Oleh: Sakti Sakral

Dibalik ingar bingar dan keglamorannya, di balik rentetan trofi melimpah yang menghiasi lemari piala tim, di balik penasbihan diri sebagai tim tersukses sejagat Eropa dan Spanyol dengan jumlah trofi Liga Champions dan La Liga terbanyak, Real Madrid menyimpan luka tersendiri bagi beberapa pemain tertentu.

Para pemain ini kariernya luluh lantak di Bernabeu. Ya, Santiago Bernabeu. Salah satu stadion paling megah di muka bumi itu, yang sering jadi kuburan dan tempat karamnya armada-armada raksasa Eropa, yang telah jadi kanvas bagi banyak pemain bintang  untuk menaburkan warna mereka, yang jadi saksi ‘brace‘ Diego Millito di Final Champions League 2010, yang jadi ‘tempat bersalin’ banyak bakat-bakat hebat diseluruh penjuru Eropa, yang menjadi rumah dari tim mitologi Real Madrid itu.

Sayangnya, sebagian pemain yang berpredikat pemain bintang di klub lain tak jadi jaminan kesuksesan saat main di Madrid. Mereka-mereka yang dilabeli pemain bintang inilah yang justru terpuruk dalam balutan jersey si putih.

Bagi para pemain tersebut, Real Madrid bukanlah tim raksasa haus gelar dengan jaminan trofi tiap musim. Real Madrid tak lebih dari batu pijakan licin yang gagal mereka taklukan. Yang lebih ironis, bagi beberapa orang, ‘batu licin’ itu malah memberi efek domino karena mempengaruhi performanya di klub-klub selanjutnya.

Predikat gagal di Real Madrid terus menghantui mereka sejauh manapun mereka pergi. Hasilnya? Performa mereka tak membaik walau sudah berpindah klub. Sudah tak terhitung berapa banyak bakat-bakat istimewa yang sentuhan magisnya seolah lenyap dari muka bumi begitu mereka menginjakkan kaki di Santiago Bernabeu dengan status pemain.

Adapun penyebab kegagalan mereka bervariasi. Ada yang disebabkan oleh ketidakmampuan beradaptasi dengan kultur sepakbola Spanyol, cedera yang tak henti-henti mendera, minimnya kesempatan bermain, konflik dengan manajemen klub , dan alasan paling klasik: kalah bersaing dengan pemain lain.

Cedera, Seandainya Kamu Tak Ada…
Cedera tak ubahnya parasit dalam dunia sepak bola. Musuh sekaligus sahabat terbesar para pemain. Seringkali cedera merupakan faktor penghambat berkembangnya potensi dan bakat seorang pemain.

Terutama para pemain berikut yang gagal bersinar di Real Madrid akibat cedera terus menerus mengganggu. Sudah menjauh, tapi makin dikejar. Persis mantan yang enggak bisa move on.

Lantas, siapa saja para seniman terluka yang pernah disakiti hatinya oleh Real Madrid? Nomor 201 bikin kamu bosan.

1. Nuri Sahin
Tampil konsisten mengkomandoi lini tengah Borrusia Dortmund selama tiga musim membuat Real Madrid kepincut dengan midfielder Turki ini. Ditambah keberhasilannya mempersembahkan trofi Bundesliga musim 2010/2011 sekaligus memutus dominasi Bayern Munchen tak alang kepalang menjadikan Sahin opsi menarik untuk memenuhi kebutuhan tim.

Belum lagi gelandang Madrid kala itu, Sami Khedira performanya inkonsisten, sehingga pada jendela transfer musim panas 2011, tawaran €10 juta Real Madrid rasanya pantas untuk menggaet Sahin ke Bernabeu.

Semuanya sepertinya akan baik-baik saja, sampai akhirnya cedera lutut pada awal agustus menghancurkan karier Madridnya. Bahkan sebelum ia sempat memulai. Sahin akhirnya hanya mampu membuat 10 penampilan sepanjang musim 2011/12, dan nyaris tak berkontribusi apa-apa dibalik ke berhasilan Real Madrid menggondol trofi La Liga ke-33.

Sahin kemudian dipinjamkan tiga musim berturut-turut ke Liverpool dan Borussia Dortmund, sebelum akhirnya Dortmund menebusnya kembali 2014 lalu. Kini Sahin tengah beradaptasi dengan klub barunya, Werder Bremen dan telah mencetak sebiji gol musim ini.

2. Cicinho
Cepat, taktis, dan energik. Tiga kata itu mencerminkan diri seorang Cicinho. Datang dengan status juara Club World Cup dan Copa Libertadores bersama Sao Paolo, Bek kanan Brazil ini justru terseok-seok di musim pertamanya.

