Oleh: Febrian Wahyu

Sebuah berita yang datangnya dari kota nan jauh di sana bernama Paris tanpa Van Java. Dua pesepak bola dunia bergaji ratusan miliar tapi kok rebutan bola. Macam anak SD saja.

Adalah Edinson Cavani dan Neymar yang tertangkap kamera sedang berebut bola saat akan mengambil tendangan bebas dan tendangan pinalti. Meskipun sesama pendatang, Cavani yang merasa lebih senior di PSG tetap getol mempertahankan bola yang dipegangnya meskipun Neymar sudah memohon untuk memintanya.

Daniel Alves pun ikut-ikutan dalam prahara rebutan bola ini. Merasa satu kampung dengan Neymar, Alves pun membantu mengambilkan bola dari Cavani. Begitulah cerita singkatnya, yang videonya bisa Anda lihat sendiri di Youtube.

Neymar mungkin tak menyangka kalau ternyata di PSG masih ada singa lain yang juga merasa lebih besar dari dirinya. Jika alasan dari Barcelona gara-gara selalu di bawah sinar Lionel Messi, ternyata dia belum tentu lebih bersinar juga dari Cavani.

https://twitter.com/goal/status/909526120344772608

Risiko Pindah Ke Klub yang Sedang Membangun

Berkaca pada artikel sebelumnya tentang “4 Tips Menaikkan Gaji ala Pemain Sepakbola”, yang ada baiknya dibaca lagi sebelum nanti keluar dalam test ujian CPNS yang lagi heboh, terdapat empat buat tips untuk menaikkan gaji.

BACA INI JUGA DONG: 4 Tips Menaikkan Gaji Ala Pemain Bola 

Empat tips tersebut adalah pindah ke klub besar, pindah ke klub rival, pindah ke klub yang sedang membangun, dan mengancam pindah kalau gaji tak dinaikkan.

Pada tips ketiga, pindah ke klub yang sedang membangun memang berpotensi mendatangkan uang yang berlimpah. Namun bukan berarti tanpa masalah. Jelas berbeda dengan slogannya Pegadaian, “Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”.

Pertama, kemungkinan ada penolakan dari pemain lama karena dalam sepak bola besaran nilai transfer dan gaji bukan lagi menjadi hal rahasia. Data dan informasinya bisa ditampikan di berbagai media. Hal itu bisa mengundang jealous, masa ada anak baru yang gajinya sudah langsung gede saja.

https://twitter.com/Kellysettings/status/909994157753667585

Kedua, yang namanya klub sedang membangun bisa jadi semennya belum kering banget, artinya fondasi belum kokoh. Apalagi, PSG bisa dibilang sebagai klub rada instan. Membangunnya melalui uang untuk mendatangkan pemain tenar. Bukan dibangun dari jangka waktu bertahun-tahun serta pembinaan pemain usia muda.

Tidak hanya itu, pembagian kerja juga seringkali masih kurang jelas untuk tiap-tiap posisi. Manajer belum menentukan dengan tegas siapa yang kebagian jadi penendang penalti, penendang bebas, penendang corner kick dsb. Asal jangan penendang muka wasit. Bisa berabe.

Yang ada hanya pembagian tugas pemain dan kiper saja mungkin. Makanya wajar pemain berkelas dunia pun masih saja rebutan bola karena pembagian kerjaan yang belum jelas.

Hal itu diakui oleh pelatih Unai Emery yang sebenarnya sudah menunjuk Cavani sebagai penendang utama. Tapi boleh diberikan kepada Neymar sesuai kesepakatan di lapangan. Namun masih belum ada ketegasan secara jelas dari sang pelatih.

“Penalti akan diserahkan kepada beberapa pemain saja, yang utama adalah Cavani, lainnya Neymar. Maka dari itu, dibutuhkan sikap gentleman dari keduanya mengenai siapa yang akan melakukan eksekusi. Jika tidak ada keputusan, saya yang akan menentukan,” ucapnya.

Ketiga, banyak orang yang berlomba-lomba mencari muka dan unjuk kebolehan agar pantatnya tak menempel terus di bangku cadangan. Kedatangan pemain-pemain andal, gesit, dan irit dari berbagi penjuru dunia tentu saja membuat pemain lama harus memutar kepala untuk tetap menjadi pilihan utama pelatih.

Mereka akan pamer keahlian tendangan pisang dan tanpa amnesti, sundulan Garuda Pancasila, gocekan kelok sembilan dan apa saja yang bisa membuatnya dilirik oleh pelatih.

Belum lagi kalau mereka telah berubah jadi klub bertabur bintang. Malah tingkat egonya bukan atas nama tim, tapi sudah masing-masing. Seolah merasa paling jago sendiri.

Seperti yang terjadi pada Real Madrid selama 10 tahunan (2003-2013) di mana mereka selalu gagal menjadi juara Liga Champions padahal punya pemain bertabur intan permata.

Peranan Manajer

Unai Emery pelatih yang berasal dari Spanyol, dituntut untuk dapat segera merumuskan pembagian kerja untuk para pemainnya agar prahara rebutan bola ini tidak menjadi konflik yang berkepanjangan.

Sebagai langkah pertama, dapat diawali dengan seleksi terbuka saat latihan untuk melihat siapa-siapa saja yang mempunyai tendangan bebas terbaik, tendangan penalti terbaik, lemparan ke dalam terbaik, dsb. Jangan mau kalah dengan seleksi CPNS.

Pelatih juga dapat membuat program one match-one ball, yang mana tiap-tiap pemain akan mendapatkan bola masing-masing sebelum pertandingan dengan harapan saat bertanding nanti tidak ada lagi pemain yang masih rebutan bola. Adil merata. Sekian.

Tentu langkah-langkah ini hanya saran semata dan para pelatih kelas dunia pasti tahu hal itu. Tapi siapa tahu saja Emery lupa dengan beberapa hal di atas, lalu tulisan ini bisa mengingatkannya. Sekian.

Main photo: Business Monkey News


Febri 2Febrian Wahyu H. 

Penulis adalah staf HRD penggemar bola lulusan Sastra Korea tapi anti-boyband

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here