Oleh: Harry Hardian

Kedatangan Michael Kojo Essien ke Persib Bandung, menjadi buah bibir di lini media massa Indonesia. Entah bibirnya siapa, kalau Pevita Pearce boleh juga. Baik di Twitter, Facebook, Instagram dan bahkan meme kocak tentang Essien pun banyak beredar.

Pada saat bersamaan, klub ibukota merilis manajemen baru yang akan mengendalikan tim “Macan Kemayoran”. Apalagi, Persija Jakarta mempunyai utang sebesar Rp 90 miliar, yang bisa traktir makan kerak telor se-Jakarta. Ibarat bumi dan langit itulah yang bisa digambarkan mengenai kedua rival tersebut.

Memang akhir-akhir ini, kita melihat bahwa Persija sedang berada di titik nadir. Sebagai tim dari kota metropolitan dengan pusat perputaran uang yang cukup besar, di mana perusahaan besar nasional dan asing berada di Jakarta. Tidak seharusnya mengalami nasib seperti itu, tapi mengapa itu bisa terjadi? Mari kita simak beberapa hal yang tidak penting-penting amat itu.

Tidak Ada Jaminan Bermain di Jakarta

Sepakbola tanpa suporter ibarat sayur tanpa garam. Ibarat film AADC tanpa Dian Sastro dan Nicolas Saputra. Seringkali Persija bermain kandang tapi malah lebih berasa bermain di kandang lawan.

Tidak adanya suporter yang mendukung membuat Persija tampil kurang trengginas. Lebih jauh, suporter merupakan sumber pemasukan bagi persija, semakin banyak penonton maka semakin banyak pemasukan dari tiket pertandingan. Logikanya begitu.

Selain itu, sponsor pun akan masuk ketika Persija mampu mendatangkan banyak penonton ke stadion.  Nyatanya sulit terwujud, jika klub yang identik dengan warna oranye kayak seragam petugas kebersihan itu tidak bermain di Jakarta, menjadi pertimbangan sponsor tidak menggelontorkan dananya.

Ibarat pepatah besar pasak daripada tiang, cost yang besar tanpa diimbangi pemasukan yang seimbang, menjadikan Persija menangguk hutang yang menggunung, apalagi gunungnya ini Gunung Semeru yang ada di Jawa Timur. Maklum, di Jakarta tak ada gunung secara harfiah. Adanya gunung dalam tanda petik.

Bermain di luar Jakarta, sepertinya banyak memberikan mudharatnya dibandingkan manfaatnya. Hal ini lah yang  ingin dilakukan oleh direktur utama baru Persija, Gede Widiade. “Minimal kita kembalikan rumahnya di Jakarta, stadionnya di Jakarta, latihannya di Jakarta,” ucapnya, bersemangat.

Hasil gambar untuk gede widiade
Ini dia Gede Widiade yang jadi harapan baru Persija. (Source: Jawa Pos)

Kurangnya Sinergi dengan Pemda

Selepas Sutiyoso tidak memegang jabatan sebagai ketua umum, secara perlahan prestasi Persija mulai menurun. Ini hanya salah satu faktor, bahwa koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) menjadi penting, sebab hampir stadion di Indonesia merupakan milik Pemda.

Dukungan Pemda sangat penting dan tidak dapat dipisahkan. Berhubung lapangan yang ada di Indonesia merupakan milik Pemda, penyelenggaraan pertandingan pun harus mendapatkan izin Pemda. Itu mengapa, pada zaman Sutiyoso dapat dikatakan Persija tidak pernah main di luar daerah.

Ketika Stadion Lebak Bulus digusur, otomatis Persija tidak mempunyai cadangan stadion. Gelora Bung Karno pun pernah didapuk menjadi stadion utama Persija, tetapi pada akhirnya sulit dijadikan pegangan sebagai kandang karena seringkali digunakan hal-hal lain. Tidak adanya stadion pengganti lain, memaksa Persija bermain di luar Jakarta.

Sempat tersiar kabar bahwa Pemda Jakarta akan membeli saham Persija dan akan membuatkan stadion baru di wilayah utara Jakarta. Namun hal itu urung terjadi, utang yang menggunung menggagalkan rencana Pemda membeli saham Persija. Stadion yang direncanakan akan dibangun menguap begitu saja, kayak kakek-kakek lagi mengantuk kebanyakan begadang.

Suporter yang Sering Berulah

Penduduk Jakarta itu seperti gado-gado, berbagai etnis dan suku budaya berada di ibukota. Tinggal gado-gadonya itu karetnya satu atau dua. Kalau dua biasanya pedas.

Tidak ada ikatan yang kuat antar sesama pendukung. Lebih kepada atas nama satu wilayah tempat tinggal dan sarana mengeluarkan ekspresi saja. Maka tidak jarang, sering terjadi gesekan antar sesama pendukung Persija.

Pendukung Persija merupakan aset besar untuk menarik sponsor hadir. Namun sangat disayangkan, ulah yang dilakukan para suporter merugikan klubnya sendiri, sponsor enggan atau ragu memberikan dananya.

Kalau kita melihat Persib dan Arema FC, kesatuan entitas yang sama memudahkan untuk mengkoordinir dan mengedukasi. Sedari kecil sudah dididik orang tua (suporter klub) untuk mencintai klubnya datang stadion.

Klub juga dijadikan sebagai identitas kedaerahan, menjadi alat untuk menunjukkan persatuan dan sebagai perjuangan mereka menyuarakan eksistensi daerah. Sehingga para suporter mempunyai rasa memiliki dan mencintai yang besar terhadap suatu klub.

Harapan Akan Selalu Ada

Ketika Persib sudah mampu mengorganisasi suporter dengan baik. Sponsor pun berdatangan, menjadikan Persib kuat dari segi finansial. Pembelian Essien bukan lagi sekadar prestasi, melainkan reputasi klub. Yang nantinya akan menaikkan posisi nilai tawar persib terhadap sponsor.

Kehadiran direktur baru Persija, Gede Widiade, merupakan momentum bagi Persija kembali disegani di kancah persepakbolaan nasional. Bersinergi dengan berbagai pihak terutama sponsor, Pemda, dan suporter, Liga 1 segera dimulai April mendatang, sudah seharusnya Persija bermain di Jakarta agar dapat memberikan pemasukan yang maksimal.

Harapan akan selalu ada. Apalagi dengan manajemen baru yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Persija. Memang, dalam olahraga tidak ada yang namanya instan kayak Indomie Goreng yang wanginya bikin melayang itu. Seperti pepatah mengatakan, jalan cepat bisa dilakukan sendiri, tapi kalau ingin jalan sampai titik terjauh haruslah dilakukan bersama.

Semoga saja ketika Persija di persimpangan jalan, tahu jalan yang benar. Agar prestasi kembali mampir di Ibukota.

Main photo credit: Radar Indo


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here