Tak jarang, pola rumput di lapangan menarik perhatian kita yang menonton sepak bola dari layar kaca. Pola bergaris yang dibuat di rumput lapangan membuat pertandingan semakin enak dilihat. Namun bagaimana sebetulnya motif tersebut dibentuk? Apakah menggunakan jin macam bengkel ketok magic?

Memang kalau melihat lapangan yang rumputnya hanya hijau polos saja tidak enak. Seperti Indomie saja. Lebih enak yang banyak tambahan bahan-bahan makanan dibanding yang polos. Sebenarnya Indomie polos sudah cukup enak, asal jangan lupa dimasukkan bumbunya. Tapi lebih enak lagi ada topping-nya.

Kalau tambahkan telur, tambahkan bawang goreng, tambahkan cabai rawit, lalu nasi goreng, ayam KFC, sate ayam, dan rendang. Sudah pasti jadi makin enak itu Indomie.

Lapangan pun begitu, semakin bagus dan jelas terlihat kontras antar garis-garis tersebut, maka makin bagus dilihatnya.

Terkadang ada yang bentuk garis-garis biasa. Ada yang menjadi kotak-kotak kecil. Ada juga yang diagonal dan lain-lain yang unik. Tapi sejauh ini belum ada yang bisa membentuk motif dengan kearifan lokal Indonesia yaitu batik. Kalau ada lapangan stadion yang seperti itu, sudah pasti bagus sekali.

The King Power Stadium 
Photo: Telegraph

Kalau zaman main Winning Eleven dulu, paling unik memang stadion Olimpico Roma yang dijuluki sebagai stadion “obat nyamuk” karena motif spiral dari rumput lapangannya. Ada juga lapangan yang mirip ladang jagung karena bergaris-garis, bukan kotak-kotak.

Di Indonesia, bahkan ada yang mempolanya jadi lambang klub. Luar biasa, memang kreatif sekali masyarakat di negara berkembang ini.

Motif-motif tersebut, ternyata tidak tumbuh dengan asal-asalan. Bukan karena ‘rumput jenis luar negeri’ makanya tumbuh dan membentuk pola seperti, tapi memang disengaja dan ada campur tangan manusia.

Beberapa hoax di tongkrongan pasti ada saja yang mengatakan bahwa rumput tersebut diatur tinggi dan ketebalannya. Tapi hal tersebut salah karena yang membuat rumput terlihat memiliki pola adalah pengaturan arah rumput.

Kalau rumput memiliki tinggi yang berbeda, akan berbahaya dan memengaruhi laju bola. Apalagi kalau tinggi rumputnya sampai macam alang-alang liar.

Jadi rumput lapangan dibuat untuk mengarah ke satu sisi dan sisi lainnya. Beda arah rumput ini berdampak kepada refleksi cahaya dari rumput tersebut yang kemudian membuat rumput terlihat memiliki pola. Kurang lebih dengan ilustrasi seperti di bawah ini yang diambil dari scag.com.

Selain bagus untuk dilihat dan memiliki nilai estetis, ternyata pola rumput tersebut, terutama yang bergaris kotak-kotak, memiliki fungsi lainnya.

Secara tidak langsung, pola bergaris pada rumput lapangan akan membuat hakim garis semakin mudah untuk menentukan posisi offside. Garis panjang yang membelah lapangan membuat hakim garis memiliki patokan untuk melihat posisi para pemain.

Makanya, belakangan sudah jarang ada stadion yang menggunakan pola lingkaran. Bahkan beberapa negara sudah melarangnya menggunakan rumput berpola selain kotak-kotak, termasuk negara di bawah UEFA.

Pitch patterns and designs will no longer be allowed in the Premier League in 2017/18. Rules state that the playing surface must contain no markings other than the traditional horizontal and white lines.”

This amendment brings the Premier League Rules into line with UEFA’s regulations for its competitions and follows consultation with the Premier League Club groundsmen,” begitulah penyataan resmi website Liga Primer musim lalu.

Jadi seperti itu lah kurang lebih guna dari pola bergaris pada rumput di lapangan. Tak hanya untuk gayaa-gayaan, tapi juga membantu wasit untuk mengambil keputusan.

Main photo: stadium.db

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here