Timnas Prancis sukses mendulang poin penuh saat melakoni laga pembuka Piala Dunia 2018. Bermain di lapangan yang berwarna hijau tapi warnanya enggak terlalu mulus macam karpet tahlilan, “Les Blues” mengalahkan Australia dengan skor biasa-biasa saja, 2-1.

Jelas biasa saja, kalau luar biasa itu skornya 10-4, 12-8, 18-16. Menontonnya juga pasti enak, banyak golnya. Nonton bola pasti yang dilihat itu golnya, bukan gawangnya saja.

Prancis memang cukup kesulitan pada laga pembuka yang ternyata berlangsung cukup terik. Atap Stadion Kazan Arena sampai punya bayangan di lapangan, menandakan kalau dia bukanlah makhluk halus.

Beberapa peluang Prancis yang digalang Kylian Mbappe dan kawan-kawan masih bisa dimentahkan oleh kiper Mathew Ryan yang tampil cukup resik siang itu. Tidak berantakan macam kasur anak kosan.

Kiper Prancis juga tak mau kalah resik. Hugo Lloris membuat penyelamatan gemilang yang tak disangka-sangka. Sebuah tendangan bebas Aaron Mooy yang disingkat jadi “Amoy” itu mampu disundul oleh rambut tipis Matthew Leckie.

Namun, Lloris melakukan sebuah tepisan yang luar biasa yang belum bisa dilakukan oleh pelatihnya. Memang rada aneh, masak pelatihnya bernama Didier Deschamps kalah sama anak buahnya.

Di babak kedua, Prancis mencoba mengubah skor yang tadinya 0-0 menjadi 1-0. Sampai akhirnya mereka perlu bantuan wasit untuk mencetak gol. Bagaimana tak dibantu, wasit memberikan keputusan penalti kepada Prancis. Padahal memang jelas itu pelanggaran. Bayangkan kalau wasit tak mau bantu kasih penalti, pasti skornya belum tentu segitu.

Joshua Risdon diam-diam menekel Antoine Griezmann dari belakang yang sudah sedikit lagi lepas dari penjagaan. Wasit Andres Cunha tak lantas menunjuk titik putih. Dia perlu minta bantuan VAR lagi untuk kasih keputusan penalti. Jadinya kocak, Prancis dibantu wasit, ternyata wasitnya minta bantuan kepada VAR.

 

Griezmann mengambil sendiri tendangan tersebut, tak menyia-nyiakannya. Kiper Ryan tak bergerak sama sekali. Minimal formalitas gerak badan pun tidak. Tampak malas sekali macam pelajar baru lulus UN.

Beruntung wasit maha adil. Dia tak mau bantu Prancis saja, tapi juga Australia. Mungkin kalau cuma satu saja merasa tak nyaman hidupnya. Kepikiran terus.

Cunha juga memberikan tendangan penalti buat Australia setelah Samuel Umtiti katanya menyentuh bola pakai tangan, sok-sokan mau main voli. Mile Jedinak dengan enak bikin gol dari penalti.

Saat sedang frustrasi tak bisa bikin gol lagi, keberuntungan menghinggapi negara Napoleon. Prancis sepertinya harus berterima kasih lagi kepada teknologi, kalau perlu mengiriminya parsel apalagi masih dalam suasana lebaran.

 

Setelah VAR membantunya kasih penalti, kini teknologi Goal Line Technology atau teknologi garis gawang yang membantu mereka. Sebuah skema kerja sama Paul Pogba dengan entah siapa, menghasilkan tendangan cocor dari Pogba sehingga menghasilkan bola parabola.

Bola lalu mengenai tiang dan memantul ke dalam. Andai tak ada teknologi garis gawang, gol itu tak akan terjadi macam golnya Frank Lampard ke gawang Jerman pada Piala Dunia 2010.

Pogba sendiri tak menyangka bola sudah masuk ke gawang. Dia tak selebrasi, malah menunjukkan ekspresi kecewa. Tapi setelah wasit melihat pengumuman di jam tangannya yang tak bergambar Micky Mouse, wasit berkata “Gol” dan menunjuk titik putih.

Prancis lalu memenangkan laga ini seperti skor yang sudah disebutkan tadi. Tak mungkin lah artikel ini dapat mengubah skor.

Deschamps mengaku puas bisa meraih tiga poin. Maklum, main di laga pertama bagaikan tiduran di rel kereta. Kelihatannya mudah, tapi butuh konsentrasi tinggi.

“Itu tak mudah. Tetapi memenangkan laga pertama sangatlah penting. Australia memberikan kami kesulitan. Kami beruntung punya Paul Pogba, pemain yang luar biasa yang mampu mengubah keadaan,” kata Deschamps.

https://twitter.com/TrollFootball/status/1007953101964349440

Main photo: @Football_Tweet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here