Laga final Piala Dunia 2018 rasanya akan terus dibahas dalam beberapa hari ke depan. Berbagai momen cantik tanpa harus mundur seperti Syahrini, terjadi pada laga puncak turnamen empat tahunan tersebut.

Beberapa kalangan menyebutkan bahwa laga tersebut merupakan final komplit yang sesuai dengan keseruan Piala Dunia 2018 ini. Maklum, banyak momen-momen baru yang terjadi pada pagelaran di Rusia. Gol bunuh diri, gol tendangan bebas, gol penalti, penggunaan VAR, blunder kiper, dan hujan gol dikatakan adalah ‘rangkuman’ Piala Dunia Rusia.

Selain hal-hal yang disebutkan di atas, ada satu momen yang baru terjadi pada pertandingan terakhir dari total 64 pertandingan. Hal tersebut adalah adanya pitch invander alias penyusup ke dalam lapangan.

Kejadian bermula pada menit ke-52, ketika itu Kroasia sedang memulai melakukan serangan balik. Tiba-tiba sekelompok orang berseragam formal dengan warna putih dan hitam yang jelas bukan mahasiswa baru sedang ospek, memasuki lapangan. Terhitung ada empat orang yang tiga wanita dan satu pria, mencoba untuk menerobos masuk ke dalam pertandingan.

Entah bagaimana reaksi Vladimir Putin saat melihat aksi ini. Yang jelas steward atau petugas keamanan bisa terancam kariernya karena luput dari penyusup. Apalagi mereka sempat rada lama main kucing-kucingan di lapangan dengan Pussy Riot.

Walaupun tak lama kemudian berhasil ditangkap oleh beberapa pihak keamanan pertandingan serta satu orang beruntung ‘dihajar’ oleh Dejan Lovren, setidaknya aksi mereka tersebut mendapat perhatian dari seluruh dunia.

Followers Twitter dan Instagram  juga sudah pasti bertambah. Lumayan bisa jadi tukang endorse peninggi dan pelangsing hidung serta penambah berat betis.

Apalagi, salah seorang dari mereka sempat tos-tosan dengan Kylian Mbappe. Sangat disayangkan, harusnya selfie sekalian mumpung bisa satu lapangan bareng pemain muda terbaik Piala Dunia.

Memang akibat dari penyusupan tersebut, Kroasia gagal untuk melakukan serangan. Bukan cuma pemain yang merasa terganggu dengan aksi menjengkelkan macam kucing kantin sekolahan tersebut. Tiba-tiba muncul di kolong meja minta-minta makanan. Tapi juga para penonton di stadion dan seluruh dunia yang menyaksikan hal tersebut. Aksi mereka juga disoraki para penonton, tak ada kata respek di sana.

Bahkan beberapa waktu lalu sampai terjadi twitwor antar influencer Indonesia yang secara tidak ada hubungannya. Malah melebar ke mana-mana pula perdebatannya. Luar biasa memang netizen Indonesia.

Namun, sang penyusup tak peduli dengan itu. Mereka ternyata memang punya satu misi. Jadi sebenarnya siapakah gerombolan nekat yang berbondong memasuki lapangan tersebut?

Mereka merupakan anggota dari kelompok protes nyeni yang menamakan diri sebagai Pussy Riot. Kelompok juga sering diidentifikasi sebagai sebuah band punk dengan nama yang sama, meskipun hanya satu anggota dari band tersebut yang ikut tergabung bersama kelompok protes.

Nama ‘Pussy’ berarti kelamin wanita dalam bahasa sleng di Amerika, bukan kucing rumahan yang biasa dipanggil ‘puss..puss”.

Itulah mengapa kelompok yang terbentuk pada tahun 2011 di mana seluruh personilnya merupakan perempuan. Sedangkan satu orang pria yang kena hajar Lovren di lapangan merupakan suami dari salah seorang personelnya.

Sesuai dengan namanya juga ‘Riot’, kelompok ini memang suka bikin rusuh. Mereka kerap melakukan protes pada kebijakan pemerintahan Rusia dengan hadir di acara-acara penting kenegaraan.

Mereka juga memfokuskan diri pada isu-isu feminis. Aksi dari kelompok Pussy Riot tersebut tidak terlepas dari protes mereka terhadap pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dianggap otoriter.

Aksi tersebut jelas mencoreng nama Vladimir Putin yang hadir bersama sejumlah pejabat penting yang hadir seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic.

Melalui akun Twitter resmi mereka, Pussy Riot mengaku adalah dalang dibalik kejadian tersebut. Mereka juga membuat daftar tuntutan kepada pemerintah yang salah satunya adalah pembebasan tahanan politik.

Keempat anggota Pussy Riot yang tertangkap pada kejadian itu kini sudah menerima hukuman dari pemerintah setempat. Para penyusup lapangan yang terdiri dari Veronika Nikulshina, Olga Pakhtusova, Olga Kurachyova dan Pyotr Verzilov dijatuhi hukuman penjara selama 15 hari.

Seperti dikutip dari CNNIndonesia, keempatnya dinyatakan bersalah karena melanggar undang-undang perilaku menonton pertandingan olahraga. Mereka juga dilarang menghadiri ajang olahraga apapun selama tiga tahun.

Kecuali untuk olahraga catur jawa, petak umpet, dan petak jongkok sepertinya mereka diperkenankan untuk menghadirinya.

“Sangat disayangkan kami mengganggu jalannya pertandingan. Tapi, FIFA terlibat dalam permainan yang tidak adil. FIFA berteman dengan kepala negara yang melakukan represi, yang melanggar hak asasi manusia,” ucap Kurachyova.

https://twitter.com/pussyrrriot/status/1018960111279247365

Main photo: npr.org

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here