Prancis untuk ketiga kalinya dalam enam edisi terakhir sukses melangkah ke final Piala Dunia. Kepastian itu mereka dapatkan bukan dari pengumuman SBMPTN di koran, melainkan dengan mengalahkan Belgia hanya dengan skor tipis saja 1-0, tak usah banyak-banyak.

Memang kalau bikin gol banyak-banyak tak pengaruh juga. Namanya sistem gugur, menang satu atau 30 sama-sama menang. Bedanya cuma mengumpulkan gol saja buat top skorer. Lumayan biasanya hadiah top skorer Rp 500 ribuan kalau di tarkam-tarkam.

Baik Prancis dan Belgia sama-sama diunggulkan pada laga ini. Keduanya memiliki dream team atau golden generation-nya masing-masing. Sebagian besar bermain di Liga Primer yang katanya liga nomor satu di dunia itu, padahal enggak.

Belgia tampil menekan sejak menit awal di pertandingan ini. Mumpung belum ditekan, makanya mereka menekan duluan. Ibarat kata senggolan di jalan, mending gas duluan daripada digas balik.

Beberapa peluang tercipta salah satunya peluang lewat tendangan asal-asalan dari Toby Alderweireld yang memanfaatkan situasi tendangan sudut. Namun tendangan cuek yang dilepaskannya tak dicueki oleh Hugo Lloris. Dia menepisnya begitu menantang.

Eden Hazard dan kawan-kawan cukup kesulitan menembus pertahanan Prancis yang digalang si ganteng Samuel Umtiti dan Raphael Varane. Beberapa kali operan-operan tajam depan gawang mampu dipotongnya tanpa menggunakan cutter tukang fotokopian.

Prancis juga bukannya diem-diem bae sambil minum kopi. Tim berkostum biru mendung itu membuat sebuah peluang melalui Benjamin Pavard yang wajahnya jauh sekali dari Benjamin Button sewaktu bocah. Umpan cerdas dari Kylian Mbappe dimanfaatkannya  untuk ditendang tapi masih bisa ditepis pakai kaki panjang Thibaut Courtois.

Di babak kedua, giliran “Les Bleus” yang mencoba peruntungan dengan menguasai laga. Hasilnya terbilang luar biasa. Berbagai pergerakan mampu membahayakan pertahanan Belgia sampai akhirnya tercipta tendangan sudut yang tak diinginkan kaum Belgia.

Tendangan sudut yang diambil Antoine Griezmann langsung disambar Samuel Umtiti bukan dengan mulutnya. Tapi dengan ujung kepalanya dan mampu membobol gawang Courtois tanpa mengenai hidung besarnya. Padahal kalau bisa ditepis dengan hidung lumayan juga, bisa dapat best saves versi Bolalob. 

Yang jelas Umtiti ini jangan coba-coba ditambahi huruf T di akhir namanya. Jadi enggak enak didengar. Mending lihat golnya saja yang lebih ganteng dibanding wajahnya kalau lagi dijelek-jelekin.

Bisa bikin gol jadi bikin pemain Prancis di atas angin meski belum diketahui bagaimana caranya menaiki angin. Mereka mencoba membuat gol lagi lewat sebuah skema kerja sama apik antara Mbappe dan Giroud.

Umpan cerdas debat Pilkada diperagakan Mbappe tanpa melihat sasarannya melalui backheel. Giroud yang mendapat bola depan kotak penalti sempat kontrol sekali sebelum melepaskan tendangan. Sayang tendangannya dapat diblok Moussa Dembele.

Belgia pun berusaha sekuat tenaga buat menyamakan kedudukan. Tapi pertahanan Prancis ini benar-benar kuat. Sekuat getaran di dada saat merasakan ada gebetan di sekitaran.

Beragam cara dilakukan mulai dari sundulan Marouane Fellaini sampai tendangan Axel Witsel dari luar kotak penalti yang masih ditepis Lloris. Masih ada satu cara lagi untuk memenangkan laga yakni meng-load lagi permainannya di tombol Start.

Skor akhirnya tetap 1-0 sampai habis. Belgia sudah pasti enggak bisa juara Piala Dunia 2018, wong ke final saja enggak bisa.

https://twitter.com/ogbeni_opa/status/1016770525471887361

Jelas ini merupakan kekecewaan yang amat sangat mendalam bagi Belgia. Dengan skuat yang mumpuni, mereka masih harus bersabar bisa menyaingi tim-tim kuat langganan Piala Dunia untuk bisa mengangkat piala tersebut.

“Memang itu adalah pertandingan yang ketat. Perbedaan antara kekalahan dan kemenangan hanyalah pada satu situasi bola mati. Kekecewaan yang sangat besar, ruang ganti yang sangat memilukan saat ini. Satu-satunya momen kebahagiaan berikutnya adalah memenangi posisi ketiga yang tak pernah didapatkan Belgia,” kata Martinez.

Sedangkan pelatih Prancis, Didier Deschamps, memuji mental juara skuat asuhannya. Ini kedua kalinya mereka masuk final dalam dua tahun. Sebelumnya timnas Prancis masuk final Piala Eropa 2016 dengan skuat yang hampir sama. Kipernya pun juga masih sama, jumlah gawang yang dipakai bertahan juga sama.

“Itu luar biasa. Saya sangat senang dengan para pemain, kami menunjukkan karakter dan mental yang bagus. Pertandingan itu sangat sulit bagi kami. Kami bekerja sangat keras,” katanya dikutip dari Reuters yang dikutip lagi dari CNN Indonesia. 

https://twitter.com/TrollFootball/status/1016776620479254528

Main photo: Squawka

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here