Real Madrid resmi melangkah ke final Liga Champions usai menyingkirkan adiknya sendiri, Atletico. Meski keok 1-2, tapi secara agregat dua leg mereka unggul 4-2. Real kini menyusul Juventus ke final yang sudah melangsungkan pesta pernikahannya lebih dulu.

Bermain di kandang adiknya, Real memang tampak tertekan, tak seperti biasanya. Mungkin karena keder banyak banget suporter Atletico di sana, jauh melebihi suporternya Real. Ya wajar saja, namanya juga main di kandang Atletico.

Tak perlu menunggu waktu lama bagi Atletico untuk mencetak gol. Pertandingan baru berjalan 12 menit Saul Niguez sudah membuat gol lewat sundulan kepala yang dimiliki satu-satunya itu memanfaatkan tendangan sudut.

Empat menit kemudian, Fernando Torres dijatuhkan di kotak terlarang. Priit, bunyi peluit dari wasit langsung membuktikan kalau jatuhnya Torres merupakan sebuah pelanggaran dan wajib dilaksanakan penalti.

Antoine Griezmann mengeksekusi penalti tersebut dengan senang hati, tanpa paksaan. Meski sempat ditepis Keylor Navas, bola masih saja masuk ke gawang karena memang sudah takdirnya menjadi gol.

Unggul 2-0 saat pertandingan baru berjalan 16 menit bikin Atletico percaya diri dan begitu semangat. Sepertinya, peluang mencetak satu gol lagi untuk menyamakan kekalahan agregat 0-3 di leg pertama tinggal sebentar lagi.

Sayang, semua itu hanya PHP. Pada menit ke-42, Real malah bikin gol yang memupuskan harapan Atletico tampil ke final. Harapan itu hilang terbang bersama angan-angan.

Berawal dari Karim Benzema di pinggir lapangan melakukan manuver keren yang bikin orang berdecak kagum. Bayi usia tiga tahun kalau sudah mengerti bola juga pasti ikut geleng-gelengkan kepalanya.

Setelah utak-atik ancang-ancang, pemain Prancis itu melewati tiga pemain Atletico sekaligus disusul pengoperan bola kepada Luka Modric. Tanpa ampun Modric menendang bola dengan kakinya, meski sempat ditepis Jan Oblak yang tak ada hubungan saudara dengan Seblak, bola muntahannya mampu disambar kembali oleh Isco.

Mental Atletico jelas nge-down. Sisa waktu satu babak lagi buat mencetak tiga gol sepertinya berat banget. Mereka enggak mungkin cuma menang 4-1 karena kalah gol tandang, mereka harus menang minimal selisih empat gol seperti 5-1, 6-2, 7-3, 12-8, atau 23-19.

Apalagi, Navas tampil gemilang sebagai kiper. Beberapa kali peluang Atletico mampu dimentahkan oleh kiper asal Kosta Rika itu, sebuah negara antah berantah di Amerika latin.

Real memastikan diri lolos ke final usai wasit meniup peluit akhir. Kalau tidak ditiup, pertandingan bisa enggak kelar-kelar sampai lebaran nanti. Atletico memang akhirnya bisa menang lawan Real di Liga Champions, tapi tetap saja tidak lolos.

Real lolos ke final kedua kalinya berturut-turut. Bahkan membuka peluang mengukirkan sejarah sebagai tim pertama yang bisa menjadi juara selama dua tahun berturut-turut dalam format Liga Champions.

Sejauh ini memang belum ada tim yang mampu menjadi juara berturut-turut sejak namanya berubah jadi Piala/Liga Champions (sebelumnya European Cup). Seolah sudah menjadi mitos di kampung-kampung. Makanya, Real bermimpi bisa mencapai hal itu.

“Semuanya bisa terjadi. Saya melihat tim ini dengan baik, kami sangat kuat. Para pemain sangat bagus termasuk mereka yang jarang bermain,” ucap Cristiano Ronaldo dikutip situs resmi UEFA.

Mereka juga menyamai rekor Juventus, calon lawannya di final, yang mampu menembus babak final tiga kali dalam empat musim terakhir. Bedanya, Juve menembus tiga final berurutan, yakni pada 1996, 1997, dan 1998. Pada final ketiganya, Juve takluk 0-1 dari Madrid.

Sedangkan Real meraih final ketiganya setelah sebelumnya diraih pada 2014 dan 2016. Mereka juga menyamai rekor Juventus dan Milan yang mampu mencapai final sampai enam kali dalam format Liga Champions.

Real sebelumnya mencapai final pada 1998, 2000, 2002, 2014, dan 2016. Semuanya berhasil menjadi juara. Memang luar biasa si Real ini.

Meski begitu, Zinedine Zidane tak mau takabur. Apalagi lawan mantan klubnya itu yang ditinggal saat sedang sayang-sayangnya.

“Real pastinya bukan favorit. Sangat sulit mencetak gol lawan Juventus. Mereka tak hanya bagus di lini bertahan, tapi juga di lini serang. Menghadapi Juventus akan jadi final spesial karena saya masih menyimpan Juventus di hati saya,” ucapnya.

Main photo credit: Twitter (@ChampionsLeague)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here