Cedera lutut ACL berkepanjangan membuat Cicinho minim jam terbang dan harus merelakan posisinya digusur Sergio Ramos muda di pos bek kanan. Musim keduanya, 2006/2007 lebih tragis lagi. Cederanya tak kunjung membaik, dan Cicinho hanya mampu tampil 8 kali di semua ajang tanpa menghasilkan sebiji gol pun. Pada akhir musim, ia dilego ke AS Roma.

Hasil gambar untuk cicinho madrid
Cicinho yang pernah main di Madrid tapi cedera melulu. (Source: Bola.com)

3. Esteban Cambiasso
Kualitas Cambiasso di lini tengah tak usah diragukan lagi. Lima gelar juara Serie A, satu Liga Champions, dan treble winner 2010 bersama Inter Milan seolah membuktikan kualitas pria plontos ini. Dengan prestasi yang bertaburan seperti itu, orang-orang lupa bahwa dulunya Cambiasso merupakan pembelian gagal Real Madrid.

Cambiasso adalah bagian dari Galacticos edisi pertama, atau bahasa sekarangnya “The Avengers” babak awal bersama Zinedine Zidane, Luis Figo, David Beckham, dan Roberto Carlos setelah diboyong mahal dari River Plate.

Dua musim di Real Madrid, Cambiasso mempersembahkan empat piala, di antaranya La Liga dan Intercontinental Cup. Sayangnya, waktunya banyak dihabiskan di ruang perawatan akibat cedera paha kambuhan. Hingga akhirnya Cambiasso memutuskan hengkang ke Inter Milan pada akhir musim 2003/2004.

Di Inter lah, Cambiasso menasbihkan diri sebagai salah satu gelandang terbaik di generasinya. Kini Cambiasso sudah pensiun setelah mengakhiri karirnya di Olympiacos akhir musim 2016/2017 lalu.

Tabiat Buruk Membunuhmu!
Sikap dan profesionalitas harusnya jadi tolak ukur karakter dan integritas seseorang. Sudah seperti geng motor saja. Kalau tabiatnya buruk, maka bakal mati karier sekaligus hidupnya.

Begitu juga yang diterapkan di sepak bola. Beberapa pembelian gagal Real Madrid terjadi karena sikap dan tabiat yang dapat mempengaruhi keberhasilan karier mereka.

1. Antonio Cassano
Bila sudah menghayati perannya sebagai Trequartista, Antonio ‘Cassanova’ Cassano, si playboy sekaligus bad boy yang sering berulah di luar lapangan ini mendadak jadi pria kalem penuh wibawa setiap kali menguasai bola. Tampang badungnya yang sering membuat onar itu seakan lenyap, menjelma menjadi sosok Pangeran dengan kemampuan olah bola yang menawan.

Sayangnya, hobi membuat onarnya itu justru lebih dominan ketimbang skill menawan yang ia punya. Tampil meladak bersama AS Roma di awal kemunculannya, Cassano ditebus seharga €5 Juta akhir musim 2005/2006.

Sering membangkang dan berselisih dengan Fabio Capello, pelatih Real Madrid saat itu, membuat Cassano banyak dibangku cadangkan dan hanya menyumbangkan empat gol selama dua musim berseragam putih. Pada akhir musim 2006/2008, Cassano dilego ke Sampdoria dan kembali menemukan tajinya di kampung halaman, walau tabiat berandalnya tak sedikit pun berubah.

Hasil gambar untuk cassano madrid
Si bader Cassano, cuma main sebentaran. (Source: Sumber.com)

2. Royston Drenthe

Pada awal masa bergabungnya dengan Real Madrid, pemain ini dianggap sebagai salah satu talenta muda yang siap bersinar. Sayangnya, sinar tersebut meredup dan bahkan nyaris hilang.

Bek sayap muda yang dibeli dari Feyenoord pada tahun 2007 ini sempat menjadi andalan di sisi kiri Madrid di musim pertamanya. Bahkan mencetak gol fantastis dalam laga debutnya ketika menghadapi Sevilla di Spanish Super Cup lewat tendangan jarak jauh.

Tapi pada musim berikutnya, ia harus rela duduk di bangku cadangan karena kalah bersaing dengan Marcelo dan akhirnya didepak ke tim promosi Hercules (2010) dan Everton (2011).

Selama ini Drenthe dikenal sebagai pemain yang kurang disiplin. Hal ini diperkuat lantaran Drenthe dituduh selalu tidak tepat waktu untuk menjalani latihan dan sering terlibat permasalah dengan pihak kepolisian. Kini Drenthe berkarier di Divisi 2 Belanda bersama Sparta Rotterdam. Rasakan itu, Fergusso!

