dasarnya web ini bicara soal bola. Kalau mau cari tahu soal musik, mending buka yang lain saja. Apalagi buat yang mau bergalau ria, mending buka Youtube saja, apalagi mulai masuk musim penghujan. Makin syahdu.

Tulisan ini akan bicara soal Arjen Robben yang baru saja memutuskan pensiun dari tim nasional Belanda. Ironisnya, Robben pensiun setelah dirinya mencetak dua gol kemenangan atas Swedia. Memang indah, tapi sekaligus memastikan tersingkirnya Belanda dari perebutan Golden Ticket ke Piala Dunia 2018.

Robben semacam sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Jika menelusuri tanya jawab personel Payung Teduh dengan Kompas, makna lagu itu adalah bahwa kita harus ikhlas dan tidak ada kata “tapi”.

Semacam Surat Al-Ikhlas di Al-Quran yang justru tak ada kata “Ikhlas” di dalamnya. Itulah ikhlas yang sesungguhnya, tak perlu bilang “ikhlas”, tak perlu bilang “tapi”.

Begitulah Robben. Mencoba ikhlas untuk pensiun tapi pada dasarnya di dalam hatinya pasti masih miris. Semacam masih belum ikhlas karena harus mengakhiri kariernya di timnas Belanda tanpa gelar, bahkan diakhiri dengan kekecewaan dan kesedihan gagal lolos ke Piala Dunia terakhir kalinya buat Robben.

Yang tak ikhlas tentu bukan cuma Robben. Tapi juga pendukung Belanda di seluruh dunia, dari Sabang sampai Merauke, terutama fans yang hidup pada zaman generasi Trio Belandanya Milan.

Kita adalah sisa-sisa keikhlasan, yang tak diikhlaskan, bertiup tak berarah, berarah ke ketiadaan.” Begitulah penggalan bait lirik lagu tersebut.

Cocoklah dengan Robben. Benar-benar mengarah ke ketiadaan alias tiada tampil di Piala Dunia terakhirnya. Pemain model “RX King” yang kalau lari kencang banget itu telah memutuskan pensiun pada usia 33 tahun. Praktis, Piala Dunia 2018 bakal jadi Piala Dunia terakhirnya.

Rada tidak mungkin dia masih tampil di Piala Dunia 2022 karena usianya sudah 38 tahun. Jangankan 38 tahun, usia 26 tahun saja sudah cedera melulu.

Bukan cuma Piala Dunia 2018, ini kedua kalinya Belanda gagal lolos ke turnamen internasional. Mereka sebelumnya telah gagal lolos kualifikasi Piala Eropa 2016 dengan sukses. Ada apa dengan Belanda? Yang kalau disingkat bakal menjadi AADB bukan AADC.

Belanda memang sedang dalam krisis pemain bintang. Tak ada lagi pemain kelas dunia macam generasi Clarence Seedorf, Edwin van der Sar, Edgar Davids, Jaap Stam, Dirk Kuyt, Giovanni van Bronckhorst, John Heitinga, Phillip Cocu, Mark van Bommel, Patrick Kluivert, Roy Makaay, Ruud van Nistelrooy, Marc Overmars, sampai Boudewijn Zenden.

Robben adalah sisa-sisa kejayaan yang tak dijayakan. Rada maksa memang. Tapi kenyataannya, Robben memang tak pernah memberikan gelar satu pun buat Belanda. Begitu juga dengan nama-nama di generasi yang disebutkan di atas.

Dari zaman Robben punya rambut pada tahun 2004-an sampai botak tanpa ketombe kayak sekarang akibat pembalakan liar, masih belum bisa mempersembahkan gelar buat Belanda. Padahal, dia tak pernah absen membela “Tim Oranye” yang kostumnya mirip petugas kebersihan DKI itu di ajang internasional.

