Indonesia melakoni laga kedua mereka dalam Asian Games 2018. Bertanding melawan Palestina di Stadion Patriot Chandrabhaga, Timnas U-23 dipastikan takluk dengan skor 1-2 usai wasit ganteng enggak jelas meniup peluit panjang.

Hasil ini membuat Indonesia harus deg-deg ser dalam menghadapi dua laga sisa nanti. Kalau mau lolos Indonesia harus menang dua kali dengan gol sebanyak-banyaknya. Kalau bisa tiap pemain mencetak gol satu-satu biar semua kebagian.

Sebab akibat kekalahan tersebut Indonesia kini terlempar ke posisi ketiga dengan tiga poin. Sementara Palestina berada di peringkat pertama dengan tujuh poin disusul Hong Kong dengan enam poin.

Indonesia masih berpeluang untuk lolos karena tim yang akan pasti melaju adalah peringkat pertama dan kedua. Sementara peringkat ketiga masih harus diuji kembali. Dalam dua laga sisa nanti Indonesia akan menghadapi Laos dan Hong Kong.

Pada jalannya pertandingan, Indonesia langsung berusaha menekan Palestina begitu laga dimulai. Namun justru Palestina yang mengancam gawang Indonesia terlebih dahulu.

Untung saja gawang yang terus diancam hanya diam saja. Kalau tiang gawang Indonesia yang diancam itu sampai ngambek, lalu pulang dan tidak mau jadi tiang gawang lagi, bisa berabe urusan.

Melalui sebuah serangan balik cepat di menit kelima, Mahmoud Abuwarda yang menusuk ke kotak penalti, melepaskan tendangan kaki kiri. Namun bola hanya mengarah tepat ke pelukan anak gawang saja sepertinya.

Selang dua menit kemudian, pemain Palestina yang badannya lebih tinggi meski sepertinya tidak memakai Jaco Therapy Bed, kembali membuat peluang melalui sebuah sundulan dari umpan pojok. Namun sundulan Abdallatif Albahdari hanya lewat atas gawang tanpa mampir ke dalam gawang.

Palestina yang terus menekan pertahanan Indonesia akhirnya mendapat hadiah penalti dari wasit di menit ke-16. Penalti diberikan setelah bola mengenai tangan Zulfiandi. Mau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, namun wasit sudah melihatnya.

Keputusan tersebut cukup kontroversial karena tangan Zulfiandi sejatinya tidak aktif. Apalagi, tangannya rapat ke badan jadi mau ada tangan atau tidak, tetap akan mengenai badan Zulfiandi yang tak kekar-kekar amat.

Tim besutan Luis Milla akhirnya kebobolan terlebih dahulu setelah Oday Dabbagh menyambar bola tembakan penalti Mohamed Darwish yang tidak ada hubungan saudara dengan Darwis Triadi. Bola sempat ditepis oleh kiper Andritany, tapi pantulannya disambar oleh Dabbagh tersebut.

Setelah kebobolan, Indonesia baru bereaksi dan melancarkan serangan-serangan ke gawang Palestina. Terkadang memang harus seperti itu dahulu, kebobolan agar lebih semangat bermainnya. Benar saja, pada menit ke-23 Indonesia berhasil menyamakan kedudukan melalui Irfan Jaya.

Berawal dari skema tendangan pojok, bola sempat dibuang pemain Palestina. Namun umpan lambung yang diberikan dari depan kotak penalti, berhasil disambut Irfan yang lolos dari jebakan off-side. Kalau yang dipasang jebakan beruang mungkin dia tidak berhasil lolos.

Dengan sedikit gerakan 378, Irfan melakukan tendangan yang berakhir dengan suara “jeb jeb jebreett” jika menonton melalui televisi nasional. Babak pertama berkahir dengan kedudukan 1-1 untuk kedua tim.

Enam menit babak kedua berjalan, Indonesia langsung kebobolan melalui gol Darwish. Mendapat umpan terobosan dari Abudarwa, Darwish dengan tenang dan tidak terburu-buru macam ibu-ibu mau naik kereta di stasiun Tanah Abang, menendang bola ke tiang dekat tanpa mampu dihentikan Andritany. Darwish sukses mengucapkan “You Wish…” buat para pendukung Indonesia.

Indonesia yang berusaha habis-habisan di sisa waktu pertandingan, masih gagal untuk menciptakan gol penyama kedudukan hingga akhirnya harus mengakui keunggulan Palestina. Pertandingan berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Palestina.

Indonesia sendiri masih memiliki dua pertandingan sisa yang harus dihadapi. Luis Milla meminta agar semua pemainnya siap tempur menghadapi sisa laga tersebut. Asal jangan bawa celurit dan senjata lainnya saja, beda tempur kalau yang seperti itu. Tidak boleh ditiru.

“Saat saya masuk ke ruangan ini (konferensi pers), saya melihat wajah-wajah kecewa dan sedih. Tapi itu wajar karena kita kalah. Jangan khawatir, masih ada dua laga sisa. Saya berharap yang di sini bisa sampaikan pesan kepada suporter untuk terus mendukung kami,” kata Luis Milla dikutip dari Detik.

Milla juga  menyesali kekalahan ini. Pria asal Spanyol itu mengungkapkan bahwa para pemain Indonesia seharusnya bisa lebih baik lagi.

“Dalam pertandingan ini seharusnya kami bisa lebih baik lagi dan lebih dewasa. Ini adalah sepakbola profesional dan sudah seharunya dituntut lebih di lapangan,” kata eks pelatih timnas Spanyol U-21.

 

https://twitter.com/InfoKNRP/status/1029220100992249856

Namun meski kalah, setidaknya sikap sportif ditunjukkan para pemain dan suporter timnas. Soalnya lawannya adalah Palestina di mana Indonesia merasa akrab dan simpatik secara kemanusiaan dengan negara yang sedang dilanda perang tersebut.

Malah banyak warga Indonesia yang bilang kalau berikan saja kemenangan buat Palestina, hitung-hitung hiburan buat mereka. Maklum, namanya sedang perang, tentu kehidupan warga Palestina tidak akan damai seperti warga Indonesia yang bisa santai-santai di kamar sambil main PUBG.

Pada akhir laga, suporter Indonesia bahkan meneriakkan yel-yel “Palestina..Palestina” sebagai bukti dukungan buat mereka. Yel-yel tersebut disambut dengan rasa haru oleh para pemain Palestina yang rata-rata pada bisa berbahasa Arab.

“Sebelum bicara soal pertandingan, saya mewakili pihak kami ingin berterima kasih kepada suporter Indonesia yang mendukung kami meski melawan tim mereka sendiri,” kata pelatih Palestina, Ayman Sandoqua, dikutip Goal. 

Main photo: breakingnews.co.id

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here