3. Robinho|
Disebut-sebut sebagai titisan Pele, karier Robinho di Real Madrid tak bisa sepenuhnya dicap gagal. Membela panji Galacticos selama tiga musim, Robinho mempersembahkan dua trofi La Liga berturut-turut, musim 2006/2007 dan 2007/2008.

Memiliki skill mumpuni dan kemampuan teknis brilian, ditambah insting mencetak gol tajam membuat semua aspek yang dibutuhkan untuk menjadi bintang besar ada pada dirinya. Apalagi ketika itu usianya masih 21 tahun. Puluhan gol per musim rasanya bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat kapasitas yang dimilikinya.

Namun sayang, sadar dirinya berbakat, Robinho malah berulah dan kerap berselisih dengan presiden Real Madrid saat itu, Ramon Calderon. Hingga Robinho dilepas manajemen ke klub kaya baru, Manchester City dengan mahar 32, 5 Juta Poundsterling.

Robinho mengakhiri kariernya di Real Madrid dengan total gelontoran 35 gol. Bukan catatan yang buruk, namun dengan bakat besarnya, Robinho sesungguhnya bisa melesat jauh lebih dari itu. Kini Robinho jauh bertualang ke Turki bersama Sivasspor.

Madrid, Kita Enggak Cocok!
Para pemain yang masuk dalam daftar ini gagal menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola Spanyol. Entah karna gaya bermain yang tidak sesuai atau karena kebijakan pelatih yang menempatkan mereka di bukan posisi aslinya. Intinya, model permainan Real Madrid kala itu tidak cocok. Atau istilah gaulnya, kurang ‘sreg’.

1. Thomas Gravesen
Dikenal sebagai jagal brutal di Premier League, Gravesen cuma bertahan semusim setengah di Madrid. Padahal di antara semua, dia lah yang paling “legend”.Terbiasa bermain di Premier League dengan budaya kick and rush ala Inggris yang mengedepankan fisik ketimbang kemampuan teknis, membuat pria Denmark ini tidak klop dengan Madrid.

Dominan selama enam musim di Everton sebagai gelandang ‘destroyer’, sudah seperti Drax di The Guardians of Galaxy. Dia dianggap sebagai legenda klub nasibnya berbanding terbalik ketika berlabuh di Bernabeu.

Digadang-gadang sebagai suksesor Claude Makelele dan Fernando Redondo, Gravesen malah lebih sering dicadangkan. Permainannya yang menjurus kasar tak sesuai dengan Madrid yang kala itu mengedepankan visi permainan taktis.

Tekel keras dan kartu identik dengannya. Ditambah kehadiran Mahamadou Diarra membuatnya mutlak kehilangan tempat. Pada akhir musim 2005/2006, Gravesen angkat kaki dari Bernabeu. Tak ada kenangan indah tentang dirinya. Kecuali jika pertengkarannya dengan Robinho dapat disebut sebagai kenangan indah. Atau marah-marah kepada pemain lainnya.

2. Klaas Jan Huntelaar
Sering menjadi top skor Eredivisie Belanda bersama Ajax Amsterdam dan Groningen membuat Huntelaar pun dan menjadi buruan klub-klub top Eropa. Sementara itu, Madrid yang tengah kesulitan untuk mengimbangi Barcelona di musim 2008/2009, lalu memutuskan untuk mendatangkan striker tajam.

Pilihan “El Real” saat itu adalah merekrut striker muda Ajax, Klaas-Jan Huntelaar dengan harga yang lumayan mahal. Ia pun memilih bergabung bersama Madrid pada pertengahan musim 2008/2009. Huntelaar merupakan tipikal striker ‘classic 9’ murni yang menghabiskan waktu di kotak penalti ternyata tidak banyak berkontribusi membangun serangan.

Soalnya Madrid kala itu membangun serangan lebih banyak mengandalkan eksplosivitas para pemain sayap. Huntelaar yang diharapkan diplot sebagai ‘wall passer’ gagal memerankan perannya dengan baik karena lebih banyak menunggu di kotak penalti.

Huntelaar sejatinya menampilkan performa baik di musim perdananya bersama “Los Blancos“. Talenta emas Belanda itu sukses mengemas 8 gol dari 13 pertandingan yang ia jalani bersama El Real. Namun hal tersebut tak cukup membuatnya untuk tetap dipertahankan apalagi Madrid kala itu ingin mendatangkan Kaka dan Cristiano Ronaldo.

