Real Madrid jadi tim yang di atas kertas bakal mampu menjadi juara lagi untuk yang ke-12 kalinya. Sampai bingung itu trofi bakal ditaruh di mana saking banyaknya. Namun, mereka dihantui banyak mitos di laga final ini. Apa saja?

Skuat Madrid memang tak banyak perubahan dari tahun lalu saat menyingkirkan Atletico Madrid lewat adu penalti. Mungkin hanya ganti Raphael Varane saja yang sepertinya bakal dimainkan menggantikan Pepe tanpa Satpol itu.

Apalagi, Madrid hadir ke final dengan tim yang paling produktif di Liga Champions. Yakni 32 gol diciptakannya selama musim ini menjadikan mereka paling subur seolah habis makan tauge dan buah alpukat supaya bisa subur terus.

Namun, mereka harus menghadapi banyak mitos atau kutukan. Pertama, belum ada tim juara bertahan yang mampu mempertahankan gelar juaranya berturut-turut sejak Liga Champions berganti nama pada 1992.

Juventus juara pada 1996, lalu gagal mempertahankannya pada 1997 usai ditaklukan Borussia Dortmund. Manchester United (MU) juara pada 2008, tapi gagal pada 2009 setelah kalah dari Barcelona.

Yang membuat kutukan tersebut lebih kuat adalah terdapat persamaan skor dan kemenangan adu penalti. Juve menang lawan Ajax Amsterdam lewat adu penalti setelah seri 1-1. MU juga sama, seri 1-1 dan memenangkan adu penalti. Madrid? Juga sama. Mereka menang adu penalti setelah seri 1-1 tahun lalu.

Kutukan sebelumnya berdampak otomatis ke kutukan berikutnya bahwa setiap tim yang menjuarai Piala Dunia Antarklub juga gagal menjadi juara Liga Champions berikutnya. Dibilang mirip dengan kutukan sebelumnya karena kalau ada tim yang menjuarai Liga Champions dengan status juara dunia, berarti telah mematahkan mitos yang pertama.

Kutukan berikutnya adalah tahun ganjil. Madrid tidak pernah menjuarai Liga Champions pada tahun ganjil pada format kompetisi yang baru. Mereka pernah juara pada 1957 dan 1959 tapi itu era format lama. Tim yang ikut serta juga bisa dihitung dengan jari kaki bayi.

Kutukan selanjutnya adalah siklus tujuh tahunan tim Italia. Sejak format baru, tim Italia berhasil juara tiap tujuh tahun. Pertama adalah Juve pada 1996, kemudian Milan pada 2003, lalu Inter pada 2010, dan kini terbuka lagi peluangnya pada 2017 dengan Juve masuk ke final.

Kebetulan memang kebetulan, tapi ya masak begini amat kebetulannya. Mungkin memang sudah digariskan takdirnya. Itulah mengapa, kalau “Los Blancos” berhasil jadi juara, berarti mereka mematahkan banyak mitos atau kutukan itu tadi. Bahkan jadi tim pertama yang mampu mempertahankan gelar juara.

“Saya berdoa bakal terjadi malam keajaiban buat Real dan malam yang tragis bagi Juventus,” ujar Cristiano Ronaldo, seraya mengucapkan doa.

Hal yang sama diutarakan striker asal kampungan Prancis, Karim Benzema. Dia bahkan punya feeling yang bagus pada malam nanti. Merasa dirinya seperti Ki Joko Bodo yang bisa meramalkan masa depan, yang kadang benar kadang salah. Namanya juga ramalan.

“Kami memiliki feeling yang bagus! Pada pertandingan final nanti, kami akan mengeluarkan semua kemampuan dan mempersembahkan kemenangan bagi Madridista,” tutur Benzema yang terlihat ganteng tanpa kumis itu.

Namun, pelatih botak tanpa rambut, Zinedine Zidane, berani bilang kalau mematahkan mitos itu bukan motivasi mereka. Motivasi mereka adalah juara ketimbang sekadar mematahkan kutukan.

“Tidak, motivasi kami datang dari fakta bahwa kami akan kembali bermain di final Liga Champions. Sesuatu yang luar biasa untuk kami,” tutur Zidane.

Main photo: ESPN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here