Oleh: Paundra Jhalugilang

Juventus telah resmi menunjuk Maurizio Sarri menjadi pelatih barunya. Nama yang bisa dibilang belum beken-beken amat, sehingga cukup mengecewakan para pendukungnya.

Jelas, Juventini pasti ngarep Zinedine Zidane atau Pep Guardiola yang sudah terbukti meraih trofi Liga Champions beberapa kali. Maklum, fans Juve saat ini sedang mendambakan trofi kuping lebar yang sudah 23 tahun tak dirasakannya.

Buat fans yang sudah rada tua, pasti sudah pernah melihat Juve mengangkat piala tersebut pada 1996. Namun bagi yang muda, apalagi yang lahir tahun 2000-an, ya pasti belum pernah lihat kaptennya mengangkat trofi tersebut. Kasihan deh, salah sendiri lahir belakangan.

Nah, penunjukan Sarri tentu membuat Juventini kurang puas. Soalnya, pelatih yang hobi nyebats itu baru memperoleh satu gelar sepanjang kariernya selama 30 tahun. Yakni gelar Liga Europa bersama Chelsea bulan lalu.

Sarri juga masih diragukan bisa membangun mental pemain Juve yang dikenal sebagai ayam sayur di Eropa. Padahal, Juve sudah mendatangkan pemain sekaliber Cristiano Ronaldo yang katanya jaminan Liga Champions. Nyatanya tetap memble.

Nama Guardiola disebut-sebut, akhirnya justru Sarri yang diperkenalkan. Kasihan sekali, Juventini diberi PHP tingkat Hokage.

Namun jangan bersedih (La Tahzan!). Percaya lah bahwa manajemen Juventus sedang bergerak merevolusi Juventus old menjadi Juventus 4.0. Tapi apa buktinya?

Begini ceritanya…

Revolusi Juventus 4.0 sudah dimulai sejak mereka membangun stadion baru. Sebuah gerakan reformis yang pertama kalinya di Italia, ada klub punya stadion sendiri. Stadion yang megah dan modern yang berlipat-lipat kali jauh lebih keren ketimbang Stadion Benteng Tangerang.

Dari situ, Juve melakukan rebranding terhadap merek “Juventus” agar bisa masuk ke industri. J-Museum, J-Store, J-Medical, J-Hotel, J-Cafe, dan huruf J-J lainnya diluncurkan oleh mereka agar menciptakan sebuah brand yang kuat.

Dua tahun lalu, Juve bahkan berani mengubah logo lama bin kaku mereka menjadi lebih modern dan kekinian. Dari yang berupa perisai warna hitam-putih dan seekor banteng, berubah jadi huruf J saja.

BACA JUGA DONG: Kisah Logo Baru, Cibiran Netizen, dan Bahtera Nabi Nuh

Sebuah gagasan radikal dengan melunturkan aksen budaya dan sejarah Juventus yang konservatif, diubah jadi kepentingan bisnis. Mereka memandang bahwa Juve tak lagi dikenal sebagai klub sepak bola, melainkan sebuah usaha bisnis.

“Tujuan dari logo ini adalah untuk mengenalkan Juventus kepada masyarakat luas, baik itu kepada masyarakat sepak bola, atau masyarakat yang sama sekali tidak tertarik pada sepak bola. Jika masyarakat sudah mengenal Juventus, maka akan berpengaruh pada segala aktivitas bisnis Juventus pada masa depan,” tulis pernyataan resmi klub saat itu.

Juventus sepertinya ingin melekatkan huruf “J” dengan Juventus. Tiap orang lihat kata berawalan “J”, maka yang terlintas di benak mereka bukan Jamal Mirdad, tapi Juventus.

“Saya merasa tertarik dengan kata-kata yang berawalan huruf J. Saya merasa senang ketika membaca koran yang diawali huruf J pada sebuah berita,” ucap Gianni Agnelli, kakeknya Andrea, zaman dulu kala.

Selain melakukan rebranding, “Si Nyonya Tua” lalu mendatangkan Ronaldo dengan bayaran mahal. Tidak apa-apa tekor, asalkan tersohor.

Tujuannya sudah jelas duit. Kedatangan Ronaldo membuat penjualan jersey Juve melonjak pesat hanya beberapa jam setelah pengumuman resminya. Keuntungan itu belum dihitung selama setahun sampai bulan ini.

Belum lagi untuk menarik lebih banyak fans yang sudah terbukti setelah kedatangan Ronaldo, jumlah followers Instagram dan Youtube Juventus juga turut mengalami peningkatan.

Dengan adanya Ronaldo, Juve kini memiliki pemain bintang level super. Tingkatannya bukan lagi untuk Planet Bumi, tapi sudah tingkat alam semesta. Barca punya Lionel Messi, PSG punya Neymar, Madrid punya Gareth Bale, masak Juventus cuma punya Stefano Sturaro.