Produktivitasnya pun semakin menurun dan lebih sering duduk di bangku cadangan hingga ia memutuskan pindah ke Schalke 04 (Jerman) setelah sebelumnya sempat dipinjamkan ke AC Milan (2009-2010). Kini “The Hunter” telah kembali ke klub yang membesarkan namanya, Ajax Amsterdam dan merupakan goal getter utama tim dalam mengarungi musim ini.

3. Julio Baptista
Baptista sempat bermain di Sevilla musim 2003/2005 dan tampil sebanyak 81 kali dengan mencetak total 50 gol. Meski menjadi incaran Arsenal namun pada tanggal 25 Juli 2005 dia bergabung dengan Real Madrid.

Tetapi di Madrid, dia dimainkan di luar posisinya sebagai sayap kiri untuk mendukung Zinedine Zidane dan Guti. Di musim pertamanya dia pun gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya dan hanya berhasil mencetak delapan gol.

Di akhir musim 2006/2007, aptista kembali ke Real Madrid. Adanya pelatih baru Bernd Schuster membuatnya mendapatkan kesempatan  berhasil bermain cukup baik dan membuat Guti duduk di bangku cadangan.

Namun di akhir musim, nasibnya tetap tidak jelas. Sebelum akhirnya pada 14 Agustus 2008 dia dibeli AS Roma dengan transfer sebesar 9 juta Euro dan kontrak selama 4 tahun.

Kasih Aku Main, dong…
Minimnya kesempatan bermain dapat disebabkan banyak hal, namun penyebab paling klise adalah lantaran ketidakpercayaan pelatih atas kemampuan yang dimiliki oleh sang pemain. Ada yang berhasil ketika mendapat menit bermain lebih banyak di klub lain, ada pula yang nasibnya sama saja walau sudah berkelana di klub lain. Siapa saja mereka?

1 Fernando Gago
Pemain berposisi gelandang tengah asal Argentina yang didatangkan dari Boca Junior pada 2006,berbarengan dengan Gonzalo Higuain. Namun nasib mereka berbanding terbalik. Higuain menjadi pemain andalan Real Madrid hingga musim 2012/2013 dan menjadi penyerang utama. Sedangkan Gago lebih sering duduk di bangku cadangan karena kalah bersaing dengan pemain lainnya seperti Xabi Alonso dan Khedira.

Gago sendiri dikenal sebagai pemain yang memiliki visi bermain yang tinggi. Sayang, gelandang bertahan ini tak mendapatkan banyak kesempatan di Madrid sejak kedatangan Jose Mourinho.

Gago gagal bersinar di La Liga Spanyol karena jarang mendapat kesempatan masuk tim inti. Alhasil, musim tersebut ia cuma tampil 7 kali. Musim berikutnya, pemain Argentina menikmati masa pinjaman di AS Roma ia tampil 31 kali dan mencetak 1 gol di musim 2011/2012.

Kini, Gago menikmati akhir-akhir kariernya di Boca Juniors dan berperan penting atas keberhasilan Argentina menjadi runner up Piala Dunia 2014. Pada masa jayanya, gaya main Gago mirip dengan Busquets modern. Bedanya, Fernando Gago bukan Sergio Busquets.

2. Sergio Canales
Canales digadang-gadang sebagai pemain muda Spanyol yang paling menjanjikan. Sprint mumpuni, gocekan maut, finishing berkelas, belum lagi kontrol bolanya yang delicate. Sentuhan pertamanya selembut perlakuan seorang gentleman terhadap gadis pujaannya dalam kencan pertama mereka.

Dengan segala aset yang dimiliki, bolehlah saat itu Canales disebut sebagai pemuda tampan harapan bangsa. Namun sayang seribu sayang, sang gelandang tak diberi kesempatan bermain hampir semusim.

Kini Canales akan menjalani masa pinjaman pada musim keduanya di Valencia. Sial bagi pemain muda Sergio Canales yang belum sempat berkembang di Real Madrid tapi akhirnya dibuang karena dianggap gagal bersinar di Santiago Bernabu.

Padahal saat direkrut dari Racing Santander musim 2009/2010,Canales merupakan bagian dari rencana Real Madrid untuk memberi kesempatan kepada pemain muda Spanyol. Pasalnya, Los Merengues sudah dijejali berbagai legiun asing.

Canales memang tak langsung bersinar di Santiago Bernabeu.Persaingan mendapatkan tempat di tim inti yang begitu ketat membuat dia harus tersingkir. Canales pun bermain 15 kali untuk Real Madrid di berbagai kompetisi sehingga dilepas ke Valencia musim 2011/2012.