Hasil gambar untuk robben rambut
Rambut Robben yang terkena pembalakan liar. (Source: Tribunnews)

Mulai dari Piala Eropa 2004, 2008, dan 2012, sampai Piala Dunia 2006, 2010, dan 2014. Cuma ya pas Piala Eropa 2016 saja Robben tidak ikut karena memang negaranya tak lolos. Pintar juga Robben, kalau di klub cedera melulu tapi tiap main di kompetisi internasional jarang absen.

Robben adalah sisa-sisa kejayaan Belanda masa lampau. Belanda yang sekarang bukanlah yang dahulu. Di skuat Belanda yang sekarang, tinggal Robben, Robin van Persie, dan Wesley Sneijder saja bintangnya. Itu pun sudah berusia kepala tiga semuanya.

Itulah mengapa, fans timnas Belanda juga pasti masih belum ikhlas melihat Robben yang merupakan sisa-sisa kejayaan yang tak berjaya itu, mengundurkan diri. Maklum, mantannya Real Madrid dan Chelsea itu belum memberikan apa-apa buat bangsanya. Lalu berakhir dengan kekecewaan.

Ditambah, kalau Robben pensiun, siapa lagi pemain yang bakal meneruskan tongkat estafet bermerek “bintang” di timnas Belanda?

Di skuat Belanda zaman ‘now’, hampir tak ada nama-nama beken yang bermain di klub-klub top Eropa, rata-rata main di klub medioker Eropa. Tak percaya? Lihat saja Wikipedianya Timnas Belanda.

Mulai dari Kenny Tete yang namanya kocak, Memphis Depay (Lyon), Wesley Hoedt, Virgil van Dijk (Southampton), Daryl Janmaat (Watford), Davy Klaassen (Everton), Ryan Babel (Besiktas), Vincent Janssen (Fenerbahce), Nathan Ake (Bournemouth), Jeroen Zoet, Marco van Ginkel (PSV), Joel Veltman, Donny van de Beek, dan Matthijs de Ligt (Ajax).

Yang main di klub top Eropa paling-paling hanya Georginio Wijnaldum (Liverpool), Daley Blind (Man United), Jasper Cillessen (Barcelona), dan Robben. Cillessen bahkan hanya jadi cadangan saja di Barca. Dan tentu saja, Robben yang main di Bayern Muenchen.

Beberapa nama yang jadi langganan timnas tapi sedang tak dipanggil macam Ron Vlaar (AZ Alkmaar), Stefan de Vrij (Lazio), Sneijder (Nice), van Persie (Fenerbahce), Bruno Martins Indi (Stoke), Kevin Strootman (Roma), Klaas-Jan Huntelaar (Ajax), Jeremain Lens (Besiktas), Jordy Clasie (Club Brugge), juga tak lagi main di klub top Eropa.

Ini menandakan kalau pembinaan pemain Belanda yang dulu berjaya lewat akademi Ajax dan PSV sedang mengalami krisis. Mereka kalah telak dari Jerman dan Spanyol yang belakangan lagi banyak pemain bintangnya, bisa bikin empat timnas sekaligus, hasil pembinaan pemain muda di klub-klubnya.

https://twitter.com/brfootball/status/917863574633975809

Robben memang berusaha menaikkan kepercayaan diri penerusnya dengan mengatakan kalau masa depan Belanda masih sangat cerah. “Kami boleh saja bersedih, namun masa-masa yang lebih baik akan segera datang,” ujar Robben selepas laga lawan Swedia.

Entah apa yang harus dilakukan Belanda untuk mencetak para pemainnya jadi pemain alien dan editan seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Mungkin langsung saja ke menu “Edit Player” untuk menambah skill para pemainnya.

Jangan sampai ada Robben-Robben lainnya yang menjadi sisa-sisa kejayaan yang tak diikhlaskan. Atau Sisa-sisa keikhlasan yang tak dijayakan? Terserah.

Main photo: @BeWarmers


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here