Gerakan radikal tak berhenti sampai di situ. Juventus pun nekat menghapus trademark seragam garis-garis putih-hitam yang menjadi ciri khas mereka. Mulai musim depan, Juve bakal menggunakan kostum putih dan hitam setengah-setengah, berkonsep Yin & Yang yang juga mirip baju “YOGS”-nya Young Lex.

Lagi-lagi, alasannya hanya sebuah bisnis. Mereka ingin menembus pasar Amerika Serikat di mana penjualan kostum Juve di sana pada musim-musim sebelumnya kurang laku.

Persoalan bukan karena di nama Juventus yang bisa dipelesetkan jadi “Jukentut”, “Juvenis”, atau “Juperek”, tapi karena kostum putih-hitam garis-garis yang tak disukai warga AS.

Baju garis-garis putih hitam dianggap kayak baju narapidana dan wasit bisbol. Tidak bisa dipakai buat gaya. Mungkin begitu pemikiran warga negara maju berkode telepon +1.

Gerakan radikal bukan hanya dari sisi tampilan atau fashion, Andrea Agnelli rupanya ingin perubahan di sisi permainan yang berujung prestasi. Jelas bahwa trofi Liga Champions adalah harga mati, tapi Andrea sepertinya menginginkan sebuah sepak bola yang berfilosofi lebih modern.

Makanya, nama Pep Guardiola jadi kandidat favorit yang semua tahu betul dengan gaya mainnya yang tiki-taka. Nama kedua adalah Maurizio Sarri, yang memiliki filosofis sepak bola indah yang bukan Italia banget.

Ya, Sarri dianggap berhasil mengubah gaya permainan sepak bola Italia yang cenderung lambat dan monoton, menjadi permainan cepat, indah, dan enak ditonton. Gaya itu yang dinamakan “Sarrismo” atau kalau di Inggris disebut “Sarriball” saat dia membesut Chelsea.

Hal itu terjadi lagi saat di Chelsea. Pada paruh musim pertama Chelsea sempat tak terkalahkan, meski akhirnya cuma finis di posisi tiga. Namun, hal itu sudah cukup bagus karena meloloskan “The Blues” ke Liga Champions. Apalagi, sebelumnya cuma di posisi lima.

Para pemain Chelsea juga mengaku mulai terbiasa dengan permainan Sarri, meski rada-rada kagok pada awalnya. Ya biasa lah, namanya juga masih adaptasi. Belum bisa namanya langsung nyetel.

Sayangnya, lagi asyik-asyiknya main bola indah Sarri malah pindah. Sepertinya, Juve kepincut dengan sepak bola Sarri yang lebih indah dan dinamis.

Seperti diketahui, Juve memang jarang mempertontonkan sepak bola indah. Selama dipegang Max Allegri, prinsip Juve hanyalah “yang penting menang”. Permainan Juve cenderung monoton, kaku, dan membosankan, meski ujung-ujungnya menang. Apalagi setelah kedatangan Ronaldo, semua bertumpu pada Ronaldo sehingga tidak ada kesan kerja sama apik di “Bianconeri“.

Banyak situasi di mana Juve cuma memondar-mandirkan bola saja tanpa jelas juntrungannya. Mereka akhirnya membuat gol dengan gaya lama, yakni lewat bola mati atau umpan-umpan silang standar.

Penguasaan bola tanpa keindahan sepertinya cuma sekadar basa-basi saja. Apalagi, pada musim ini penguasaan bola Juve adalah yang terendah selama lima musim dipegang Allegri, yakni 54,1%. Makanya, Juve belum cukup kuat di Eropa, terbukti lawan Ajax Amsterdam saja memble.

Agnelli sepertinya ingin lebih dari itu. Dengan sepak bola modern yang tak cuma mengandalkan penguasaan bola, tapi juga dengan keindahan. Tujuannya cuma satu, yakni biar enak ditonton. Kalau sudah enak ditonton, berarti bakal meningkatkan daya tonton penikmat sepak bola, dan harapannya mendapat hak siar lebih banyak. Ujung-ujungnya duit alias UUD.

Selain itu, gaya sepak bola modern juga tampak lebih bisa diterima generasi milenial usia jagung yang sekarang demennya tim-tim seperti Barcelona, Real Madrid, City, dan PSG. Kalau ditanya anak zaman sekarang, kenapa suka PSG jawabannya karena ada Neymar atau karena mainnya bagus. Kalau disuruh jagokan Juve, mereka pasti ogah karena Juve mainnya bikin ngantuk. Buat mereka jadi buang-buang waktu karena besok pagi mesti sekolah.

Dengan kedatangan Sarri, Juve ingin mengubah cap sepak bola kaku yang ada dalam dirinya, menjadi sebuah sepak bola modern, dinamis, dan kekinian.

Yang kekinian bukan hanya logo, tampilan, atau media sosialnya, tapi juga permainannya.M


Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here