3. Javier Saviola
Saviola adalah salah satu pemain asal Argentina yang sempat mengecap masa-masa kejayaan bersama Barcelona di awal tahun 2000-an. Dirinya pernah menjadi bagian penting dalam tim, sekaligus menjadi senjata andalan di lini depan “Los Azulgrana“, sebelum kemunculan Messi muda merampas semua perhatian darinya.

Penampilan apiknya bersama Barca, menarik hati Real Madrid untuk merekrut pemain bertubuh mungil tersebut. Saviola memang tak bisa tampil konsisten bersama Barca, tetapi rasio golnya masih sebanding dengan jumlah laga yang dilakoninya.

Saviola pun resmi hijrah ke Madrid di tahun 2007. Namun bersama Los Blancos, dirinya gagal menemukan ketajamannya seperti saat membela Barcelona. Saviola hanya berhasil mencetak 5 gol dalam dua musim.

Hasil gambar untuk saviola madrid
Saviola yang urung bersinar. (Source: El Pais)

Pilih Aku atau Dia?
Kasus terakhir, dan yang paling banyak terjadi adalah persaingan antar pemain yang memiliki posisi dan lini yang sama. Mengingat pemain dengan karakter dan posisi yang sama tak bisa dipasang bersamaan. Pastilah ada satu yang menjadi tumbal.

Para pemain ini kalah bersaing dengan rekannya sendiri untuk mendapat menit bermain yang banyak. Sehingga kariernya tak cemerlang di Madrid.

1. Michael Owen
Walaupun minim gelar bersama Liverpool, tapi permainannya sangat memukau dunia dan sepertinya dia membuat keputusan yang kurang tepat saat pindah ke Real Madrid di medio 2004. Owen kesulitan beradaptasi dan deretan cedera memberikan andil besar dalam keterpurukannya saat di Real Madrid dan ia akhirnya pindah ke Newcastle United pada musim berikutnya.

Tak ada yang meragukan kualitas Owen ketika masih berseragam Liverpool. Tetapi di Madrid, Owen lebih dikenal sebagai pemain super-sub. Hingga akhirnya Owen hanya mengenakan seragam Madrid selama semusim saja dengan torehan 13 gol dari 36 laga di La Liga.

Potensi besar peraih Ballon d’or 2001 itu tak mencapai klimaks lantaran minimnya menit bermain karna persaingan di lini depan Madrid kala itu sudah ketat. Ada nama Ronaldo dan Raul Gonzales yang kala itu tak mampu digeser siapapun. Petualangan Owen di Bernabeu berakhir pada akhir musim 2004/2005, dan dilepas kembali ke Inggris bersama Newcastle.

2. Lassana Diarra
Di musim perdananya tahun 2009 yang lalu, pemain tengah asal Prancis ini mampu tampil gemilang. Tapi kemudian, ia gagal menunjukkan kemampuan terbaiknya saat bermain bersama Xabi Alonso.

Meski begitu, total 39 penampilan tetap diraihnya. Persaingan yang ketat antar pemain berakibat pada minimnya menit bermain yang didapat Diarra. Diarra seringkali menghuni bangku cadangan di skuat Mourinho.

Sejak kehadiran Alonso dan Khedira, gelandang yang akrab disapa Lass itu memang hanya berperan sebagai pelapis. Kontan hal itu mulai membuat Lass jengah dan berpikir untuk mencari klub baru yang menjamin rutinitas bermain di tim utama.

3. Walter Samuel
Samuel tampil brilian selama beberapa musim bersama AS Roma. Kualitasnya sebagai seorang bek tangguh menarik perhatian Real Madrid untuk memboyongnya. Samuel pun berhasil didatangkan ke Santiago Bernabeu seharga 26 juta Euro pada tahun 2004.

Namun di Real Madrid, Samuel gagal menunjukkan permainan terbaiknya, dan hanya menjadi pelapis untuk duet Ivan Helguera dan Fernando Hierro. Pada akhir musim pertamanya, Samuel dilepas ke Inter Milan. Bersama Inter, Samuel bergelimang trofi dan merupakan aktor penting di balik kesuksesan Inter meraih treble winner tahun 2010.

Intinya, tim dengan reputasi besar bukanlah jaminan kesuksesan bagi seorang pemain. Ada banyak aspek yang patut diperhitungkan sebelum mengambil keputusan bergabung dengan suatu klub, karna jika salah, hasilnya bisa fatal.

Main photo: Managing Madrid


Sakti

Sakti Sakral

Pelajar SMA yang mencintai sepakbola melebihi Algoritma & Teorema. Seorang Madridista tetapi setengah mati mengidolai Sergio Busquets

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here