Oleh: Paundra Jhalugilang

Monaco memang harus mengakui keunggulan Juventus di semifinal Liga Champions musim ini. Memupuskan harapan mereka untuk tampil kedua kalinya setelah 2004. Banyak pelajaran yang dipetik dari Juve, mulai dari kesabaran sampai pengalaman yang tidak diajarkan di pelajaran PPKn SMP-SMA sekalipun.

Para pemain Monaco memang telah mengakuinya kalau mereka kalah kematangan dan pengalaman. Maklum, secara usia memang para pemain “Les Monegasques” ini masih muda-muda banget. Seumuran dengan para fresh graduate yang sibuk mencari lowongan di Jobstreet, rajin menerima email dari yang namanya Lina.

Bandingkan dengan rata-rata usia starter pemain Juventus yang lagi matang-matangnya, kira-kira usia 30 tahunan rata-ratanya. Itu kalau di dunia kerja sudah masuk jadi level supervisor dan manajer.

“Yang terpenting adalah bagaimana kami bisa belajar dari tim sehebat dan sebesar Juve. Bagaimana kami menyikapi Mario Mandzukic yang berkorban begitu hebat di sayap kiri. Melihat bagaimana mereka selalu saling berteriak mengingatkan rekan ketika menghadapi bola mati lawan. Ini jadi pelajaran berharga buat kami,” ucap striker Valere Germain.

Namun, sejatinya bukan cuma soal kematangan dan kedewasaan saja Monaco harus belajar. Ada satu kelemahan tim akamsi Prancis itu yang selalu dimanfaatkan oleh “La Vecchia Signora“.

Dalam pertandingan dua leg, Monaco selalu melakukan pressing yang cukup tinggi ke lini pertahanan Juve. Selama 20 menit pertama, Juve terlihat kewalahan. Permainan seolah dikuasai Monaco.

Tapi Juve tetap tenang, menunggu kesempatan melakukan serangan satu pukulan ala Pak Guru Chinmi di komik Kungfu Boy. Juve sengaja membiarkan Monaco menguasai bola sambil menunggu kelengahan mereka.

Akhirnya kesempatan itu datang juga, sekitar menit ke-29 pada leg pertama Gonzalo Higuain mencetak gol melalui skema serangan yang sangat cantik sekali, secantik Raline Shah di film 5 Cm.

Pada leg kedua juga begitu. Monaco mulai kendor kayak tali kolor yang jarang dipakai. Memasuki menit 20-an, Radamel Falcao dan kawan-kawan lengah dan dimanfaatkan dengan baik oleh Juve untuk menembus pertahanannya.

Beruntung Monaco punya kiper bernama Danijel Subasic. Kalau tidak punya kiper mereka pasti kebobolan banyak gol.

Kiper asal Kroasia itu berulang kali melakukan penyelamatan gemilang. Tercatat ada tiga sampai empat peluang para pemain Juve berhadapan satu lawan satu dengan Subasi, menandakan lenggangnya pertahanan Monaco macam jalanan ibukota pas musim lebaran.

Tapi sekuat-kuatnya Subasic jadi kiper pasti bakal kebobolan juga. Pada menit ke-33 (hanya beda tiga menit dari leg pertama), Juve kembali melakukan skema serangan indah.

Berawal dari Gianluigi Buffon diberikan kepada Alex Sandro, sampai tiba di Dani Alves yang memberikan umpan membelah lautan kepada Mario Mandzukic. Selanjutnya, tamatlah riwayat timnya Leonardo Jardim yang wajahnya mirip Arjen Robben itu.

Dari dua gol pada menit ke-30-an tersebut terlihat jelas bahwa hasil pressing Monaco cuma kuat bertahan sekitar 25 menitan saja. Selanjutnya mereka lengah.

Daya konsentrasi menurun karena memang masih belum pengalaman menghadapi intensitas pertandingan macam ini. Mungkin juga karena kurang minum Aqua. Itulah yang membedakan mereka dengan Juventus atau tim berkelas lainnya seperti Barcelona dan Real Madrid.

Menghadapi tim seperti Juventus berbeda dengan Manchester City dan Borussia Dortmund. Jika City dan Dortmund berisikan pemain-pemain muda seperti layaknya Monaco, maka fisik dan kecepatan lah yang jadi andalan.

Beda dengan Juve, yang sebagian besar dihuni orang tua yang lebih tenang. Tidak terburu-buru dalam merebut bola dan melepaskan umpan. Banyak men-delay permainan sebelum memberikan umpan pada waktu yang tepat.

Orang tua memang mungkin kurang unggul dari segi fisik. Tapi ketenangan, kematangan, serta pengalaman dalam menjalani hidup yang bisa bikin mereka unggul dari anak-anak muda yang cenderung labil, semaunya sendiri, kadang urakan, mirip Awkarin.

“Juventus sangat berbeda dari City dan Dortmund. Dua tim sebelumnya hanya fokus pada serangan tetapi tidak fokus pada pertahanan,” ucap Jardim setelah pertandingan leg pertama.

Begitulah Juventus. Tepatnya pelatih Massimilliano Allegri yang begitu jenius dalam menerapkan permainan timnya. Dia tahu bagaimana memanfaatkan kelebihan para pemain yang memang kokoh di belakang, tapi mematikan di depan.

Skema pertahanan ala Italia, dicampur sari dengan kecepatan duo wingback Brasil, sampai lini depan Argentina yang luar biasa. Hasilnya begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.

Main photo credit: Gool24net


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here